Suka Duka Petugas Pemulasaran Jenazah Covid-19

Di Posting Oleh madiuntoday

7 September 2020

APD Bikin Mandi Keringat, Dilarang Minum Selama Proses Pemakaman

MADIUN – Pemakaman jenazah Covid-19 butuh penanganan khusus. Selain tempat makam yang tidak boleh terlalu dekat dengan sumber air, seluruh petugas yang terlibat juga wajib mengenakan Alat Pelindung Diri (APD). Tak mudah menguburkan jenazah dengan mengenakan APD lengkap. Selain panas, petugas juga dilarang minum maupun menyentuh apapun sebelum semua proses selesai.

Rabu (2/9) kemarin, satu lagi kasus kematian Covid-19 terjadi di Kota Madiun. Itu merupakan kasus kematian ketiga. Itu juga menjadi tugas kali ketiga Atong Suhandoko dalam tim pemulasaran jenazah Covid-19 di Kota Pendekar. Ya, relawan TRC BPBD Kota Madiun itu memang bagian tim pemulasaran jenazah selain petugas dari Dinkes, PMI, hingga TNI/Polri. Kebetulan Atong selalu bertugas dalam tiga kasus kematian Covid-19 di Kota Madiun.

‘’Dari BPBD ada enam petugas, Dinkes juga empat sampai enam petugas. Ada juga dari PMI dan TNI/Polri. Jadi sekali bertugas ada sampai 15 orang,’’ kata Atong.

Banyak suka duka selama bertugas. Atong mengaku senang karena bisa bekerja sesuai tupoksi di bidang kemanusiaan. Namun, dia juga tak menampik adanya perasaan takut dan khawatir. Maklum, sebagai petugas pemulasaran jenazah, Atong dan petugas lain tentu beresiko tertular cukup besar. Biarpun sudah memakai APD lengkap, potensi penularan tentu masih terbuka. Karenanya, butuh konsenterasi sejak sebelum bertugas sampai semua proses usai.

‘’Selama proses tidak diperbolehkan minum. Kami juga tidak diperbolehkan memegang apapun selain yang ditangani. Bahkan, untuk melepas APD dilakukan petugas lain,’’ terangnya.

Padahal, proses penguburan cukup menguras tenaga. Biarpun tidak ikut menggali, Atong dkk yang mengembalikan tanah galian ke liang lahat. Belum lagi, jenazah yang dikebumikan lengkap dengan peti. Tentu berat. Proses bisa berjalan 30 menit hingga satu jam. Mereka harus menahan haus selama waktu tersebut. Di sisi lain, tenaga terus dikuras.

Keringat semakin bercucuran karena pemakaian APD. Pemakaian APD lengkap dari ujung kepala hingga kaki tentu membuat gerah. Tak heran, jika baju pertama yang dipakai selalu basah oleh keringat usai proses tersebut.

‘’Kalau tanah makamnya tanah lempung, prosesnya jadi lebih lama. Lengket dengan cangkul. Proses bisa lebih dari setengah jam,’’ jelasnya sembari menyebut APD untuk pemulasaran selalu baru dan langsung dibakar setelah pemakaman.

Tak cukup sampai disitu, pemahaman masyarakat dan pihak keluarga jadi kendala tersendiri. Areal pemakaman wajib steril dari masyarakat yang tidak mengenakan APD. Namun, ada saja yang merangsek mendekat. Saat seperti itu, pihaknya butuh peran serta petugas kelurahan. Paling tidak membantu mengkondisikan petakziah untuk memperlancar proses pemakaman.

‘’Titik untuk pemakaman minimal berjarak 10 meter dari sumber air. Ini perlu dipahami masyarakat terutama pihak keluarga. Karena pastinya pihak keluarga ingin pemakaman di dekat makam kerabat yang lain,’’ pungkasnya sembari mengajak masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Informasi Harian COVID-19

Informasi Harian COVID-19

Informasi tanggal 20 September 2020 Untuk membaca informasi lebih lengkap COVID-19 di Kota Madiun, bisa melalui http://dashboard.madiunkota.go.id/ dan http://covid19.madiunkota.go.id/  

Tak Ada Tambahan Konfirmasi, Dua Sembuh Hari Ini

Tak Ada Tambahan Konfirmasi, Dua Sembuh Hari Ini

MADIUN – Dua kasus Covid-19 sembuh di Kota Madiun. Yakni, kasus nomor 38 dan 76. Tambahan ini menjadikan kasus sembuh mencapai 88 orang dari 104 kasus konfirmasi sampai saat ini. Kasus...

Don`t copy text!