MADIUN – Ungkapkan kasih sayangmu dengan bunga. Lalu, kalau mau nyari bunga ke mana? Guys, kalau di Kota Madiun tidak ada tempat lain yang lebih asyik kecuali di Jalan Larasati. Sebuah jalan sepanjang 150 meter lebih di sebelah timur GOR Wilis Kota Madiun.

Segar dan warna-warni. Kesan inilah yang semakin menguat setelah wilayah yang masuk Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, ini ditata menjadi sentra pasar bunga dan bibit tanaman di kota gadis oleh Pemerintah Kota Madiun pada awal tahun 1980-an. Tidak kurang dari 40 kios dengan masing-masing luasnya sekitar 20 meter persegi siap menyambut para penggemar bunga dari seluruh kawasan. Termasuk dari luar Kota Madiun.

Yitno, 45, salah satu pedagang bunga menyatakan, kawasan ini memang terus berkembang. Terutama untuk bisnis yang menurutnya tidak ada matinya ini.

“Dari waktu ke waktu ada saja orang yang membutuhkan bunga. Sebab tanaman bisa menenangkan jiwa. Caranya dengan memandang, merawat dan ‘mengasuh’ bunga dengan baik,” ujar Yitno.

Diakuinya, bisnis apapun memang selalu ada pasang surut. Namun, lanjutnya, bisnis bunga bisa stabil dan tidak terlalu terhempas di saat krisis sekalipun. Ini karena tanaman, terutama tanaman hias dan bunga-bunga, bisa menjadi pelipur lara pelepas penat bagi sebagian besar orang.

“Pembangunan perumahan juga membuat bisnis semakin berkembang. Kan kalau ada rumah baru itu yang punya rumah juga biasanya membuat taman di rumahnya. Terus, developernya juga membuatkan taman untuk fasilitas umum, buat ruang hijau itu lo (Ruang Terbuka Hijau),” ujar Yitno bersemangat.

Walaupun sudah menjadi sentra tanaman, para pedagang tidak pernah berhenti mengembangkan bisnisnya. Mereka selalu update untuk menyediakan berbagai ‘barang dagangan’. Bila perlu mereka akan mendatangkannya dari luar kota, termasuk dari Jakarta.

Baca juga:   Pemkot Genjot Pekerjaan Talud Pakai Sistem L-Gutter, Apa Itu?

“Seperti bunga Kalenco. Itu asli dari Belanda, lalu kita coba beli dan bisa hidup di sini. Setelah itu kita datangkan dari Jakarta karena ada importirnya di sana,” ungkap Prihatin, pedagang lain.

Soal jumlah dari jenis tanaman yang ada di jalan berbunga-bunga ini, Yitno maupun Prihatin mengaku tidak bisa menghitungnya. Di setiap kios rata-rata ada 30 sampai 40 jenis tanaman. Padahal, kata Prihatin, tiap kios juga berbeda-beda persediaan tanamannya.

“Pasti ada ratusan. Dari yang kecil harganya Rp2.500-an sampai Rp5 jutaan yang berupa bonsai. Monggo kalau mau milih, semua ada di jalan ini. Dari yang dekorasi, hiasan rumah, buat di atas meja sampai yang buat kebun dan taman kantoran ada. Pemkot (pemerintah daerah) dari sekitar banyak juga yang ambil dari sini buat taman kantornya. Kalau ada yang mbangun kantor, kita kecipratan kok,” ujar Prihatin.

Nah guys, sudah tahu kan kalau pengen berbunga-bunga harus ke mana. Jalan Larasati siap menunggu. Biar hidup kita tenang dan tenteram, memang ada baiknya punya taman yang asik dan ayu berbelanja di sentra tanaman hias di Kota Madiun itu.

Lalu guys, hindari membeli rokok ilegal. Rokok ilegal adalah rokok tanpa pita cukai, dipasangi pita cukai palsu atau berpita cukai yang bukan peruntukannya.

Cukai adalah pungutan negara untuk barang-barang tertentu yang memiliki dampak negatif bagi kehidupan dan perlu pungutan demi keadilan. Perlu diketahui, sebagian cukai yang terbayar dananya akan kembali ke daerah-daerah dengan nama Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT).

DBH-CHT bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan meningkatkan fasilitas kesehatan masyarakat sampai meningkatkan keterampilan kerja masyarakat dan untuk pembangunan infrastruktur. (dey/diskominfo)