MADIUN – Umumnya pemuda menyukai lawan jenis sebaya. Tetapi tidak bagi empat pemuda ini. Mereka lebih menyukai perempuan lanjut usia (lansia). Eit nanti dulu. Bukan sebagai pasangan. Namun, sebagai sasaran tindak kejahatan yang mereka lakukan.

Setidaknya, 12 perempuan lansia di Kota Madiun pernah menjadi korban aksi penjambretan yang dilakukan Heri alias Gapung, AK alias Setro, FA alias Dogleh, dan Wid alias Kancil. Komplotan ini berhasil menggasak ratusan gram perhiasan emas dari belasan korban selama tiga bulan terakhir.

Aksi keempat sekawan ini terhenti sementara setelah petugas Polresta Madiun mencokoknya, Jumat (9/2) lalu. ‘’Empat tersangka ini memiliki peran berbeda. Ada yang menjadi pemetik. Tiga lainnya sebagai joki,’’ kata Kasat Reskrim Polresta Madiun AKP Logos Bintoro saat press release, Senin (12/2).

Gapung, 33, warga Desa Dimong, Kabupaten Madiun, kata Logos, bertugas sebagai pemetik. Sedang, Setro, 20, warga Ngawi, Dogles, 20, warga Ngawi, dan Kancil, 28, warga Kartoharjo bertugas sebagai joki. Keempatnya tidak beraksi bersamaan. Namun, selalu bergantian.

‘’Modus tersangka dengan berpura-pura bertanya alamat atau membeli barang di toko korban,’’ ungkapnya.

Tersangka selalu beraksi sekitar pukul 04.00 hingga 05.00. Waktu dipilih lantaran suasana masih sepi namun sudah cukup banyak toko kecil yang buka. Selain itu, perempuan tua banyak yang sudah beraktivitas di jam-jam tersebut.

Tersangka biasanya memantau terlebih dahulu kondisi korban. Terutama perhiasan yang dikenakan. Tersangka langsung berpura-pura menjadi pembeli begitu korban ditentukan. Pertanyaan seputar alamat dilontarkan agar korban keluar tokok atau mendekat kepada tersangka. Tanpa ba bi bu, perhiasan langsung berpindah.

‘’Satu tersangka selalu bersiap diatas kendaraan. Begitu perhiasan di dapat, keduanya langsung melarikan diri,’’ ujranya sembari menyebut tersangka menggunakan sepeda motor satria fu yang kini sebagai barang bukti.

Baca juga:   Terapkan Sistem Remunerasi

Logos menyebut tersangka cukup kejam saat beraksi. Selain memilih korban yang sudah renta, tersangka tidak canggung mendorong hingga jatuh. Korban tersangka selalu perempuan di atas 50 tahun. Hasil pemeriksaan, tersangka juga beraksi di Kabupaten Madiun, Ngawi, dan Magetan.

Bagaimana Komplotan Terbentuk?

Dua dari tersangka bertemu dalam penjara. Yakni, Gapung dan Setro yang pernah mendekam di rutan Ngawi. Keduanya mendekam lantaran kasus berbeda. Namun, hukuman bukan lantas membuat mereka jera.

Sebaliknya, keduanya malah menghimpun kekuatan untuk bertindak kejahatan. Dua orang teman keduanya bergabung. Perhiasan hasil kejahatan dijual kepada seseorang di Magetan. Uang hasil kejahatan digunakan keempat tersangka untuk membeli barang-barang kebutuhan.

Mulai televisi, kipas angin, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari. Tersangka juga menggunakan uang hasil penjualan perhiasan untuk berfoya-foya. Keempat tersangka terancam tindak pidana pencurian dengan kekerasan. Ancaman hukumannya mencapai 12 tahun kurungan.

‘’Kasus ini masih dalam pengembangan. Karena tidak menutup kemungkinan korban bertambah,’’ pungkasnya.

Itu guys, tetap waspada dan selalu berhati-hati. Aksi tindak kejahatan bisa terjadi kapan saja. Mulai malam, pagi, hingga di siang bolong. Satu lagi, jangan memaksakan memakai perhiasan berlebih jika tidak kelewat perlu.

Selalu patuhi aturan. Patuhi juga aturan cukai. Ada tiga barang cukai yang beredar di tanah air. Yakni, hasil tembakau (rokok, cerutu, vapor, dll), etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Pastikan ketiga barang tersebut menggunakan pita cukai asli saat diperjualbelikan. Pelanggaran atas cukai bisa berujung pidana. So, jadi pembeli yang bijak ya. (wshendro, agi/diskominfo).