Mengenal Abdi Laras, Grup Karawitan Pemkot Madiun

Di Posting Oleh madiuntoday

22 Juli 2020

Jadi Pengrawit Pembuka Peringatan Hari Jadi, Pernah Tampil 4 Kali di TMII

MADIUN – Beberapa hari terakhir, halaman tengah Balai Kota diwarnai suara gending jawa. Suara itu bukan dari rekaman. Namun, dimainkan langsung dari sejumlah alat karawitan. Pemerintah Kota Madiun memang memiliki alat karawitan cukup lengkap. Pemainnya, juga dari Aparatur Sipil Negara (ASN) pemkot setempat.

Usut punya usut, seni karawitan di Pemkot Madiun bukan kali itu saja. Bahkan, sudah ada sejak 2006 silam. Namanya, Abdi Laras. Sesuai Namanya, grup karawitan tersebut beranggotakan ASN pemerintah daerah.

‘’Abdi itu kan pelayanan. ASN itu kan pelayanan masyarakat. Karenanya, kita namakan Abdi Laras,’’ Kata Ketua Sementara Abdi Laras Sidik Muktiaji, Rabu (22/7).

Ada sejarah panjang dibalik terbentuknya grup karawitan Abdi Laras tersebut. Grup itu dibentuk untuk memanfaatkan aset alat karawitan milik Pemkot Madiun. Pemkot Madiun memang punya alat karawitan komplit sebelumnya. Dibeli untuk ditempatkan di gedung Graha Bakti Praja (sekarang dimanfaatkan Pizza Hut dan Inul Vista). Gedung tersebut memang disewakan secara umum untuk pertemuan hingga acara pernikahan. Sengaja ditambahkan alat karawitan sebagai fasilitas di dalamnya.

‘’Jadi dulu kalau ada masyarakat yang menyewa gedung untuk acara pernikahan bisa sekalian memanfaatkan alat-alat karawitan itu. Bisa dibilang paket lengkap gedung dengan alat hiburannya,’’ terang Sidik yang juga Kabid Bidang Akuntansi dan Aset BPKAD Kota Madiun tersebut.

Gedung itu lantas disewa pihak ketiga. Karenanya, alat karawitan juga harus dipindahkan. Pada mulanya, alat dipindahkan ke salah satu ruang di Balai Kota. Alat memang tercatat sebagai aset Bagian Umum Setda Kota Madiun. Tak ingin alat menganggur, sejumlah ASN yang getol dengan seni budaya jawa tergerak memanfaatkan. Abdi Laras terbentuk pada 2006. Gandi Hatmoko yang pada waktu itu Kepala Bappeda Kota Madiun.

‘’Sampai saat ini ketuanya masih bapak Gandi. Tetapi karena sudah purna tugas, beliau menghendaki untuk digantikan tetapi belum ada penunjukkan (pengganti) secara resmi,’’ terangnya.

Alat lantas dipindahkan ke gedung BPKAD setelahnya. Selain butuh tempat untuk latihan yang representatif, pemindahan juga demi pertimbangan keamanan alat. Seperti diketahui, alat karawitan cukup mahal. Sidik tunjuk bukti saat penggantian salah satu wilangan peking yang hilang sewaktu masih di gedung Graha Bakti Praja tersebut. Satu wilayangan harganya sampai Rp 7 juta. Maklum, alat karawitan berbahan tembaga.

‘’Kalau era sekarang untuk beli karawitan lengkap diperkirakan sampai Rp 300 juta. Makanya, kita rawat benar-benar,’’ ungkapnya.

Tak hanya berlatih, Abdi Laras juga tampil dimuka umum. Prestasi paling membanggakan ketika diminta turut mengisi pekan seni dan budaya di TMII. Setidaknya, Abdi Laras sudah empat kali mengisi giat rutin tahunan itu. Selain itu, Sidik dkk juga rutin menjadi pengrawit pembuka pagelaran seni wayang kulit peringatan Hari Jadi Kota Madiun.

‘’Anggota grup memang semakin berkurang saat ini. Tetapi prinsipnya kita siap kalau diminta tampil,’’ tegasnya sembari menyebut tercatat sampai 80 anggota di awal pembentukan dulu.

Eksistensi Abdi Laras mendapat angin segar di era Walikota Madiun Maidi. Walikota meminta sejumlah alat karawitan dimainkan di halaman tengah Balai Kota. Pengrawitnya diambilkan dari ASN lingkup sekretariat. Beberapa anggota Abdi Laras jadi pembibingnya. Pengrawit sengaja dari pegawai Sekretariat Kota Madiun. Walikota berkeinginan alat sewaktu-waktu dimainkan menyambut tamu kehormatan.

‘’Kalau dijadikan untuk menyambut tamu, artinya bapak walikota peduli dengan karawitan. Peduli dengan budaya jawa. Harapannya semakin banyak generasi sekarang yang turut melestarikan warisan budaya ini,’’ pungkasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Jalan A Yani Jadi Dua Arah, uji Coba Dimulai Sore Ini

Jalan A Yani Jadi Dua Arah, uji Coba Dimulai Sore Ini

MADIUN – Uji coba pemberlakuan dua arus di Jalan A Yani mulai dijalankan, Sabtu (24/10) sore. Pemberlakuan bakal dimulai pukul 17.00. Pengendara dari Jalan Pahlawan sebelah utara Patung Pecel bisa berbelok ke kanan menuju Jalan A Yani. Artinya, tidak harus lurus ke...

Don`t copy text!