MADIUN – Kota Madiun kaya akan seniman jempolan. Salah satunya, Harry Tjahjono. Warga Jalan Kuweni Kelurahan Kejuron, Taman ini merupakan seniman dengan banyak bakat. Mulai sastrawan, wartawan, pencipta lagu, penulis naskah, sutradara hingga banyak lagi lainnya.

Skenario sinetron Si Doel Anak Sekolahan, lagu tema Keluarga Cemara, hingga serial Aisyah yang tayang di salah satu stasiun televisi Singapura merupakan di antara karya wong Madiun yang satu ini. Namun, dibalik seabrek karya besarnya, kesederhanaan dalam dirinya tetap mengemuka.

Mengenakan kaus oblong berpadu celana pendek, Harry santai berbincang pagi itu. Ditemani secangkir kopi hitam dengan hisapan rokok dari mulutnya yang tak pernah putus, berbagai topik mengemuka. Mulai dunia seni hingga potensi di Kota Madiun yang cukup besar. Beberapa tetangga Harry yang datang menambah suasana salah satu warung kopi tak jauh dari rumahnya itu kian gayeng saat ditemui, Jumat (23/3/2018).

‘’Banyak seniman muda di Kota Madiun. Sayangnya, kurang mendapat kesempatan. Belum ada panggung untuk mereka unjuk gigi,’’ kata seniman 64 tahun itu santai.

Dunia seni, kata dia, tidak bisa berjalan sendiri. Butuh keterlibatan banyak pihak agar dapat berkembang. Dapat dikenal dunia. Pemerintah harus memberikan ruang. Mulai dukungan, fasilitas, hingga kesempatan. Berbagai kegiatan yang digelar baiknya melibatkan seniman. Paling tidak agar karya mereka dikenal.

‘’Media juga mengambil peran. Namun, belum banyak media yang mengulas terkait ini. Padahal, media semakin banyak sekarang ini,’’ ungkap mantan pemimpin redaksi tabloid deFACTO, PRO-TV, Bintang Indonesia, dan Fantasi itu.

Wartawan sekarang ini lebih senang membahas sesuatu secara umum. Anggapannya, dapat segera melambungkan namanya dengan memberitakan secara global. Padahal, berita yang disajikan menjadi dangkal. Itu wajar, lantaran materi yang diulas kelewat luas. Padahal, berita yang disuguhkan dapat lebih mendalam jika mau melihat lebih dekat.

‘’Wartawan sekarang lebih senang menulis hutan daripada pohon. Padahal, berita akan lebih in-depth (mendalam) kalau objek yang dipandang lebih detail,’’ ungkap pemenang sayembara cerpen majalah Zaman, pemenang sayembara novel majalah Femina, pemenang tajuk rencana hari ibu Menteri UPW 1989, dan pemenang esai majalah Tiara 1992 itu.

Warga yang kini tinggal di Jalan Palem 3 No. 21 Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan itu memang cukup kenyang pengalaman. Setidaknya, dia sudah 40 tahun berkecimpung di dunia media, seni, hingga perfilman itu. Setidaknya, skenario 102 episode sinetron Si Doel Anak Sekolahan merupakan karya Harry. Itu mengantarkannya hingga ke berbagai belahan dunia.

Baca juga:   Pemkot Madiun Menuju E-Kinerja

‘’Sebelumnya saya sudah cukup kenal dengan Rano Karno hingga akhirnya dilibatkan untuk pembuatan skenerionya,’’ ujarnya.

Maklum, Harry sudah lebih dulu berkecimpung dalam media infotainment. Kerap berurusan dengan artris. Sinetron Si Doel Anak Sekolahan tidak langsung diterima. Bahkan, sering ditolak stasiun televisi. Apalagi, Karnos Film merupakan production house kecil. Belum punya nama. Belum dipercaya. Namun, siapa sangka sinetron meledak setelah tayang di layar kaca.

‘’Menjadi penulis memang tidak instan. Harus rajin melakukan observasi, mencari referensi, dan terus melatih daya kritis,’’ ungkapnya sembari menyebut itu semua harus terus dilatih dan dilatih.

Harry menambahkan karya besar dapat berangkat dari yang kecil. Sinetron Si Doel misalnya. Hanya alm Benyamin yang merupakan artis besar dalam sinetron. Honornya mencapai Rp 7 juta sekali episode kala itu. Sedang pemain lain hanya berkisar seratusan ribu. Mulai Mandra, Nunung, Pak Bendot, dan lainnya. Bahkan, pemain figuran banyak melibatkan warga sekitar.

‘’Bermimpi harus tinggi. Tapi mulailah dari yang kecil. Banyak pelajaran dari perjalanan yang ditempuh. Harus terus berlatih,’’ ujarnya sembari menyebut sinetron Si Doel berangkat dari Si Doel Anak Betawi.

Itu guys, sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil. Terus berlatih dan berusaha untuk mewujudkannya. Kota Madiun menyimpan potensi besar kendati keterbatasan sumber daya alam. Paling tidak, memiliki potensi SDM yang luar biasa. Banyak seniman besar dari kota pecel. Ini wajib menjadi inspirasi.

Jaga terus kesehatan dan selalu patuhi aturan. Patuhi juga aturan cukai. Ada tiga barang cukai yang beredar di tanah air. Yakni, hasil tembakau (rokok, cerutu, vapor, dll), etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Pastikan ketiga barang tersebut menggunakan pita cukai asli saat diperjualbelikan. Pelanggaran atas cukai bisa berujung pidana. So, jadi pembeli yang bijak ya. (ws hendro-agi/diskominfo).