MADIUN – Hidup di era digital seperti sekarang ini kudu kreatif, inovatif, dan cepat beradaptasi dengan perubahan. Mereka yang enggan menyesuaikan dipastikan tertinggal. Sebaliknya, siapa yang melek perubahan, peluang terbuka lebar.

‘’Saat ini bisa dibilang era disrupsi atau inovasi yang mengganggu sesuatu yang sudah nyaman. Mudahnya, era perusakan,’’ kata Andro Rohmana, pakar ekonomi digital kepada madiuntoday, Selasa (20/3/2018).

Di dunia usaha, kata dia, selalu diwarnai adanya dominasi atau monopoli hingga pada suatu era bakal digusur dengan pelaku baru. Andro menyebut era itu sedang terjadi kini. Dia tunjuk bukti monopoli perusahaan konvensional tengah atau telah tergurus pelaku dunia digital.

Berbagai usaha telah merambah digitalisasi. Bahkan, sejumlah besar industri telah masuk era 4.0 di mana segala sesuatunya sudah terkait dengan IoT atau Internet of Things. Semua proses nyaris sudah secara otomatisasi. Ini, lanjutnya, mengancam puluhan juta pekerjaan dengan keterampilan dasar yang bersifat operatorisasi.

‘’Pekerjaan demi pekerjaan akan tergantikan oleh kecerdasan buatan maupun robot di era seperti ini. Kalau tidak segera beradaptasi dengan trend dan arah perubahan, bisa dibilang akan tergilas,’’ ungkap pemilik Touch Indonesia digital agency itu.

Pria 35 tahun itu menyarankan untuk terbuka terhadap perubahan apapun. Baik perubahan eksternal maupun internal. Setidaknya, hal baru mengemuka dengan membuka diri. Melatih diri untuk peka. Ini penting untuk dapat bersaing dalam dunia usaha era sekarang.

‘’Orang saat ini sudah tidak lagi berbicara usaha konvensional. Bahkan, mereka yang memiliki usaha online sudah mulai terpinggirkan dengan yang lebih canggih seperti e-commerce dan startup. Jadi penting membuka diri,’’ jelas Andro yang juga pemilik market place jakcloth tersebut.

E-commerce lebih sekedar toko online. Mereka sudah mengemas usahanya dengan berbagai pelayanan. Ibarat toko, e-commerce sudah memiliki pramuniaga yang mengarahkan pembeli saat mencari barang yang diinginkan. Sudah menata rapi barang dagangannya. Bahkan, turut menawarkan alternatif pilihan yang mungkin sesuai dengan karakter konsumen.

‘’Bedanya itu semua dilakukan secara otomatisasi menggunakan kecerdasan buatan seperti robot. Pemilik hanya cukup memantau,’’ ungkapnya sembari menyebut toko online baru sebatas berjualan melalui internet dengan sistem kerja manual.

Baca juga:   Antisipasi Cuaca Tak Menentu, Pemkot Rawat Tujuh Ribu Pohon Setiap Hari

Bagaimana dengan market place dan startup? Andro menyebut market place mirip dengan e-commerce. Bedanya, market place bukan sekaligus produsen. Namun, hanya sebagai penghubung antara pembeli dan penjual. Namun, pelayanan yang disajikan juga secara otomatisasi. Bahkan, mesin bakal terus mengejar konsumen dengan mencarikan berbagai produk lain yang sekiranya sesuai.

‘’Kalau pernah mendapat email terkait sesuatu barang lain setelah berbelanja online, itu sebenarnya mesin yang bekerja. Pemilik tidak perlu menggaji pegawai untuk menawarkan produk. Proses penawaran secara otomatis berjalan. Jelas ini mengancam pelaku usaha dengan sistem manual kalau tidak mau membuka diri,’’ terangnya sembari menyebut startup dapat dikatakan usaha yang baru dirintis.

Andro menyebut terdapat tiga fase mengawali startup. Yakni, problem and solution fit, product and market fit, dan scale. Pelaku wajib memahami masalah dan mencari solusinya. Memahami kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi terkait produk yang ditawarkan. Mencari cara pemasaran yang sesuai dengan sasaran. Baru kemudian memikirkan bagaimana usaha ini dapat berkembang.

‘’Baiknya berfikir dari yang paling sederhana dulu. Kebanyakan pelaku usaha gagal karena terlalu banyak fokus. Terlalu banyak produk yang ingin dipasarkan,’’ pungkasnya sembari menyebut lazim disebut minimum viable product (MVP).

Nah itu guys, membuka diri terkait perubahan penting dilakukan. Tentu agar tidak tergilas zaman. Sebaliknya, peluang terbuka lebar bagi yang peka perubahan. Seperti Andro yang cukup sukses mengembangkan usahanya dengan mengikuti trend. Berbagai tantangan pastinya mengemuka di depan. Namun, bukan berarti tak tersolusikan.

Bekali diri dengan pengembangan kompetensi lebih lanjut, seperti pelatihan atau sertifikasi dari sekolah-sekolah yang berbasis digitalisasi. Startup academy salah satunya. Pemerintah pastinya bakal mengupayakan secara optimal. Layanan internet gratis misalnya. Ini pastinya cukup membantu masyarakat untuk mendapat pundi-pundi rupiah bagi yang bijak memanfaatkannya.

Jaga terus kesehatan dan selalu patuhi aturan. Patuhi juga aturan cukai. Dana cukai merupakan salah satu sumber pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Mulai untuk peningkatan fasilitas kesehatan, pelatihan, hingga peningkatan infrastruktur. Membayar cukai sesuai aturan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat. (ws hendro,agi/diskominfo)