‘Mungkin saat ini seperti biasa saja namun suatu saat nanti kalian akan kukenang seumur hidup ,,, bahwa kalian banyak mmbantuku… maaf aq tidak bisa mmberi apa – apa tapi doaku tulus untuk kalian jika Allah meridhoi kita akan bertemu di suasana yg berbeda yang lebih baik dan lebih indah tentunya ….. jika di tanah air anak seusiamu sibuk ke warnet kalian sibuk mncari makan ya Allah lindungi mereka dan keluarganya…..semangat saudaraku# hasan , mustofa , adam , usman , hamid’
(kutipan dari laman facebook Wahyu Hartanto, 3 Januari 2018)

(catatan perjalanan Brigadir Polisi Wahyu Hartanto SH, MH, anggota pasukan Garuda Bhayangkara asal Kota Madiun di Sudan, dey/diskominfo, foto-foto : dokumen pribadi)

Ya, hampir satu tahun kami berada di tengah keluarga baru kami di Darfur, Sudan. Hampir satu tahun kami bercengrakama dengan anak-anak yang seusia adik, keponakan, atau sepupu kami di tanah air. Selama 12 bulan ini kami melihat langsung saudara-saudara yang harus merasakan pahitnya hidup di tengah kecamuk konflik berkepanjangan. Konflik yang pecah sebelum mereka lahir di muka bumi.

Benar, hampir setahun kami berada di sini. Lebih panjang dari jadwal seharusnya. Hal ini karena Dewan Keamanan PBB, pada Senin (29/6/2017) memutuskan untuk memperpanjang misi penjaga perdamaian di Darfur untuk melindungi warga sipil dan memastikan pengiriman bantuan.

Darfur menjadi sorotan dunia ketika konflik pecah pada 2003, saat pemeberontak mengangkat senjata melawan rezim pemerintahan Khartoum yang dianggap diskriminatif. Misi Uni Afrika dan PBB (UNAMID) dikerahkan sejak 2007.

Dalam resolusi PBB, ke-15 anggota DK menekankan bahwa penarikan misi PBB diukur dari kondisi di lapangan dan diimplementasikan secara bertahap dan fleksibel.

Dengan jelas kami baca di media-media internasional. “Sekarang bukan waktunya untuk berhenti dan meninggalkan Sudan. Sudan memiliki jumlah pengungsi terbesar di Afrika. Dan 2014 adalah tingkat terburuk penderitaan dalam 10 tahun terakhir.” Tegakah Garuda meninggalkan Sudan?

Menurut PBB, sebanyak 300 ribu orang telah tewas, sementara 4,4 juta orang lain membutuhkan bantuan dan lebih dari 2,5 juta mengungsi dari Darfur. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Presiden Bashir atas tuduhan kejahatan perang dan genosida di Darfur.

Setelah kurang lebih sebelas bulan bertugas menjaga perdamaian di Darfur, Sudan, dengan hasil yang cukup membanggakan, PBB akhirnya memberi “rewards” kepada seluruh personel Kontingen Garuda Bhayangkara dengan menganugerahkan “UN Peacekeeping Medal”. Penganugerahan ini dikemas dalam sebuah acara yang dikenal dengan sebutan “Medal Parade”.

Medal Parade adalah suatu upacara militer dalam bentuk parade yang diselenggarakan dalam rangka memberikan penghargaan kepada seseorang/ kelompok karena jasa serta pengabdiannya kepada lembaga atau badan yang berwenang memberikan penghargaan tersebut.

Medal Parade ini diselenggarakan untuk memberi penghargaan kepada setiap prajurit yang telah melaksanakan tugas dengan baik dan berpartisipasi dalam menjaga perdamaian di Darfur Sudan. Penghargaan yang diberikan PBB melalui Unamid berupa sertifikat penghargaan sebagai Peacekeeper, medali Peacekeeping PBB atau UN Peacekeeping Medal (tanda kehormatan UN Medal yang berhak dipasang di seragam prajurit yang bersangkutan), serta sebuah brevet kebanggaan kontingen Negara kontribusi masing-masing.

