MADIUN – Kota Madiun memang bukan kota wisata alam. Kendati begitu, bukan berarti tanpa destinasi wisata. Buktinya, jumlah turis yang dolan di kota pecel tembus 200 ribu sepanjang 2017 lalu. Sejumlah objek wisata cagar budaya, pencak silat dan kuliner jadi sasaran wisatawan dari berbagai daerah.

“Kota Madiun boleh disebut kota jasa. Tak heran, kalau kunjungan wisatawan terkait itu,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Madiun Agus Purwowidakdo, Jumat (12/1/2018).

Disbudparpora mencatat ada sebanyak 200 ribu lebih pengunjung sepanjang tahun lalu. Tujuan wisatawan beragam. Kebanyakan mengenai cagar budaya. Kota Madiun, kata dia, banyak memiliki bangunan peninggalan masa kolonial. Mulai pabrik gula, rumah loji, kantor Bakorwil, Busbo, dan kereta api. Setidaknya, terdapat 200 titik cagar budaya.

Wisatawan bukan hanya dari berbagai daerah di tanah air. Namun, juga wisatawan asing. Utamanya dari Belanda. Mereka cukup antusias melihat bangunan dan alat transportasi era kolonial dulu yang masih terjaga hingga kini. Maklum saja, kontruksi bangunan memang berkiblat negeri kincir angin tersebut.

“Kota Madiun juga memiliki pabrik kereta terbesar di kawasan Asia Tenggara. Ini juga memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” ungkapnya. Disebutnya, kereta api juga menjadi salah satu objek yang paling banyak dikunjungi.

Kota Madiun, lanjutnya, juga memiliki pabrik gula yang juga peninggalan masa kolonial. Yakni, PG Redjo Agung dan PG Kanigoro yang berada di perbatasan dengan Kabupaten Madiun. Masih terawatnya kedua bangunan hingga kini memberikan keuntungan tersendiri. Belum lagi sejumlah rumah loji di sekitar pabrik. Pemerintah sengaja melarang bangunan untuk dipugar. Keaslian bangunan memiliki nilai tersendiri. Unsur religi juga ikut andil. Kota Madiun memiliki sejumlah objek wisata religi. Di antaranya, Masjid Kuncen, Masjid Taman, Gereja, dan Klenteng.

“Sejumlah kuliner khas, seperti pecel dan madu mongso juga ikut andil mendongkrak jumlah wisatawan. Geografis Kota Madiun yang berada di jalur perlintasan juga memberi keuntungan tersendiri,” ungkapnya.

Baca juga:   Jumat Polwan, Jumat Harinya Polwan

Tidak cukup sampai di situ. Kota Madiun masih memiliki pencak silat yang merupakan budaya khas. Nama pencak silat yang melekat dengan Kota Madiun juga cukup menarik wisatawan untuk datang. Apalagi, sebelas perguruan pencak silat di kota pecel. Cukup besar pula. Anggotanya, bukan hanya dari daerah sekitar. Namun, juga hingga mancanegara. Belum event-event besar terkait pencak silat yang pastinya sayang untuk dilewatkan.

“Ini merupakan potensi besar. Sangat mungkin untuk dikemas sebagai city tour. Sejumlah objek wisata ini dirangkai dalam satu paket wisata. Tentunya mengunggulkan kekhasan masa lalu Kota Madiun,” pungkasnya sembari menyebut Madiun Tempoe Doeloe sebagai tema city tour.

Itu guys, sejumlah destinasi wisata di kota pecel yang ternyata menarik perhatian wisatawan. Sejumlah objek wisata ini mungkin biasa dimata orang Kota Madiun. Namun, tentu tidak bagi orang lain. Jaga terus keberadaan sejumlah objek potensi wisata ini. Jangan minder dengan daerah lain yang memiliki wisata alam. Kota Madiun juga punya banyak objek wisata lho.

Pemkot pastinya mengupayakan sejumlah objek wisata tersebut agar optimal selain membangun destinasi baru. Seperti taman rekreasi keluarga dan olahraga. Setidaknya Kota Madiun memiliki Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun, Alun-alun, Taman Olahraga Gulun, Areal Panahan Manisrejo, taman bermain, hingga sejumlah ruang terbuka hijau (RTH) lainnya. Pastinya komplit dan menarik.

Jaga terus kesehatan dan patuhi aturan. Patuhi juga aturan cukai ya guys. Ada tiga barang wajib cukai yang beredar di Indonesia. Yakni, hasil tembakau, etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Pastikan terdapat pita cukai asli saat memperjualbelikan ketiga barang tersebut. Salah-salah bisa berujung pidana. So, jadi masyarakat yang bijak ya.
(agi/diskominfo)