MADIUN – Sebagai umat Nasrani, beribadah di gereja memang baik. Namun, pastikan dahulu waktunya sesuai jadwal. Salah-salah bisa berujung penanganan Dinsos PP dan PA Kota Madiun seperti dialami Suprayitno yang mengaku warga Sambirejo ini. Niatnya beribadah di Gereja Immanuel Jalan dr Soetomo Kota Madiun ini berakhir penanganan pihak gereja, kelurahan, dan Dinas Sosial PP dan PA setempat, Senin (26/2). Penyebabnya sepele. Suprayitno beribadah saat semua jemaat telah pulang.

Gelagat Suprayitno di dalam gereja kali pertama diketahui Kesianina Irianti, seorang aktivis gereja sekitar pukul 07.30. Nina –sapaannya- curiga adanya suara dari balkon gereja yang terletak di lantai dua. Padahal, peribadatan sudah selesai. Semua jamaat sudah meninggalkan balkon. Lampu juga sudah dipadamkan.

‘’Terdengar suara seperti ada orang. Saya panggil tidak menjawab, baru yang ketiga dia jawab,’’ kata Nina menceritakan kejadian tersebut.

Namun, dia tidak menyebut nama. Hanya berucap ‘aku’. Ketakutan Nina menjadi saat orang yang tak dikenalnya itu mendekat. Padahal dia hanya ingin memperlihatkan diri. Nina langsung mengunci diri di ruang alat karena merasa tidak mengenal dengan Suprayitno.

‘’Saya panggil teman-teman yang ada dibawah. Setelah banyak orang baru saya keluar,’’ ungkapnya.

Namun, kedatangan masyarakat belum menyelesaikan masalah. Suprayitno sedikit ngelantur saat ditanya. Dia mengaku datang ke gereja untuk berdoa. Suprayitno yang biasa berjualan sandal itu juga tidak membawa satupun kartu indentitas. Lantaran bukan jemaat biasanya, petugas gereja memanggil petugas kelurahan hingga akhirnya petugas Dinsos PP dan PA datang.

‘’Dia bukan jemaat sini. Tapi dulu lama sekali pernah datang ke sini. Tidak masuk cuma sampai depan. Memang ada sedikit masalah ekonomi dan minta bantuan saat itu,’’ ungkap Nina.

Suprayitno yang mengaku bernama lain Tan Ping Sum itu. Dia memang datang ingin berdoa. Suprayitno mengaku memang biasa beribadah di gereja lain. Tak ayal, dia tak mengetahui jadwal beribadah di gereja tersebut. Namun, hari itu dia sedang melintas dan ingin menyepatkan ingin beribadah.

‘’Deteksi kejiwaan perlu penanganan dari psikiater atau dokter jiwa. Tetapi kalau melihat sekilas, yang bersangkutan sepertinya mengalami depresi ringan,’’ kata Ketua relawan Madiun Care Bima Primaga Yudha yang biasa mendampingi orang dengan gangguan jiwa.

Namun, yang bersangkutan tidak gila atau orang dengan gangguan kejiwaan. Hanya sebatas depresi. Suprayitno juga menyebut hendak berdoa di gereja saat ditanya alasan ke sana. Pun, tidak ada satupun barang di gereja yang dirusak maupun diambil. Hanya, waktu beribadat Suprayitno sedikit kurang pas. Dia berdoa saat jemaat lain sudah pergi dengan ruangan gelap total.

Baca juga:   Dipulihkan Dulu Baru Dipulangkan

‘’Saya kira setiap orang punya masalah. Kadang bisa sedikit bertindak diluar pada umumnya saat depresi,’’ ungkapnya.

Bagaimana Penanganan Dinsos PP dan PA?

Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos PP dan PA Kota Madiun Nur Sahada menyebut perlu penanganan lebih lanjut dengan melibatkan banyak pihak. Termasuk dari dokter kejiawaan hingga psikiater. Pihaknya bakal menampung yang bersangkutan di shelter Kota Madiun sementara. Namun, pihaknya akan segera memulangkan yang bersangkutan jika memang tidak perlu penanganan lebih lanjut.

‘’Ini masih menunggu hasil pemeriksaan seperti apa. Kalau memang diperlukan penanganan lebih lanjut akan kami bawa ke Shelter dulu. Kalau tidak ya bisa langsung dipulangkan,’’ katanya.

Bahkan jika memang diperlukan, Dinsos PP dan PA siap memberikan penanganan lebih lanjut. Termasuk membawa ke RSJ. Namun, tentu tidak langsung serta merta. Butuh banyak pemeriksaan dan melibatkan sejumlah pihak.

Sementara pihaknya berupaya menghubungi keluarga Suprayitno. Termasuk orang-orang yang mungkin mengenalnya. Suprayitno diketahui pernah menjadi tukang parkir di dekat toko buah.

‘’Ini terus kami upayakan yang bisa diberikan terlebih dahulu. Yang penting ini tertangani dulu,’’ pungkasnya.

Itu guys, saat ini memang tengah banyak terjadi kasus orang dengan gangguan kejiwaan yang berbuat keributan di tempat ibadah. Namun, tidak semua orang yang tercurigai benar-benar berbuat demikian. Suprayitno salah satu buktinya. Kendati sedikit berbuat diluar sebagaiama mestinya, penjual sandal tersebut tidak melakukan kejahatan. Dia hanya ingin berdoa. Masyarakat tidak perlu kelewat khawatir dan langsung memberikan anggapan negatif. Sebaiknya, dilaporkan dulu pihak terkait dan tunggu hasil pemeriksaannya.

Jaga terus keamanan dan ketertiban dengan selalu mematuhi aturan. Patuhi juga aturan cukai. Ada tiga barang cukai yang beredar di tanah air. Yakni, hasil tembakau (rokok, cerutu, vapor, dll), etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Pastikan ketiga barang tersebut menggunakan pita cukai asli saat diperjualbelikan. Pelanggaran atas cukai bisa berujung pidana. So, jadi pembeli yang bijak ya. (dhevit-agi/diskominfo)