MADIUN – Ikan Lou Han yang sempat booming di akhir era 1990-an kembali menarik minat penggemar ikan hias, termasuk di Kota Madiun. Hobi maupun bisnisnya kembali marak. Lou han kembali hadir dengan nilai keunikan yang lebih kekinian.

Menurut Erik Sugesti, salah satu breeder lou han di Kota Madiun, hampir satu tahun terakhir ikan dengan bentuk unik nan cantik ini berkembang. Baik dari jumlahnya maupun kompetisinya. Harga ikan jenong ini pun merangkak naik. Mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

“Sekarang ini, penggemar ikan lou han mulai bermunculan lagi. Faktornya karena ikan ini memang indah dan jadi klangenan banyak orang,” ujarnya kepada madiuntoday, Kamis (1/3/2018).

Erik menyebut, saat ini penilaian terhadap keindahan ikan lou han tidak hanya soal besarnya bulatan di jidat ikan dan marking alias pola yang seolah digambar di tubuh sang ikan. Saat ini keindahan sisik, bentuk tubuh dan bentuk ekor juga jadi pertimbangan dalam menentukan ‘kelas’ sang ikan.

“Ada perubahan dalam menilai keindahan, karena memang dalam memelihara juga tidak mudah. Ada cara-cara khusus yang menuntut ketelatenan kita,” ujar Erik.

Erik menyebut sebenarnya cara-cara tersebut sudah umum. Untuk jenong tentu pakan tinggi protein, untuk sisik ada bubuk spirulina dan pemberian lampu dengan cahaya tertentu, juga pemberian pakan tertentu untuk pengembangan marking tertentu.

“Nah, kita harus jeli melihat yang memang ada bakat atau potensi untuk jadi indah, maka itu yang akan digenjot. Kalau pas mau lomba, bahkan bisa disalon. Jangan dibayangkan ikannya didandani ya. Disalon itu diiris sedikit di bagian fin tail (ekor) biar lebih rapi dan harmonis dengan bentuk tubuh siikan itu sendiri,” ulas Erik.

Warga Jalan Sri Widodo ini mengaku, ketelatenan inilah yang tidak dimiliki oleh kebanyakan pemilik atau penggemar lou han. Rata-rata hanya tahu bahwa ikan sudah jadi dan indah, tapi tidak meneliti ikannya.

Dari ketelitian ini, lanjut Erik, ia sempat memenangkan beberapa lomba lou han di beberapa kota besar seperti Surabaya dan Semarang. Selain piala dan uang pembinaan, ia pun mampu mendongkrak harga jual ikan yang dimiliknya.

“Begitu lomba dan menang, harganya naik berlipat-lipat. Yang semula Rp700 ribu bisa jadi Rp4 juta karena jadi juara. Tapi jangan dilihat kenaikan harganya saja ya, sebab memelihara itulah yang membuat sang ikan bisa jadi makin indah dan mampu perform dalam kondisi prima,” terangnya.

Baca juga:   Bisnis Hotel Masih Low Season

Saat ini Erik memiliki tiga ekor indukan lou han dan sekitar 20 ikan yang dipelihara untuk jadi jagoan lomba. Aktifitasnya yang paling penting dalam memelihara ikan lou han adalah meneliti perkembangan ikan satu demi satu, waktu demi waktu.

“Sejak kecil kan sudah kelihatan, maka itu yang akan jadi acuan. Yang jelek, biasanya disebut ikan sampah, akan dibuang. Tapi tidak boleh sembarang membuang ya, sebab ikan ini adalah predator yang bisa mengancam habitat ikan lain kalau dilepas begitu saja di sungai,” kata Erik.

Erik yakin, dengan kompetisi yang terus berjalan, komunitas yang terus berkembang, lou han hadir tidak hanya sebagai tren klangenan, tapi juga sebagai bentuk penghargaan atas keindahan ciptaan tuhan. “Kalau sekarang sepertinya lebih awet, bukan hanya booming. Penggemarnya saat ini juga banyak yang memelihara dengan baik dan mencoba untuk menghasilkan generasi lou han yang bagus. Kepuasannya bukan hanya memiliki tapi juga bisa mengembangkan,” pungkasnya.

Nah guys, biarpun suka sama ikan, tapi jangan lupa ikut memberantas peredaran ilegal barang kena cukai. Sebab sebagian dana cukai kembali ke pemerintah daerah. Namanya, DBH CHT atau Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau. DBH CHT merupakan dana yang bersifat khusus dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan ke Pemerintah Daerah (Pemerintah provinsi ataupun Pemerintah Kabupaten/Kota) yang merupakan penghasil cukai hasil tembakau dan/atau penghasil tembakau.

Penggunaan DBH CHT diatur dengan ketentuan yang tertera dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 222/PMK.07/2017. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah tentang Prinsip Penggunaan. Paling sedikit 50 persen untuk mendanai program/kegiatan seperti peningkatan kualitas bahan baku; pembinaan industri; pembinaan lingkungan sosial; sosialisasi ketentuan di bidang cukai; dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal. Sedangkan paling banyak 50 persen untuk mendanai program/kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah.

Karena cukai kembali ke kita untuk hal yang positif, maka jangan membeli rokok ilegal. Rokok ilegal adalah rokok tanpa pita cukai, dipasangi pita cukai palsu atau berpita cukai yang bukan peruntukannya. Mari menjadi pembeli bijak dengan menolak rokok ilegal.