Kunker ke Madiun, Kakanwil Kemenkumham Jatim Beri Pengarahan Pegawai Lapas

Di Posting Oleh madiuntoday

10 Februari 2020

MADIUN – Menjadi nahkoda baru di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur membuat Krismono langsung tancap gas menjajaki jabatan barunya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan kunjungan kerja.

Seperti yang dilakukannya pada Senin (10/2) di Lapas Kelas I Madiun. Dalam kunjungan tersebut, Krismono memimpin apel pegawai dan memberikan arahan kepada pegawai jajaran pemasyarakatan. Khususnya, dalam pembangunan Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Corporate University (Corpu).

Menurut Krismono, perlu ada program kreatif dan inovatif untuk meraih WBK. Dia meminta agar UPT yang menuju WBK tidak perlu malu-malu mencontoh satker lain yang sudah baik. “Bentuk tim kreatif, untuk membuat program-program kreatif. Setiap hari harus diskusi program,” ujarnya.

Lebih lanjut, Krismono menjelaskan, WBK bukan tanggung jawab pimpinan saja. Tetapi seluruh pegawai harus tergerak. Selain itu, pihaknya juga menekankan pentingnya pengawasan dan pengendalian. Serta, tidak menghindari pengaduan. Justru, harus segera ditindaklanjuti sebagai langkah evaluasi.

Krismono pun menambahkan agar seluruh pegawai melakukan peningkatan kapasitas berbasis corpu. Dengan demikian, pembinaan tidak lagi dilakukan dengan metode klasikal. Namun, juga bisa melalui program coaching and mentoring dari senior ke junior, maupun sebaliknya.

“Jangan sampai melakukan penyimpangan kinerja, saya tidak segan mencopot pegawai yang melakukan penyimpangan,” tegasnya.

Ketua Dharma Wanita Pengayoman Jatim Terkesan Hasil Kerajinan WBP Perempuan

Sementara itu, kunjungan kerja ke Madiun juga dimanfaatkan Ketua Dharma Wanita Pengayoman Jatim Yayuk Krismono untuk menengok pembinaan WBP Perempuan di Lapas Kelas I Madiun. Dalam kesempatan tersebut, Yayuk mengapresiasi pembinaan yang dilakukan pihak lapas.

Yayuk ditemani Elfrida Thurman yang merupakan ketua Dharma Wanita Pengayoman Korwil Madiun. Keduanya menengok kondisi Blok Anggrek di Lapas Kelas I Madiun yang dihuni 25 WBP Perempuan yang sedang membuat kerajinan tangan dan mengaji.

Yayuk sangat terkesan dengan hasil karya berupa tas rajutan. Pasalnya, hasil karya WBP itu memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Untuk ukuran kecil, harganya bisa mencapai Rp 200.000. “Ini luar biasa, harus didukung terus dan didorong agar lebih produktif lagi,” tuturnya.

Bahkan, Yayuk meminta pihak lapas untuk menggandeng pihak eksternal agar bisa memasarkan produk hasil karya WBP. “Kalau di dalam lapas hanya melamun, satu hari akan serasa setahun, tapi kalau diisi dengan kegiatan, setahun bisa serasa sehari,” tandasnya. (istimewa/irs/madiuntoday)

Artikel Terkait

Test Bela Diri

Test Bela Diri

Puluhan anggota polisi mengikuti test bela diri Polri di Halaman Polres Madiun Kota, Rabu (30/09/2020). Tes yang dilaksanakan 2x dalam setahun ini bertujuan untuk...

Don`t copy text!