MADIUN – Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi baru saja mendapat tambahan sepuluh pesawat F-16 C/D, Rabu (28/2) lalu. Kesepuluh elang besi itu tampil apik di udara disela serah terima. Selain pesawat yang cukup canggih, kepiawaian sepuluh penerbang Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi yang berada dibalik kemudi patut mendapat acungan jempol. Lettu Penerbang Fulgentius Dio menjadi yang termuda di antara sepuluh penerbang hebat itu. Bagaimana kiprahnya?

WAJAH Fulgentius Dio tampak sumringah. Harap maklum, Lettu Penerbang Skadron Udara 3 itu baru saja usai melaksanakan tugas. Bersama sembilan penerbang lain, Dio –sapaannya- baru saja melaksanakan akrobatik pesawat rangkaian serah terima 24 F-16 di Lanud Iswahjudi. Tugas itu terasa lebih spesial lantaran Dio merupakan penerbang termuda.

‘’Bangga dan senang pastinya bisa menjadi bagian dari suksesnya rangkaian acara serah terima ini,’’ kata Dio seusai acara.

Apalagi, dia tampil dihadapan tamu penting. Mulai Menhan Ryamizard Ryacudu, Duta besar Amerika untuk Indonesia Joseph R. Donovan hingga Pimpinan tertingi korpsnya yaitu, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Kesumringahan Dio wajar mengingat dia tampil apik saat melakukan formasi akrobatik udara bersama rekan-rekannya.

‘’Kalau rasa khawatir sebelum acara pastinya ada. Apalagi saya yang paling muda dari sepuluh penerbang tadi,’’ ungkap Lettu Penerbang 28 tahun itu.

Sepuluh pesawat F-16 membentuk formasi aero kali pertama. Dio berada diujung kanan saat formasi mata anak panah itu. Pesawat tiba-tiba datang dari arah belakang tenda undangan dengan kecepatan 400 knot di ketinggian 800 meter dari tanah. Kesepuluh pesawat lantas berbelok ke kanan dengan tetap mempertahankan formasi.

‘’Jarak antar pesawat tidak boleh berubah. Posisi harus diperhatikan. Wajib terus konsenterasi,’’ ujar bapak satu anak itu.

Tak lama kemudian, pesawat kembali menyapa. Kali ini datang dari arah depan tenda tamu undangan. Sembilan pesawat membentuk formasi bombers. Posisi pesawat berjajar namun semakin menyebar saat mendekati tenda undangan. Lagi-lagi, Dio wajib berkonsentrasi mendengarkan instruksi. Kecepatan dan waktu berbelok wajib seragam.

Baca juga:   T-50i Golden Eagle Jalankan Misi Flypast di Istana Negara

‘’Intinya, harus konsenterasi dan banyak berlatih,’’ jelas Lettu Penerbang yang sudah mengantongi 400 jam terbang dengan F-16 itu.

F-16 bukan pesawat kali pertama yang diterbangkan pria kelahiran Jogjakarta itu. Sebelumnya, dia merupakan pilot T-50. Dio mengaku banyak perbedaan di antara dua pesawat tersebut. F-16 lebih besar dan lebih berat. Namun, memiliki power yang lebih besar. F-16 buatan Amerika itu juga lebih banyak membawa muatan.

Pesawat dilengkapi sembilan hard point untuk tempat misil dan dapat membawa sembilan ton misil dengan berat take off maksimal 19 ton. Pesawat dapat bertempur air to air (antar udara) hingga air to ground (udara ke tanah).

‘’Ada beberapa tombol dan switch yang berbeda dari T-50. Tetapi secara keseluruhan hampir sama,’’ ujarnya sembari menyebut butuh 15 bulan untuk mempelajari F-16 dari T-50.

Itu guys, Lanud Iswahjudi memiliki banyak penerbang muda berbakat. Dio, pastinya bukan satu-satunya. Kesempatan menambah jam terbang masih cukup terbuka lebar. Terus semangat demi menjaga kedaulatan NKRI.

Jaga terus kesehatan dan jangan racuni tubuh dengan narkoba, miras, dan rokok. Bagi kalian yang merokok, jangan beli rokok illegal. Mulai rokok polos alias tanpa pita cukai, berpita cukai palsu atau berpita cukai tak sesuai peruntukan. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Salah satunya, dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBH CHT). So, jadi pembeli yang bijak ya. (ws hendro-agi/diskominfo).