Baca juga:   Sang Maestro Harry Tjahjono

Sedangkan mereka yang berhak mendapatkan UN Medal adalah seorang yang telah berpartisipasi dalam tugas misi perdamaian dunia, dalam satuan tugas yang dinamakan Satgas Garbha II FPU INDONESIA 9 Terdiri dari 140 personel dipimpin oleh AKBP Ahmad Arif Sopiyan , S.Ik dan Wakil Satgas Kompol Arthur Sameaputy , S.Ik beserta seluruh personel baik yang tergabung di pasukan taktis maupun tim support dan staff officer . Prajurit ini setidaknya berturut-turut selama satu periode penugasan atau 6 bulan telah bertugas dan berpartisipasi dengan baik sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB di Negara mana ia ditugaskan.

Jadi, PBB memberikan penghargaan UN Medal tersebut kepada mereka yang berada dalam misinya, yang telah bertugas minimal enam bulan. Untuk yang bertugas lebih dari itu, seperti prajurit dari Kontingen Indonesia dan beberapa dari kontingen lainnya yang bertugas di Unamid, di mana masa penugasannya mencapai dua periode penugasan (1 tahun) maka mereka berhak mendapatkan dua kali penghargaan UN Peacekeeping Medal.

Upacara parade pemberian UN Medal atau UN Peacekeeping Medal kepada seluruh prajurit Garuda Bhayangkara yang tergabung dalam Kontingen Garuda dilaksanakan pada 04 desember 2017 di lapangan upacara Garuda Camp (markas dimana Pasukan Garuda Bhayangkara tinggal)di daerah El Fashr, Darfur, Sudan.

Dengan diterimanya UN Peacekeeping Medal dan UN Peacekeeping Sertificate maka” saya dan seluruh anggota kontingen FPU INDONESIA ( 140 personel) yang menjalankan misi perdamaian PBB di Darfur Sudan secara resmi telah diakui partisipasinya dalam menjalankan tugas-tugas perdamaian sebagai Peacekeeper di bawah bendera UNAMID.

Bahkan karena penugasan kami memakan waktu satu tahun atau dua periode penugasan maka kami pun berhak menyandang angka dua di UN Peacekeeping Medal terutama yang digunakan di baju PDH.

Penghargaan PBB membanggakan. Yang lebih membanggakan adalah penghargaan dari warga setempat. Keberadaan kontingen Indonesia dengan segala keramahan, kesantunan dan kesederhanaan di lokasi itu mungkin mirip oase di gurun pasir nan gersang. Mereka menganggap kami saudara. Kami sapa menyapa dengan mereka. Saling lempar senyum. Sebuah ungkapan terima kasih yang tak terhingga rasanya.

Satu yang tidak akan kami lupakan. Saat patroli, saat melintas, saat hanya berjalan-jalan, dalam setiap kesempatan, dalam seragam maupun tidak, warga Darfur selalu menyebut kami penuh kehangatan. Aku yakin mereka tidak mengenal kami satu per satu. Mereka hanya tahu bahwa kami datang sebagai saudara yang menjaga kedamaian di tanah mereka.

Mereka memanggil dan selalu mengelu-elukan kami, ’GARUDA,….GARUDA,…. GARUDA……’

Berat rasanya harus berpisah dengan saudara-saudara kami di Darfur, Sdan. Namun selalu ada akhir dalam tugas. Garuda ini harus pulang karena telah selesai dalam misi ini. Seperti misi-misi sebelumnya, Garuda-Garuda yang berikutnya mungkin akan hadir lagi demi damai dunia.

Misi Satuan Tugas Garuda Bhayangkara II FPU (Formed Police Units) 9 Indonesia selesai Januari 2018. Akhir bulan ini, pasukan ini akan kembai ke tanah air.

‘Dihargai atau tidak ia tetap berputar , dilihat atau tidak ia tetap berdetak , ada yang berterimakasih atau tidak ” ia ” tetap bekerja. # dirgahayu POLRI’, kutipan dari laman facebook Wahyu Hartanto, Juli 2017
(tulisan ketiga dari tiga tulisan)