Evy Merdika, Juara II Duta Anti Narkoba Gerakan Peduli Anti Narkoba (GPAN) Jatim

Di Posting Oleh madiuntoday

15 September 2020

Singkirkan 350 Peserta, Ingin Remaja Bebas Narkoba

MADIUN – Inilah sosok Evy Merdika. Gadis 22 tahun asal Kota Madiun ini tidak hanya cantik. Namun, juga moncer dalam berbagai bidang. Terbaru, perempuan yang tinggal di Jalan Trunojoyo, Taman, Kota Madiun itu berhasil menyabet Juara II Duta Anti Narkoba Gerakan Peduli Anti Narkoba (GPAN) Jatim 2020. Prestasi itu diraih Evy, Minggu (13/9) kemarin. Seperti apa kisahnya?

Evy Merdika langsung ceplas-ceplos saat dihubungi melalui saluran telepon, Selasa (15/9). Dari sikapnya yang ceplas-ceplos dan cekatan itu jelas dia bukan termasuk perempuan pendiam. Maklum sebagai Duta Anti Narkoba, dia wajib pandai berbicara. Mempengaruhi audiens agar memperhatikan sosialisasi yang disampaikan. Dari gaya bicaranya itu pula, tak heran dia Juara II Duta Anti Narkoba Jawa Timur tahun ini.

‘’Kegiatan dipusatkan di Surabaya. Tapi karena pandemi Covid-19 banyak yang dilakukan secara virtual sampai pengumuman, Minggu kemarin,’’ kata Evy yang saat ini bekerja di Kediri tersebut.

Evy hanya dua kali bertemu langsung dengan dewan juri dan pembimbing. Selebihnya, dilakukan secara virtual. Baik materi maupun tantangan yang harus diselesaikan. Kendati begitu capaian Evy tidaklah mudah. Setidaknya, dia menyingkirkan ratusan peserta lain sebelum sampai tahap final.

‘’Pada awalnya ada 350 peserta, kemudian diambil 20 dan terakhir diambil lagi sepuluh. Dari sepuluh ini dipilih untuk juara 1, 2, 3, dan lainnya. Alhamdulillah, dapat juara 2,’’ ujarnya senang.

Prestasi Evy bermula saat melihat pengumuman lomba tersebut di media sosial sekitar Juli lalu. Finalis sepuluh besar Mbakyu Kota Madiun itu mantap mengikuti. Mereka yang mendaftar wajib membuat artikel. Tentu tentang narkoba. Evy berhasil mencuri perhatian dewan juri dengan banyak mengulas sisi lain tentang narkoba. Salah satunya, tentang hukuman pidana bagi pemakai yang seharusnya masuk rehabilitasi hingga tingginya peredaran narkoba di kalangan ibu rumah tangga. Lagi-lagi, karena faktor ekonomi.

‘’Banyak ibu-ibu rumah tangga yang menjadi pengedar karena kebutuhan ekonomi. Ini harus menjadi perhatian serius. Bagaimana generasi mendatang kalau banyak ibu rumah tangga yang terjerat dalam pusaran narkoba,’’ tegasnya.

Lolos 50 besar, Evy berhak mendapatkan pengarahan di Surabaya. Pengarahan secara tatap muka hanya dilakukan sehari. Selebihnya secara virtual. Namun, hal itu masuk penilaian dan sekaligus seleksi. Evy tetap bertahan hingga sepuluh besar. Tak hanya materi soal narkoba. Tapi juga terkait public speaking, sedikit modeling, dan lain sebagainya. Hal itu memang dibutuhkan saat menjadi Duta Anti Narkoba kelak. Tak hanya Evy, sembilan finalis lain juga dikontrak GPAN untuk mengkampanyekan tentang bahaya narkoba dalam satu tahun ke depan.

‘’Sebagai remaja di Kota Madiun saya ingin lebih produktif lagi serta ingin berkontribusi lebih luas di Jawa timur tentang kampanye penyalahgunaan narkoba. Mengapa? Karena banyak orang di sekeliling kita terutama teman sebaya yang belum sadar dan paham akan bahaya narkoba,’’ pungkasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Don`t copy text!