Wakili Kota Madiun di Inacraft, Singgih Ingin Potensi Kerajinan Bambu Kian Dikenal

Di Posting Oleh madiuntoday

25 Februari 2020

MADIUN – Bambu menjadi barang yang tak terpisahkan dari Singgih Hermawan. Dari tanaman dari jenis rumput-rumputan berongga itu Singgih mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Berbagai kerajinan berbahan bambu pernah dibuat warga Jalan Mangga Kelurahan Kejuron Kota Madiun ini. Dia juga dipercaya Pemerintah Kota Madiun mengikuti International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2019 lalu.

‘’Tahun ini sebenarnya juga diminta untuk ikut lagi, tapi bingung apa yang mau dibawa,’’ kata Singgih saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

Kebingungan Singgih wajar. Sebab, tidak banyak kerajinan di rumah saat ini. Nyaris semuanya sudah laku terjual. Beberapa pesanan juga tak sanggup dia kerjakan. Maklum, hanya seorang diri mengerjakannya. Padahal, pesanan datang keroyokan. Terbanyak, untuk souvenir pernikahan. Kendati begitu, dia terbilang serba bisa. Terbukti dari beberapa barang kerajinan karyanya yang masih tersisa. Mulai tempat korek, miniatur kereta api, gelas, gantungan kunci, tempat pensil, dan lain sebagainya. Semuanya, berbahan bambu.

‘’Kalau buatnya detail ya bisa ratusan ribu sampai jutaan. Tapi yang kecil-kecil seperti gantungan kunci paling lima ribuan,’’ ujarnya.

Selain kerajinan bambu, dia juga perajin stik bambu. Bedanya, bambu sudah terlebih dahulu dibuat stik seperti bahan kurungan burung. Dari itu kemudian dipotong dan dibentuk menjadi barang kerajinan. Mulai kapal maupun kendaraan bermotor seperti vespa. Banyaknya permintaan bentuk-bentuk lain membuat Singgih terus mengasah keterampilannya.

‘’Kalau praktisnya, ya praktis dari stik bambu. Tetapi nanti jadinya monoton. Jadi mulai buat yang lain dari bambu yang utuh,’’ ungkapnya.

Pangsa Pasar

Kerajinan bambu ternyata menyimpan pangsa pasar yang cukup besar. Bukan hanya hasil kerajinannya. Tetapi juga produk lain seperti pengganti sedotan. Singgih menyebut tengah membidik pangsa pasar tersebut. Bukan hanya lokal. Tapi juga negara lain. Seperti Jepang. Informasinya, pengusaha restoran di Negeri Sakura itu meminta sedotan bambu minimal satu kontainer setiap bulannya. Hanya, persyaratannya cukup sulit lantaran meminta diameter sedotan harus sama.

‘’Ini yang sulit, karena ini kan urusannya dengan alam. Belum ada cara untuk membuat diameter lubangnya jadi sama,’’ ungkapnya.

Sedotan bambu, kata dia, bukan lantas diambil dari pohon kemudian dijadikan sedotan begitu saja. Tetapi ada proses di dalamnya. Salah satunya, menghilangkan bakteri dan lainnya. Singgih menyebut ada proses pemasakan dengan larutan herbal khusus. Singgih menyebut potensi bambu cukup luar biasa. Namun, masih banyak yang memanfaatkan hanya sekedarnya.

‘’Bambu kebanyakan hanya dibuat untuk kursi atau keranjang, ataupun kandang ternak. Padahal ada potensi luar biasa besar kalau kita bisa mengemasnya berbeda,’’ terang pria 37 tahun itu.

Akibat Kecelakaan

Singgih mengaku tidak bercita jadi perajin sebelumnya. Pun, dia pernah bekerja sebagai marketing dulunya. Sayang, karirnya terhenti setelah kecelakaan sekitar 2016 silam. Dia mengalami cidera cukup parah di bagian tangan. Dokter pun menyarankan banyak beraktifitas ringan untuk melatih pergelangan tangannya saat proses penyembuhan. Singgih memilih membuat sesuatu dari lingkungan sekitar rumahnya.

‘’Dulu ada kayu yang bentuknya unik. Saya kepikiran membuat tasbih dari kayu itu. Waktu itu juga untuk melatih tangan,’’ ceritanya sembari menyebut project tasbih itu pun gagal.

Singgih tak mudah menyerah. Beberapa potongan kayu di sekitarnya menjadi bahan percobaan setelah itu. Satu persatu karyanya mulai terlihat. Mulai hiasan rumah sampai souvenir. Singgih lantas beralih mencari bahan yang lebih mudah dibuat kerajinan hingga bertemu stik bambu tersebut.

‘’Apapun itu, saya percaya pasti ada jalan kalau kita mau berusaha,’’ pungkasnya. (agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Don`t copy text!