Tempat Ibadah Tua Bukti Kerukunan Masyarakat Sejak Dulu Kala

Di Posting Oleh madiuntoday

24 Februari 2020

MADIUN – Wujud keberagaman masyarakat di tanah air juga ada di Kota Madiun. Setidaknya, terdapat 24 suku dan etnis yang tinggal di Kota Pendekar sampai saat ini. Di antaranya, suku Jawa, Minangkabau, Flores, Bali, Ambon, Nias, Palembang, Madura, Sunda, Karo, Makassar, Ternate, Dayak, Palu, Timor, Papua, Batak, Toba, Mentawai, dan Toraja. Selian itu, Kota Madiun juga dihuni etnis Arab dan Tionghoa. Pun, masyarakat yang majemuk ini hadir dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Kendati begitu, Kota Madiun tetap aman, nyaman, dan damai. Terbukti, dengan nyaris tidak adanya konflik yang berbau Sara di Kota Pecel.

Kondisi nyaman ini ternyata sudah terjadi sejak ratusan tahun silam. Itu dibuktikan dari bangunan-bangunan tempat ibadah yang sudah berusia ratusan tahun silam. Pun, beberapa di antaranya berlokasi cukup berdekat. Namun, tidak ada catatan sejarah yang menyatakan adanya konflik antar masyarakat berlatar belakang agama di Kota Madiun.

‘’Beberapa waktu lalu ada peniliti dari Perancis yang datang ke sini. Begitu melihat-lihat bangunan-bangunan tua, dia langsung bilang kalau kota ini kota yang aman dan damai sejak dulu,’’ kata Walikota Maidi.

Kerukunan, kata Walikota, memang menjadi modal besar pembangunan di Kota Madiun. Kota ini tidak akan bisa seperti sekarang tanpa masyarakatnya yang guyup rukun. Tak heran, jika pembangunan di Kota Madiun cukup pesat. Walikota menambahkan pengamatan ahli dari Perancis tersebut ada benarnya. Sebab, sudah ada masjid, klenteng, dan gereja sejak era 1.800 silam.

Masjid Kuncen tercatat sejak 1.575 silam. Sedang, Klenteng Hwie Ing Kiong diresmikan 1897 dan Gereja Santo Cornelius pada 1899. Artinya, terdapat masyarakat dengan kultur budaya dan Agama yang berbeda pada era tersebut. Kendati begitu, masyarakat cukup hidup berdampingan dan damai. Nyaris tidak ada konflik bernuansa Sara kala itu.

‘’Ini modal berharga. Harus terus dipertahankan dan kita jaga,’’ terangnya.

Walikota berharap ke depan harus semakin lebih baik kendati tantangan juga beragam. Seperti diketahui sudah ada 24 suku dan etnis yang tinggal di Kota Madiun. Perkembangan teknologi juga memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi. Sayangnya, banyak masyarakat yang menggunakan kemudahan informasi itu untuk mencari keuntungan pribadi maupun golongan. Karenanya, Walikota berharap agar masyarakat tidak mudah terpancing dan menjadikan kerukunan sebagai tujuan bersama untuk diwujudkan.

‘’Persatuan, kesatuan, dan kerukunan harus tetap yang utama. Yang membuat kota kita tidak rukun itu yang pertama akan kita tindak,’’ tegasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Sensus Penduduk Online Diperpanjang Hingga 29 Mei 2020

Sensus Penduduk Online Diperpanjang Hingga 29 Mei 2020

MADIUN – Sensus penduduk online yang sejatinya ditutup pada 31 Maret 2020 pukul 00:00 resmi diundur. Badan Pusat Statistik (BPS) memutuskan bahwa sensus penduduk online masih dapat diakses hingga 29 Mei 2020. Pengunduran penutupan SP online ini berdasarkan SK Kepala...

Don`t copy text!