MADIUN – Bisnis perhotelan diyakini tidak terpengaruh oleh kehadiran jalan tol Ngawi-Kertosono yang melintasi Madiun. Hotel-hotel di Kota Madiun masih jadi penyangga empat wilayah lain untuk menampung tamu-tamu dengan urusan bisnis dan pekerjaaan.

General Manager Aston Madiun Hotel & Conference Center Agus Setyo Purnomo, Kamis (15/2/2018) mengatakan, pembangunan jalan tol yang melintasi Madiun dan memperpendek jarak antara Surabaya menuju Jawa Tengah memang sempat membuat pelaku bisnis perhotelan khawatir tidak kebagian tamu.

“Ketika peresmian jalan tol Surabaya-Kertosono dibuka akhir tahun lalu, kita sempat khawatir karena waktu tempuh semakin singkat. Khawatir tamu memilih tidak bermalam di Kota Madiun, di hotel-hotel di sini,” ujar Agus.

Namun, ternyata hal ini tidak terjadi. Para tamu masih memilih bermalam saat melaksanakan perjalanan untuk urusan bisnis maupun pekerjaannya. “Karena memang segmen hotel di Kota Madiun ini adalah pebisnis dan pemerintahan. Lebih dari 70 persen dari segmen itu,” ungkap Agus.

Ketika kabar peresmian ruas tol Ngawi-Kertosono akan dilaksanakan pada akhir Februari, Agus menyatakan sejumlah pemain hotel di Kota Madiun sudah tidak terlalu khawatir. Bahkan grup hotel Aston, Favehotel berani beroperasi. Hal ini karena yakin pasar tidak akan terlalu berubah.

“Nah, kalau melihat asal tamu kami yang bermalam di Kota Madiun, hanya sebagian kecil yang berasal dari Surabaya. Sebagian besar dari Jakarta atau kota-kota lain seperti Bojonegoro. Selain itu, hotel-hotel di Kota Madiun itu menyangga akomodasi untuk empat wilayah lain seperti Kabupaten Madiun, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ngawi,” jelas Agus.

Karena jadi penyangga, ia yakin untuk para pebisnis maupun birokrat yang sedang ada urusan di empat daerah tersebut akan menginap di Kota Madiun. Hal ini karena baru Kota Madiun yang memiliki lokasi menginap yang representatif.

Baca juga:   Ikuti Lomba Menghias Gapura

“Malah kita tahun ini menargetkan okupansi sampai 72 persen, lebih tinggi dari tahun lalu yang 70 persen. Dan kita yakin itu tercapai,” katanya.

Pembangunan pasti demi kebaikan kita, ya kan guys. Selain itu guys, ayo kita turut memberantas peredaran ilegal barang kena cukai, seperti etil alkohol, minuman mengandung etil alkohol dan rokok. Sebab sebagian dana cukai kembali ke pemerintah daerah. Namanya, DBH CHT atau Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau.

DBH CHT merupakan dana yang bersifat khusus dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan ke Pemerintah Daerah (Pemerintah provinsi ataupun Pemerintah Kabupaten/Kota) yang merupakan penghasil cukai hasil tembakau dan/atau penghasil tembakau.

Penggunaan DBH CHT diatur dengan ketentuan yang tertera dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 222/PMK.07/2017. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah tentang Prinsip Penggunaan. Paling sedikit 50 persen untuk mendanai program/kegiatan seperti peningkatan kualitas bahan baku; pembinaan industri; pembinaan lingkungan sosial; sosialisasi ketentuan di bidang cukai; dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal. Sedangkan paling banyak 50 persen untuk mendanai program/kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah.

Karena cukai kembali ke kita untuk hal yang positif, maka jangan membeli rokok ilegal. Rokok ilegal adalah rokok tanpa pita cukai, dipasangi pita cukai palsu atau berpita cukai yang bukan peruntukannya. Mari menjadi pembeli bijak dengan menolak rokok ilegal.

Satu lagi, kalau mau koneksi internet gratis, pakailah sambungan wi-fi gratis @pemkotmadiun yang disediakan Pemkot Madiun di lebih dari 150 titik strategis dan tempat umum di seluruh Kota Karismatik ini.(dhevit, dey/diskominfo)