MADIUN – Batik di Kota Madiun kian beragam. Teknik pembuatan serta motifnya juga kian banyak kini. Seperti batik Dewi Anggraini milik Wiwik Mariati ini. Berbekal pelatihan yang difasilitasi Dinas Tenaga Kerja Kota Madiun, Dewi cukup berhasil mengembangkan batik eco-print. Seperti apa?

Stan batik Dewi Anggraini milik Wiwik Mariati saat mengikuti The Spoor Festival dan Galery di Pasar Spoor, Selasa (6/3) tampak berbeda. Pengunjung yang melihat silih berganti. Maklum, motif batik yang ditawarkan warga Kelurahan Sogaten ini cukup beragam. Bukan hanya motif batik tulis. Namun, juga motif batik dengan teknik eco-print dan shibori.

‘’Motif dan warnanya menggunakan bahan alami. Seperti yang satu ini menggunakan daun jati,’’ kata Wiwik sambil menunjukkan salah satu koleksi batiknya.

Motifnya tampak natural. Membentuk daun jati berbagai ukuran. Pembuatannya memang menggunakan daun jati. Teknik ini biasa disebut eco-print. Daun jati muda diletakkan di atas kain. Bagian kain lain dilipat hingga menutupinya. Daun lantas ditumbuk secara perlahan hinga mengeluarkan getah.

‘’Getah yang keluar membentuk motif daun hingga keserat-seratnya,’’ jelasnya.

Getah, kata dia, juga sebagai pewarna alami. Coklat kemerah-merahan khas getah daun jati. Teknik dilakukan berulang hingga motif daun memenuhi lembar kain. Proses selanjutnya sama. Penguncian warna dengan tawas lantas dipanaskan dengan uap (steam).

‘’Tidak semua daun bisa digunakan. Prinsipnya harus berani mencoba,’’ terang perempuan 43 tahun ini sembari menyebut daun pepaya dan beringin beberapa yang bisa digunakan.

Tidak hanya itu, dia juga mengembangkan teknik Shibori. Pembuatan motif pada teknik dari kesenian Jepang ini dengan proses pencelupan pada pewarna. Agar membentuk pola yang indah, sejumlah bagian pada kain dilindungi supaya tidak terkena pewarna.

‘’Agar membentuk pola, bagian kain yang diinginkan diikat, dilipat, atau dililit sebelum dicelupkan pada pewarna,’’ ungkapnya sembari menyebut bahan yang digunakan untuk mengikat kain akan melindungi dari pewarna.

Baca juga:   Dinas Perdagangan Atur Strategi Tekan Inflasi

Kedua teknik tersebut bukan di dapat Dewi begitu saja. Teknik didapatnya saat pelatihan di Jogja. Dewi memang berkesempatan mengikuti pelatihan bersama 14 orang lain akhir Desember lalu. Belasan pembatik tersebut memang binaan Disnaker Kota Madiun. Bukan itu saja, pelatihan sudah didapatnya sejak 2015 lalu hingga akhirnya menjadi pembatik di Kota Madiun.

‘’Pelatihan pastinya sangat membantu. Ke depan, harapannya juga ada pelatihan untuk pemasarannya,’’ harapnya.

Sebab, pemasaran produknya baru sebatas sekitar kota pecel. Wiwik berharap terdapat perhatian pemerintah terkait pemasaran produk. Seperti kebijakan pemerintah setempat untuk menggunakan batik khas Kota Madiun bagi pegawai dan pelajar. Namun, batik tidak boleh dipesan dari luar. Sebaliknya, wajib dikerjakan pembatik di Kota Madiun.

‘’Dengan dikerjakan pembatik di Kota Madiun, banyak manfaat lain yang didapat. Seperti penyedia kain, bahan, hingga penjahit di Kota Madiun pastinya juga turut terdampak manfaatnya,’’ pungkasnya.

Nah itu guys, semakin banyakkan motif batik di Kota Madiun. Bagi kalian penggemar batik, tidak perlu lagi jauh-jauh mencari. Pembatik di kota pecel pastinya siap melayani. Kualitasnya juga berani diadu. Dan pastinya, membantu perekonomian daerah.

Jaga terus kesehatan dengan rajin berolahraga dan istirahat cukup. Jangan racuni tubuh dengan mengkonsumsi narkoba, miras, dan rokok. Bagi kalian yang merokok, jangan beli rokok illegal. Mulai rokok polos tanpa pita cukai, berpita cukai palsu atau berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu sumber pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan untuk masyarakat. So, jadi pembeli yang bijak ya. (ws hendro-agi/diskominfo)