Aktif Berkegiatan, Ida Wijayanti Buktikan Mampu Raih IPK Terbaik

MADIUN – Hasil nilai Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan kelulusan bagi siswa kelas XII SMA/sederajat telah diumumkan. Kini, saatnya mereka menghadapi dunia baru. Salah satunya kehidupan kampus, baik di dalam maupun luar kota.

Bagi sebagian orang, kuliah menjadi masa mereka untuk mengeksplorasi kemampuan diri lebih jauh. Misalnya, dengan mengikuti organisasi di kampus, menjadi aktivis, atau bahkan mencoba magang kerja. Namun, tak sedikit pula yang memilih fokus kuliah saja. Salah satu alasannya, takut pendidikannya terbengkalai jika terlalu sibuk berkegiatan.

Ida Wijayanti pun membuktikan bahwa aktif di kegiatan tak menghalanginya untuk tetap berprestasi. Alumnus Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga ini berhasil lulus dengan IPK 3,92. ‘’Memang pernah bertekad punya IP sempurna untuk membahagiakan orang tua, terutama ibu,’’ ujar penghobi menulis, public speaking, dan travelling itu.

Padahal selama berkuliah, perempuan kelahiran Madiun 11 Desember 1995 ini aktif di kegiatan non akademik. Antara lain, menjadi instruktur di Cartenz HRD dan trainer di Pyramida Edu Training. Dia juga berpartisipasi sebagai relawan dalam acara nasional maupun internasional. Seperti, UN Habitat dan Asian Australia Research Summit.

Alumnus SMAN 2 Madiun itu pernah mengikuti pertukaran pelajar di University Brunei Darussalam (UBD). Selain itu, Ida juga menjadi juara II Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) FEB Unair 2016.

Ida menuturkan, dirinya termasuk sosok yang tak bisa diam. Ketika memutuskan hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan tinggi, dia pun mencari kesibukan untuk mengisi waktu luang. Menjadi trainer outbond dipilih karena letak kantornya dekat dari kos. ‘’Saya dulu nggak bawa motor,’’ ungkapnya lantas tertawa.

Mengenai pencapaiannya di bidang akademik, Ida mengungkapkan bahwa dirinya tak memiliki strategi khusus. Bahkan, dia mengaku jarang belajar. Bahkan, catatan di telepon genggamnya tentang tekad ingin meraih IP sempurna pun sempat dia lupakan.

Baca juga:   Sang Maestro Harry Tjahjono

‘’Waktu buka-buka catatan, baru ketemu kalau pernah menulis itu. Tapi justru IP sempurna baru berhasil dicapai setelah ibu sudah tidak ada,’’ tuturnya sembari menceritakan bahwa sang ibu meninggal ketika dirinya semester IV.

Bagi Ida, ada satu hal yang terus diterapkannya sehingga berhasil meraih prestasi yang baik. Yakni, tidak meninggalkan kelas sebelum benar-benar paham terhadap materi yang baru diajarkan. Kalau masih ada yang belum dia mengerti, Ida akan bertanya kepada dosen atau teman-temannya. ‘’Keluar kelas harus clear,’’ ucap putri dari Widjojo Santosa dan (Almh) Faridha itu.

Selain itu, Ida juga berupaya membagi waktu dengan baik. Antara kuliah dan pekerjaan tidak boleh saling membebani. Tentu saja, semua harus dijalani dengan hati yang senang dan nyaman.

Kini, penulis skripsi ”Transformasi Mustahiq: Studi Komparasi pada Lembaga Zakat Indonesia dan Brunei Darussalam” itu telah menyelesaikan pendidikan sarjana. Kegiatannya saat ini diisi dengan membantu penelitian dosen dan menulis buku. Dia berharap bisa meraih beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister. ‘’Syukur-syukur bisa sampai doktoral,’’ harapnya. (irs/madiuntoday)

Nah, kisah Ida mungkin bisa menjadi inspirasi bagi adik-adik yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Jangan takut mengembangkan diri dengan berbagai kegiatan. Namun, harus tetap menjaga komitmen untuk meraih prestasi yang membanggakan.

Selalu jaga kesehatan dengan tidak mengkonsumsi narkoba, miras, dan rokok ilegal. Mulai rokok polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Dengan membayar cukai sesuai aturan berarti turut berkontribusi pada negara dan masyarakat.