Bukan berlibur. Hanya sebuah perjalanan panjang. Sembilan ribu kilometer dari Indonesia. Kami hadir demi damai dunia.

(catatan perjalanan Brigadir Polisi Wahyu Hartanto SH, MH, anggota pasukan Garuda Bhayangkara asal Kota Madiun di Sudan, dey/diskominfo, foto-foto : dokumen pribadi)

Ya, sampai saat ini hampir genap satu tahun yang lalu kami tiba di Sudan. Salah satu negara Afrika terluas yang dilanda konflik politik dan kesukuan. Januari 2017, kami, Satuan Tugas Garuda Bhayangkara II FPU (Formed Police Units) 9 Indonesia, mendarat di negeri yang kami sebut negeri tanpa awan. Sebuah negara yang benar-benar menguji kekuatan fisik dan mental kami sebagai penjaga perdamaian.

Aku Brigadir Polisi Wahyu Hartanto, anggota Detasemen B Satuan Brimob Polda Kalimantan Timur. Lahir dan tumbuh besar di Kota Madiun, sebuah kota di bagian barat Jawa Timur. Bersama 140 orang personel polisi terpilih dari seluruh Indonesia, aku berangkat menuju ke negara yang mungkin tidak pernah aku impikan untuk mendatanginya.

Kami menjaga perdamaian di sebuah wilayah dengan tingkat konflik yang cukup tinggi. Tepatnya di El-Fashr, Darfur, sekitar 1.000 KM dari ibukota Sudan, Khortum. Sebuah wilayah yang sejak 2003 lalu dilanda perang antar mereka sendiri. Sebuah kondisi yang aku yakin tidak mereka inginkan.

Kami memang tak pernah mengharap welcome party ketika mendarat di negara yang memiliki daratan sangat luas, pegunungan, sungai-sungai lanjutan Nil. Kami cukup bahagia ketika tantangan berat cuaca menjadi gemblengan pertama dalam bertugas.

Suhu udara Sudan cukup ekstrem. Mencapai sekitar 3 derajat celcius pada musim dingin dan akan naik sampai 50 derajat celcius pada siang hari di musim panas. Terik memang. Sebuah kondisi yang membuat sebagian besar pasukan mengalami mimisan di hari-hari pertama mengarungi daerah yang kering bergurun-gurun.

Beruntung, fasilitas kesehatan dari pasukan mencukupi. Ujian ini terlewati dan seluruh anggota yang juga masuk sebagai UNAMID (The United Nations–African Union Mission in Darfur ).

Baca juga:   Sang Maestro Harry Tjahjono

Dan konflik yang telah berumur 14 tahun itu memang membuat perikehidupan di Darfur buruk. Ratusan ribu warga mengungsi. Mereka hidup dalam kondisi serba kekurangan. Kekurangan sarana pendidikan, makanan, tempat tinggal yang layak dan tentu saja kekurangan air bersih.

Tak jarang kami harus membagikan jatah hidup kami kepada warga yang kami lewati saat berpatroli. Air dan roti. Keduanya menjadi hal yang begitu berharga bagi mereka. Barangkali lebih berharga dari emas dan permata. Bahkan harga diri sekalipun. Air, sesuatu yang sering kita boroskan di Indonesia.

Dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris yang sedikit-sedikit mereka kuasai, kami mencoba berkomunikasi. Mencoba membaur dengan warga setempat yang kami lewati. Dan kami pun tahu, konflik Darfur buruk bagi mereka.

Kami pun berpikir, begitu berharganya air dan roti bagi warga yang hidup di tengah konflik. Lalu mengapa kita di Indonesia yang punya merah putih, punya persatuan, mulai ada yang berpikir untuk mengoyak-ngoyak kerukunan yang ada?

Tidak. Kita Indonesia, yang majemuk tapi satu. Kami personel Satuan Tugas Garuda Bhayangkara II FPU 9 Indonesia berasal dari berbagai suku dan berbagai daerah. Tapi kami Indonesia. Kami adalah merah putih yang di mana pun menjejak tetaplah merah putih.

Kita akan jaga itu, karena konflik bukanlah surga bagi siapapun. Kami, yang hanya kurang dari 200 orang berada di negeri tanpa awan, Sudan, demi melaksanakan amanah UUD 1945, menjaga ketertiban dunia. Tetap mengharumkan nama bumi pertiwi yang rukun tenteram kertaraharja. Dari Indonesia, kita jaga perdamaian dunia.

,,,, I’m standing in your line ,,,, # “Red n White”, kutipan dari laman facebook Wahyu Hartanto, Mei 2017
(tulisan pertama dari tiga tulisan)