Suka Duka Belajar Di Rumah Dari Perspektif Siswa, Apa Kata Mereka?

Di Posting Oleh madiuntoday

7 Juli 2020

MADIUN- School From Home (SFH) atau belajar dari rumah menjadi kebiasaan baru yang diterapkan sejak awal terjadinya pandemi Covid-19. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus korona.

Lantaran baru pertama kali diterapkan secara serentak, kebijakan tersebut mau tak mau menjadi pengalaman baru yang dialami bagi guru, wali murid, tak terkecuali juga para siswa. Banyak suka duka yang dialami. Lantas, bagaimana pendapat para siswa selama menjalani belajar dari rumah? Berikut penuturan beberapa siswa yang ada di Kota Madiun.

Waktu Belajar Lebih Fleksibel
Beberapa siswa saat ditanyai apa yang menyenangkan saat harus belajar dari rumah, rata-rata dari mereka menjawab waktu belajar lebih fleksibel. Mereka tidak harus terpatok waktu masuk dan pulang sekolah yang sesuai jadwal.

“Waktu belajar lebih fleksibel. Kalau disekolah kita harus belajar mapel (mata pelajaran) tertentu di jam segini sampai segini dan tidak bisa disambi apa-apa. Tapi kalau dirumah kita bebas mau mengerjakan tugas kapan pokoknya selesai sesuai jadwal,” ujar Muhammad Ikhsan Effendi, siswa yang baru saja naik kelas 12 di salah satu SMA negeri Kota Madiun.

Meskipun waktu lebih fleksibel, di lain sisi, beberapa siswa lainnya juga mengeluhkan banyaknya tugas yang dibebankan membuat mereka keteteran membagi waktu, mana yang harus diselesaikan dahulu. Seperti pengakuan dari Hanun Aulia Yasmin, siswi kelas 12 itu mengatakan pembelajaran online melelahkan, meskipun tidak perlu keluar rumah untuk belajar melalui tatap muka.

“Tugasnya selalu bertumpuk, kami sebagai siswa bingung membagi waktu. Meskipun benar SFH tidak terpatok jadwal yang saklek,” ungkapnya.

Melek IT
Berbicara soal belajar di rumah, tentunya tak bisa lepas dari peranan teknologi yang menjembatani para siswa untuk terus mendapat asupan ilmu. Baik yang diberikan oleh guru maupun sumber belajar lainnya yang didapat dari internet.

Seperti yang diungkapkan siswa kelas 9 salah satu SMP negeri di Kota Madiun, Gayuh Mukti, dirinya mengatakan lewat pembelajaran daring, dia mengaku memiliki beragam pilihan sumber bacaan. “Jadi gak harus baca buku. Aku bisa nyari materi belajar, di website ini. Lebih menyenangkan sih daripada harus baca buku terus,” akunya.

Lain halnya dengan pengakuan Firda Kusumaningrum, siswi kelas 9 ini mengatakan pemberian tugas yang dikerjakan melalui google class atau google form membuatnya merasa tidak seformal belajar di sekolah. “Saya merasa belajar di rumah seperti tidak belajar, karena memang saya suka bertanya jadi kalau belajar virtual itu meminimalisir kesempatan saya untuk bertanya,”ucapnya.

Menyikapi hal tersebut, para akademisi berpendapat bahwa kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Peranan guru dan orangtua sangat penting dalam mendukung keberlangsungan belajar dari rumah agar berjalan dengan baik.

“Orang tua atau significant other bisa memberi afirmasi positif kepada siswa. Artinya, kalimat-kalimat sederhana yang membangkitkan semangat sangat penting untuk menaikkan mood anak saat belajar di rumah, jelas Dosen Prodi Bimbingan Konseling UNIPMA, Dr. Dahlia Novarianing Asri, M.Si.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, menciptkan lingkungan psikologis yang sehat dengan cara berempati dan mengajak siswa diskusi juga disarankan untuk meminimalisir stress dan kejenuhan pada anak.

Menutup pembahasan, Dahlia mengatakan, pembelajaran jarak jauh yang merupakan suatu kebiasaan baru yang mau tak mau harus dilakukan oleh siswa. Maka dari itu siswa diharap mampu mengoptimalkan sumber ilmu apapun yang dapat mengasah dan mendorong siswa untuk berpikir science.
(vincent/kus/madiuntoday)

Artikel Terkait

Sosialisasikan Peringatan HUT Kemerdekaan, Pemkot Gelar Forum Kehumasan

Sosialisasikan Peringatan HUT Kemerdekaan, Pemkot Gelar Forum Kehumasan

MADIUN – Ada yang berbeda dalam kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan kali ini. Tidak ada upacara Detik-detik Proklamasi di Alun-alun Kota Madiun. Upacara sakral itu hanya berlangsung di istana negara. Sedang, walikota dan Forpimda mengikuti secara virtual dari Kota...

Don`t copy text!