MADIUN – Kecil-kecil cabai rawit. Ungkapan itu tepat mewakili Adelio Alvaro Putra Yurima. Pelajar kelas II SDN Mojorejo 2 ini sudah cukup malang-melintang turun dalam kejuaraan Taekwondo. Empat medali emas dan satu perak cukup membuktikan kemampuan bertandingnya. Dua di antaranya diraih saat turun di kejuaraan tingkat provinsi. Berikut kisahnya…
 
TUBUH Adelio Alvaro Putra Yurima tidak terlalu besar. Bahkan, cenderung kurus. Pun, tidak terlalu tinggi. Hanya 120 centimeter. Namun, pelajar kelas II SDN Mojorejo 2 ini aktif, lincah, dan gesit. Maklum, dia bukan pelajar biasa. Di balik tubuhnya yang kecil, Fano -sapaannya- merupakan atlet taekwondo pemegang sabuk biru.
 
‘’Ini yang terakhir kejuaraan di Pasuruan minggu lalu. Kejuaraan tingkat provinsi. Alhamdulillah dapat (medali) emas,’’ kata Ariani Yufitasari, ibu Fano saat ditemui madiuntoday, Kamis (8/2/2018).
 
Masih terlintas jelas di benak Ari, bagaimana putra keduanya itu kala bertanding. Dia selalu menyempatkan untuk mendampingi di manapun anaknya bertanding. Pertandingan Kejurprov Taekwondo di Pasuruan tersebut cukup membuat dada Ari berdesir. Bagaimana tidak, lawan yang dihadapi juga tak sembarangan.
 
‘’Terutama saat finalnya. Hanya selisih satu angka. Saya hampir tidak percaya dia (Fano) bisa menang,’’ ungkap polisi wanita berpangkat Aipda ini.
 
Fano menghadapi lawan dari Surabaya di partai pamungkas tersebut. Ari kian pesimis lantaran lawan anaknya sudah kerap menjuarai berbagai kejuaran. Benar saja, pertarungan sengit tersaji. Kejar-mengejar angka hingga ronde terakhir. Dadanya kian berdesir ketika kedua atlet mengemas poin yang sama.
 
‘’Saya tidak percaya tendangan Fano ke arah dada lawan menjadi poin penentu,’’ ujarnya sembari menyebut Fano akhirnya menang angka 30-29.
 
Kendati rasa bangga menggelayut, hati kecil Ari nyatanya teriris melihat dan membiarkan anaknya adu jotos. Maklum, namanya juga seorang ibu. Apalagi, Fano masih kecil. Masih sembilan tahun. Sebaliknya, Fano menangis haru. Itu wajar mengingat perjuangannya sejak persiapan yang cukup menguras tenaga.
 
‘’Sehari sebelum hari pertandingan, berat badan Fano kelebihan sekilo. Terpaksa harus menguruskan badan,’’ terang warga Kelurahan Manisrejo, Taman itu.
 
Fano turun di klas Gyeorugi Prakadet A M-22. Kala itu beratnya 23 kilogram. Lari mengenakan jaket sampai sauna dilakukan. Fano juga dilarang banyak minum air selama proses pengurusan itu. Ari menyebut anaknya sempat dehidrasi. Wajahnya pucat. Berat badannya berhasil turun dalam waktu delapan jam.
 
Usaha itu terbayar lunas saat medali emas berhasil didapat. Bukan hanya itu, sebelumnya dia juga pernah menyabet medali perak Porkot 2017 dan medali emas saat Kejurpov di Kediri, Kejurkot di Kota Madiun, dan Bupati Cup di Ponorogo. Kini Fano tengah mempersiapkan diri untuk Kejurprov antar pelajar di Diprobolinggo, Porkot di Ngawi dan Kota Madiun.
‘’Fano rutin berlatih dua kali seminggu di dojang Kodim 0803 Kota Madiun untuk teknik dan tiga kali seminggu untuk melatih fisiknya,’’ ujar Ari.
 
Fano biasa berlatih fisik di stadion wilis. Mulai lari minimal lima kali putaran, berlari zig-zag, dan berlari naik-turun tangga tribun stadion. Materi Taekwondo sudah dipelajari Fano sejak duduk di taman kanak-kanak. Namun, dia baru turun kejuaraan ketika kelas satu.
 
‘’Kami tidak pernah mengarahkan Fano untuk menyenangi olahraga full body contact. Ketertarikannya sudah mulai terlihat sejak kecil. Dia suka melihat film action hero anak-anak,’’ pungkasnya.
 
Itu guys, siapa rajin berlatih kesuksesan bakal diraih. Seperti Fano. Kendati masih belia, banyak pelajaran yang dapat diambil darinya. Perjuangannya berlatih dan menguruskan badan agar dapat ikut pertandingan patut diacungi jempol. Kota Madiun pastinya banyak pelajar seperti Fano. Mari dukung semangat mereka demi mengukir prestasi serta membawa nama baik Kota Madiun.
 
Jaga terus kesehatan dan selalu patuhi aturan. Patuhi juga aturan cukai. Ada tiga barang cukai yang beredar di tanah air. Yakni, hasil tembakau (rokok, cerutu, vapor, dll), etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Pastikan ketiga barang tersebut menggunakan pita cukai asli saat diperjualbelikan. Pelanggaran atas cukai bisa berujung pidana. So, jadi pembeli yang bijak ya. (ws hendro-agi/diskominfo)