Seni Barongsai, Pemersatu Etnis dan Budaya di Kota Madiun

Di Posting Oleh madiuntoday

25 Januari 2020

MADIUN – Tahun Baru Imlek merupakan salah satu momen spesial bagi warga keturunan Tionghoa di seluruh dunia. Perayaan itupun tak lepas dari adanya pertunjukan seni Barongsai dan Liong. Yakni, tarian yang menggambarkan karakter singa dan naga.

Meski berasal dari China, pertunjukan ini juga diminati oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Tak sekadar sebagai hiburan semata. Tapi juga ditekuni sebagai sarana meningkatkan keterampilan khusus.

Fenomena inipun tampak di Kota Madiun. Yakni, dengan semakin banyak bermunculan pegiat seni Barongsai yang bukan keturunan Tionghoa. Eko Setyono, misalnya. Pria keturunan Jawa asli Kota Madiun itu telah mempelajari seni Barongsai sejak 20 tahun lalu. Bahkan, kini dia menjadi pelatih seni Barongsai di TITD Hwie Ing Kiong Kota Madiun.

Hal ini dilakoni Eko karena dirinya melihat keunikan dari seni Barongsai. Kesenian tidak bisa dimainkan sembarangan. Untuk bisa menari dengan kostum Barongsai, diperlukan penguasaan teknik dasar 1-2 tahun. Selain itu, seni Barongsai juga mengutamakan kesehatan para pemainnya. Sehingga, jauh dari hal-hal yang merusak kesehatan. Salah satunya, minum-minuman keras.

Memainkan kesenian dari etnis lain semakin membuat Eko paham terhadap indahnya perbedaan. Untuk itu, dia berupaya menghormati segala ketentuan di dalamnya. Termasuk ritual yang dilakukan sebelum tampil.

‘’Menjalankan ritual merupakan salah satu cara menghormati kesenian itu. Istilahnya, kami kulo nuwun agar pada saat perform bisa lancar. Tapi, untuk doa sebelum tampil tetap sesuai agama masing-masing,’’ terangnya.

Tak hanya Eko, murid-muridnya di grup Barongsai TITD Hwie Ing Kiong juga sebagian besar pribumi. Bahkan, tak sedikit murid perempuan yang berhijab. Hal inipun justru menjadi kebanggaan bagi mereka karena bisa menjadi contoh kerukunan dalam keberagaman budaya di Indonesia.

Hal inipun terbukti ketika mereka mendapatkan undangan tampil di Bojonegoro. Menurut Eko, pemerintah daerah setempat sampai terharu melihat grup yang tampil dari Kota Madiun. Bukan hanya karena profesionalitas para pemain. Tapi juga keberagaman yang ditampilkan. ‘’Menurut mereka Kota Madiun berhasil menjadi contoh kerukunan antarumat beragama dan etnis di dalamnya,’’ ungkap Eko.

Namun, dari waktu ke waktu Eko merasakan semakin sulitnya regenerasi untuk para pemain kesenian Barongsai. Dia pun berharap, generasi muda bisa lebih mencintai budaya. Sehingga, kesenian ini bisa tetap lestasi dan masih bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya. (WS Hendro/irs/madiuntoday)

Artikel Terkait

Don`t copy text!