MADIUN – Riuh rendah namun menggemaskan. Sesekali diam, di waktu lain terperangah. Begitulah saat anak-anak dari PAUD Al Hasanah Kota Madiun diajak mengungjungi markas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun, Jumat (2/3/2018).

Sejak pagi hingga jelas siang, sekitar 30 anak berusia tiga hingga lima tahun itu menjalani pengenalan terhadap situasi kebencanaan oleh petugas BPBD Kota Madiun. Ruang briefing yang disulap menjadi bioskop kecil pun makin asyik saat petugas memutar video dokumentasi tugas BPBD dalam kebencanaan. Beberapa anak terkesiap saat video memperlihatkan dahsyatnya letusan gunung. Ekspresi berubah jadi melongo saat melihat fotoslide sebuah rumah yang terbakar.

“Wah, bapak ikut madamkan apinya ya?” salah satu anak berceloteh disambut perangah anak yang lain.

Hal inilah yang menjadi jalan masuk bagi Sukarmo, petugas BPBD yang menjadi guide dalam rekreasi mendidik itu. Sukarmo pun langsung berinteraksi dengan anak-anak tentang penyebab kebakaran. Di antaranya soal keteledoran anak bermain korek, ibu yang meninggalkan kompor yang menyala sampai pada bapak-bapak yang merokok sembarangan.

Setelah itu, baru lah materi soal kegempaan, angin ribut dan banjir dijelaskannya dalam beberapa gaya canda yang tak jarang membuat anak-anak tergelak. “Jadi mari kita membuang sampah di sungai? Gitu ya. Terus kita gunduli hutannya ya?….ohhhh….jangan dong. Itu salah… yang benar, kita harus menjaga kebersihan sungai. Hutan juga harus dijaga kelestariannya kan,” ucap Sukarmo saat berinteraksi dengan balita Kota Madiun yang imut-imut namun cerdas itu.

Kepala BPBD Kota Madiun Agus Hariono

Usai dapat paparan ruang, para generasi penerus pembangunan itu pun diajak menaiki perahu karet. Tentu saja polah mereka jadi tak terkendali saat mendapati perahu yang permukaannya empuk. Beberapa berloncatan dan harus ditenangkan oleh ibu gurunya.

Simulasi evakuasi vertikal pun dilaksanakan. Manusia-manusia belia itu pun dijadikan para rescuer dan harus menuruni tali. Namun tak ayal, simulasi berubah jadi permainan flying fox yang menyenangkan. Tak ketinggalan, anak-anak diajak mandi air semprotan pemadam kebakaran. Namanya juga anak-anak, semakin basah, semakin ceria. Setelah itu diajak berkeliling dengan kendaraan BPBD untuk merasakan patroli kewilayahan.

Candra, salah satu guru pengasuh PAUD Al Hasanah mengatakan, pengenalan anak terhadap pengetahuan kebencanaan bukan lah yang pertama kalinya. Setiap tahun, para guru rutin mengajak anak didiknya untuk mengenal BPBD sebagai lembaga yang paling berkompeten terhadap kondisi bencana. Juga untuk mengajari anak mengantisipasi hal-hal kebencanaan.

Baca juga:   Kejari Kota Madiun Ajak Remaja Melek Hukum Melalui JMS

“Hal ini sangat membantu anak dan orang tua untuk bisa bersikap dan bertindak yang benar sebelum bencana atau saat ada bencana. Hari ini paling banyak materi soal banjir karena mungkin intensitas bujan masih tinggi ya. Dan ini sangat bermanfaat. Anak-anak jadi lebih tahu soal penyebab banjir,” ungkap Candra yang ikut basah kuyup mandi air mobil pemadam.

Kepala BPBD Kota Madiun Agus Hariono mengatakan, pengenalan kondisi kebencanaan sejak dini penting artinya bagi masyarakat. “Ini agar mereka tahu cara menangani dan menjaga diri sendiri bila suatau saat terjadi bencana. Para relawan sendiri terus berlatih dan menularkan pengetahuan agar semakin mahir dalam bertugas,” ujar Agus.

Oke guys, antisipasi terhadap bencana dan pengetahuan kebencanaan penting kan. Sampai anak-anak PAUD aja diajak mengenalnya. Sebab, dengan pengetahuan yang cukup, kejadian yang makin parah akan bisa ditekan.

Selain itu, ayo guys kita turut memberantas peredaran ilegal barang kena cukai. Sebab sebagian dana cukai kembali ke pemerintah daerah. Namanya, DBH CHT atau Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau. DBH CHT merupakan dana yang bersifat khusus dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan ke Pemerintah Daerah (Pemerintah provinsi ataupun Pemerintah Kabupaten/Kota) yang merupakan penghasil cukai hasil tembakau dan/atau penghasil tembakau.

Penggunaan DBH CHT diatur dengan ketentuan yang tertera dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 222/PMK.07/2017. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah tentang Prinsip Penggunaan. Paling sedikit 50 persen untuk mendanai program/kegiatan seperti peningkatan kualitas bahan baku; pembinaan industri; pembinaan lingkungan sosial; sosialisasi ketentuan di bidang cukai; dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal. Sedangkan paling banyak 50 persen untuk mendanai program/kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah.

Karena cukai kembali ke kita untuk hal yang positif, maka jangan membeli rokok ilegal. Rokok ilegal adalah rokok tanpa pita cukai, dipasangi pita cukai palsu atau berpita cukai yang bukan peruntukannya. Mari menjadi pembeli bijak dengan menolak rokok ilegal.
(dhevit,dey/diskominfo)