MADIUN – Batik dan desain baju dari Kota Madiun semakin menancapkan namanya ditingkat provinsi. Teranyar, gaun malam etnik kolaborasi pembatik Sri Murniati dan desainer Hanif ini menarik perhatian juri gelaran lomba peragaan busana etnik Jawa Timur pertengahan Maret ini. Busana bermotif teratai anggona raras itu tampil sebagai yang terbaik. Berikut kisahnya?

SEPASANG gaun malam bermotif teratai anggona raras milik Sri Murniati tampak istimewa. Dominasi warna cokelat keemasan pada gaun menambah kesan kalem namun mewah. Motif teratai pada batik mempercantik gaun. Sedang, aksesorisnya berbahan kacang tanah memberikan kesan unik.

Tak heran, jika gaun karya desainer Hanif dengan bahan kain batik karya Sri Muniarti itu menyabet juara satu gelaran lomba peragaan busana etnik Jawa Timur 13-16 Maret lalu. Busana menyingkirkan 37 gaun dari kota/kabupaten lain se-Jawa Timur dalam acara lomba bertajuk Gelar Kriya Dekranasda Jawa Timur 2018 itu.

‘’Gaun tidak hanya menarik. Tetapi harus mengedepakan potensi lokal daerah masing-masing. Makanya, unsur silat dan pecel kami masukkan,’’ kata Sri Murniati saat ditemui madiuntoday, Senin (19/3).

Bunga teratai memang cukup familier di Kota Madiun. Ini menjadi motif utama batik tulis karya warga Jalan Halmahera 14 itu. Warna dasaran cokelat dipilih agar sesuai dengan nuansa malam yang kalem nan adem. Murni –sapaannya- membutuhkan enam lembar kain batik untuk kedua busana. Gaun semakin apik dengan tambahan selendang cokelat tua berbahan satin untuk busana perempuannya.

‘’Desain baju perempuan sengaja dibuat panjang agar terlihat anggun. Sedangkan, untuk prianya lebih ke arah elegan. Keduanya menggunakan warna sogan (nuansa warga gelap) serta ada beberapa teknik pacthwork yang di gunakan dalam Baju malam ini,’’ ujarnya sembari menyebut patchwork merupakan seni menyusun dan menggabungkan kain perca beraneka warna dan motif.

Gaun semakin unik dengan tambahan aksesoris kacang tanah. Unsur kacang tanah ini lagi-lagi mewakili konten lokal. Kacang tanah merupakan bahan utama sambel pecel Kota Madiun. Kacang yang masih lengkap dengan kulitnya itu dipermis hingga terlihat lebih kecokelatan. Kacang dirangkai lantas digunakan sebagai aksesoris.

‘’Ada yang hanya menggunakan kulitnya. Ada yang menggunakan kacang utuh. Kami ingin menonjolkan konten lokal pecel Madiun tetapi dari sudut pandang lain,’’ jelas kasi pemerintahan Kelurahan Nambangan Lor itu.

Baca juga:   Sukhoi TNI AU Siap Gempur AWR Lumajang

Butuh perjuangan untuk menambahkan aksesoris sekilo kacang tanah tersebut. Murni menyebut kacang sempat dikerubuti semut beberapa hari sebelum lomba. Tak ingin karyanya berantakan, kacang langsung dibersihkan hingga masuk lemari pendingin. Ibu tiga anak itu juga mengemas kacangnya dengan plastik berlapis kotak makan saat perjalanan.

‘’Karena hari lomba sudah dekat, tidak memungkinkan membuat baru atau mengganti desain,’’ tuturnya sembari menyebut gaun dikerjakan selama satu bulan.
Murni mengaku intens berkoordinasi dengan panitia lomba setiap kali menambahkan atau mengurangi bagian gaun. Itu dilakukan agar gaun tidak kelewat melenceng dari aturan yang ditentukan. Selain itu, keberhasilan tak terlepas dari dukungan dan motivasi ketua tim penggerak PKK Kota Madiun Sri Ismah Sugeng Rismiyanto. Perempuan nomor satu di Kota Madiun itu terus melakukan pendampingan dan getol menanyakan kesiapan hingga turut mendampingi saat lomba.

‘’Pastinya tanpa keterlibatan berbagai pihak mustahil ini dapat diraih,’’ terangnya.

Capaian tersebut tidak hanya mengantarkan Kota Madiun menjadi yang terbaik. Namun, gaun malam etnik tersebut bakal turut pameran di Bangladesh 26 Maret mendatang. Murni berangkat bersama rombongan PT Inka Madiun yang mendapat pesanan kereta dari Negeri Bengal tersebut. Kain batik motif teratai dan pecelan made in Murni juga mencuri perhatian presiden ke VI RI saat berkunjung ke Kota Madiun beberapa waktu lalu.

‘’Batik itu hampir ada disetiap daerah. Tetapi memiliki ciri masing-masing dengan mengedepankan potensi lokal. Konten lokal di Kota Madiun ini tidak kalah menarik dengan yang lain. Tinggal bagaimana pengemasannya,’’ pungkas pembatik yang mendapat pelatihan awal dari Disperindag sekitar 2010 silam itu.

Nah itu guys, potensi di Kota Madiun tidak kalah dengan daerah lain. Tinggal bagaimana mengemasnya hingga dapat mencuri perhatian. Seperti yang dilakukan Sri Murniati ini. Cintai terus warisan leluhur ya guys. Jangan malah malu karena dianggap kuno. Bahkan, batik cukup menarik warga asing. Mengapa kita tidak?

Jaga terus kesehatan dan jangan racuni tubuhmu dengan narkoba, miras, serta rokok. Tapi bagi kalian yang merokok, jangan beli rokok yang illegal ya. Merugikan negara dan masyarakat. Sebagian dana cukai dari rokok legal dikembalikan kepada masyarakat. Salah satunya, untuk pelatihan keterampilan melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. So, jadi pembeli yang bijak ya. (ws hendro,agi/diskominfo)