Ubah Limbah Jadi Rupiah, Herlin Sukses Wakili Kota Madiun Hingga ke Belanda

Di Posting Oleh madiuntoday

19 Februari 2020

MADIUN – Dari limbah berbuah rupiah. Kalimat itu seperti sudah menjadi pegangan hidup Herlin Susilowati. Barang-barang sisa di sekitarnya berubah jadi bernilai ekonomis di tangan dingin ibu satu anak itu. Menariknya, dia tidak memiliki tubuh yang sempurna. Kendati harus dari atas kursi roda, warga Jalan Imam Bonjol gang Jati Jajar Kelurahan Klegen itu mampu memproduksi aneka kerajinan berbahan dasar limbah.

Herlin tampak sibuk kala ditemui, Selasa (19/2) kemarin. Berbekal palu dari kayu dan tatah kecil, kedua tangannya lihai memahat tumpukan kertas bekas. Kertas bekas susu itu sudah terlebih dahulu ditempeli pola karakter wayang. Dia memang tengah membuat kerajinan miniatur wayang berbahan kertas siang itu.

‘’Ada pesanan untuk mengisi di carrefour,’’ jawab Herlin kalem.

Wayang mini made in Herlin memang sudah tembus hingga supermarket. Setidaknya, dia harus mengirimkan 24 lusin untuk satu kota setiap bulannya. Saat ini, dia sudah melayani 11 kota dan kabupaten. Artinya, dia wajib membuat 264 lusin. Hanya, dia mengaku tak sengoyo itu. Wayang mini dikerjakan semampunya. Apalagi, kedua kakinya lumpuh. Harus dibantu kursi roda. Herlin juga harus mengurus suami dan anak.

‘’Saya batasi. Sehari paling 20 – 30 buah. Tapi kalau pas ada pesanan mendadak ya bisa lebih banyak lagi,’’ katanya sembari menyebut wayang mininya dijual Rp 5 ribu perbuah.

Herlin memang serba bisa. Apapun, bisa menjadi barang bernilai jual di tangannya. Dia juga membuat batik berbie, tas berbahan spanduk, bunga berbahan sabun batang, kalung, gantungan kunci, dan lain sebagainya. Herlin biasanya memadukan kertas dan kain perca sebagai bahannya. Kertas menjadi bahan dasar yang dibentuk sesuai tokoh yang diinginkan. Sedang, kain perca sebagai hiasannya. Dia juga menggunakan cat untuk pewarnaan.

‘’Pokoknya, bagaimana bahan-bahan sisa ini kita manfaatkan. Sayang kalau dibuang begitu saja,’’ ungkap istri Didit itu.

Berjiwa Sosial

Herlin juga tak pelit berbagi. Dia sengaja mendirikan komunitas untuk berbagi ilmu dan rezeki. Komunitas diberi nama Karya Budaya. Anggotanya, tetangga sekitar. Menariknya, Herlin tak hanya berbagi ilmu. Tapi juga mendorong anggotanya memiliki barang brand tersendiri. Saat ini, anggotanya ada yang spesialis membuat kerajinan bunga sabun. Ada juga yang spesialis hiasan bunga. Namun, mereka tetap kompak tatkala ada pesanan besar. Siapapun yang dapat order, dikerjakan bersama.

‘’Dulu ada yang merusak pasar setelah bisa buat sendiri. Yang seperti itu terpaksa saya keluarkan dari komunitas,’’ ungkapnya.

Herlin memang berjiwa sosial tinggi. Dia bercita untuk mengenalkan wayang kepada generasi muda. Herlin lantas meminta suami untuk menawarkan edukasi wayang ke sekolah-sekolah. Tak dinyana, itu direspon baik pihak sekolah. Satu persatu pelajar datang untuk belajar tentang wayang. Dimulai dari anak PAUD hingga perguruan tinggi. Bahkan, tak jarang wisatawan asing yang datang. Mulai dari Amerika, Pakistan, dan lain sebagainya.

Bakat dari Sang Ayah

Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Bakat yang dimiliki Herlin secara tidak langsung diturunkan dari Sujito, ayahnya. Ayahnya merupakan perajin wayang kulit. Herlin yang mengalami kelumpuhan sejak usia 2 tahun itu memang lebih banyak di rumah. Tak heran, dia kerap bermain dengan wayang atau bahan-bahan pembuatan wayang milik ayahnya. Namun, dia baru mulai membuat kerajinan secara mandiri sejak SMP. Lagi-lagi, karena harus banyak istirahat di rumah. Penyakit yang diderita Herlin memang tidak hanya kelumpuhan. Dia juga mengidap skoliosis atau kelainan pada tulang belakang.

‘’Saya harus istirahat setahun setelah operasi pemasangan platina pada tulang belakang,’’ jelasnya.

Tak ingin hanya rebahan, Herlin sengaja menyibukkan diri dengan membuat sesuatu dari sisa kulit wayang buatan ayahnya. Kala itu, dia membuat gantungan kunci. Herlin sengaja memanfaatkan limbah sisa pembuatan wayang karena biasanya langsung dibakar. Padahal, bisa bernilai jual. Gantungan kunci pun jadi. Hasilnya juga lumayan. Kendala muncul untuk pemasarannya. Saat itu memang teknologi tak seperti sekarang.

‘’Saat kakak menikah, saya beranikan diri untuk membuatkan suvenirnya. Di kemasannya, saya tambahkan nomor telepon. Alhamdulillah, ada yang memesan setelah itu,’’ cerita Herlin.

Perhatian Pemerintah

Herlin tentu tidak berjuang sendiri. Perhatian pemerintah setempat tak kalah penting. Setidaknya, Herlin sering diminta mengikuti pameran di berbagai daerah. Mulai Surabaya, Malang, dan Bangkalan. Bahkan, dirinya pernah diberangkatkan ke Belanda akhir 2019 lalu. Pemerintah memang konsen memfasilitasi pelaku UMKM di Kota Madiun. Mulai dari kredit murah di Bank Daerah, pembinaan dan pelatihan, serta promosi.

‘’Saya juga diminta untuk ikut inacraft tahun ini. Pastinya bangga dan senang karena bisa belajar dari perajin lain di tanah air,’’ pungkasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Don`t copy text!