MADIUN – Kota Madiun memiliki banyak bangunan bersejarah. Setidaknya, 19 di antaranya tengah menuju cagar budaya kini. Salah satunya, Gereja Santo Cornelius yang berada di Jalan Pahlawan Kelurahan Pangongangan, Manguharjo ini.

‘’Bangunan (gereja) memiliki sejarah panjang. Berkaitan dengan sejarah Kota Madiun. Keaslian bangunan harus terus terjaga. Makanya, kami usulkan untuk menjadi cagar budaya,’’ kata Kasi Pembinaan Sejarah, Nilai-nilai Tradisional dan Cagar Budaya Disbuparpora Kota Madiun Sumiati.

Penelusuran unsur cagar budaya sengaja melibatkan tim ahli dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan. Mulai penilaian secara fisik bangunan hingga penelusuran sejarahnya. Terdapat lima bangunan komplek gereja yang tengah diusulkan. Mulai bangunan gereja, balai paroki, kantor administrasi, bangunan untuk orang muda katolik (OMK), dan rumah tinggal pastor. Kelima bangunan pastinya memiliki nilai cagar budaya tersendiri.

Hasil penelurusan tim, bangunan utama gereja menghadap timur dengan denah persegi panjang. Tampak depan bangunan gereja ini tak simetris. Terlihat dari adanya penonjolan bangunan beratap perisai rendah di sebelah kiri. Sedang, terdapat menara lonceng disebelah kanan. Pada bagian bawah menara terdapat pintu pelengkung yeng menghubungkan ke ruang dalam gereja.

Sementara pintu masuk utama berada di tengah di bawah sebuah porch beratap pelana. Pada bagian porch terdapat tiga buah pintu berbentuk persegi dengan dua partisi tiang beton di tengahnya. Di atas pintu ditempatkan pelindung atap datar berbahan cor. Dinding atas porch di tempatkan boven berbentuk lingkaran ditutup kaca vitrum. Sementara di bagian depan porch terdapat penambahan serambi beratap datar berbahan cor beton. Atap bangunan utamanya berbentuk pelana dengan ciri plafon tinggi dengan ukuran sebelas meter.

Klik untuk memperbesar.

‘’Menurut tim, kondisi bangunan masih cukup bagus hingga sekarang. Ini bukti adanya perawatan yang baik,’’ ujarnya.

Padahal, tempat peribadatan umat Katolik di Kota Madiun itu sudah berdiri ratusan tahun silam. Bangunan diprediksi sejak 1899. Maklum, Madiun merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang sejak lama menjadi tempat bagi komunitas pemeluk Katolik. Kota ini merupakan bagian dari stasi baru yang dibentuk di Ambarawa, Jawa tengah. Daerah pelayanannya meliputi Pacitan, Ngawi, Ponorogo, dan Magetan.

‘’Untuk imamnya kala itu ditunjuk Romo C. Fransen, SJ yang sebelumnya bekerja di Surabaya,’’ ujarnya.

Sebelum 1897 Madiun hanya berstatus stasi yang berada di bawah Paroki Santo Yusup Ambarawa. Baru setelah itu menjadi stasi tetap. Menurut Liber Baptizatorum 1859–1897 di Paroki St. Antonius dari Padua Solo diketahui baptisan pertama di Madiun dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 1860. Jan Hendrik diketahui menjadi orang yang dipermandikan kala itu.

Baca juga:   Pakai Udheng dan Jarit

Cornelius Stiphout SJ ditetapkan sebagai Romo setelah menjasi stasi tetap. Melayani hingga Blitar, tulungagung, Pare, Kediri, Nganjuk dan Kertosono. Penetapan sebagai stasi itu kemudian diikuti dengan pendirian gedung pastoran. Gereja Stasi Madiun didirikan 1899 yang letaknya di sebelah barat pastoran gereja. Bangunan mulai digunakan 12 Maret 1899. Sebanyak 27 anak dipermandikan pada 22 Maret atau beberapa hari setelahnya. Jumlah tersebut cukup banyak mengingat umat di Madiun saat itu hanya berkisar 400 orang.

‘’Pada akhir Juni 1904 tugas Romo Cornelius digantikan Romo BG. Schweitz, SJ. Sama dengan pendahulunya, Romo Schweitz juga harus melayani daerah lain di luar Madiun seperti Kediri, Pare, Ngawi dan Kertosono,’’ jelasnya.

Pada masa kepemimpinannya Romo Schweitz melakukan banyak hal bagi perkembangan umat Katolik dan masyarakat Madiun. Dia merintis panti asuhan yang menampung anak-anak dari Madiun dan sekitarnya. Selain itu, mengundang Komunitas Suster Ursulin (OSU) dari Kepanjen, Surabaya untuk turut berkarya di Madiun. Komunitas suster inilah yang beberapa tahun kemudian mendirikan beberapa lembaga pendidikan yang hingga kini masih bertahan.

Seriring berjalannya waktu, umat Katolik di Madiun semakin meningkat. Selain ada banyak sekolah-sekolah yang dibentuk, organisasi rohaninya pun semakin bertambah. Ada Wanita Katolik, Katolik Wandowo, Pangruktiloyo, Kepanduan, Palupi Darma, Maria Kongregasi, dan lain sebagainya. Banyaknya aktivitas tersebut membutuhkan tempat baru untuk berkumpul. Gedung Katholiek Sociale Bond yang berfungsi sebagai tempat untuk pertemuan dibangun pada 1934. Gedung itu kini menjadi Balai Paroki.

‘’Gereja lama yang dibangun pada 1899 sudah tidak muat lagi. Maka pada 1937 dimulailah pembangunan gereja baru yang bisa menampung umat hingga 600 orang,’’ jelasnya sembari menyebut pembangunan selesai pada 1938.

Pada tanggal 19 Juni tahun itu diadakan pemberkatan gereja baru oleh Mgr. Th. Backere CM, Prefek Apostolik Surabaya, dengan nama pelindung Santo Cornelius. Dengan demikian mulai saat itu Stasi Madiun telah meningkat statusnya menjadi Paroki. (ws hendro,agi/diskominfo)

Jaga terus kesehatan dan jangan racuni tubuhmu dengan narkoba, miras, serta rokok. Tapi bagi kalian yang merokok, jangan beli rokok yang illegal ya. Merugikan negara dan masyarakat. Sebagian dana cukai dari rokok legal dikembalikan kepada masyarakat. Salah satunya, untuk pelatihan keterampilan melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. So, jadi pembeli yang bijak ya.