MADIUN – Kreativitas memang tak terbatas. Bahkan, barang bekas sekalipun bisa bernilai rupiah. Seperti Sukesiana yang memanfaatkan koran bekas menjadi barang kerajinan bernilai jual. Berbagai barang sudah dihasilkan dari tumpukan koran bekas yang dikumpulkan. Mulai toples permen, hiasan meja bentuk sepeda, vas bunga, tempat tisu, hingga tas jinjing cantik. Kerja keras dan ulet menjadi kunci kreativitasnya.

‘’Awalnya hanya iseng buat sesuatu yang beda. Ternyata malah ada yang pesan,’’ kata warga Kelurahan Sogaten itu.

Sukesiana tak irit berbagi ilmu. Tangannya langsung mengambil potongan koran begitu diminta menjelaskan. Sukesiana tampak cekatan. Koran dengan potongan sama panjang itu digulung kecil hingga mirip tali pada awalnya. Agar gulungan tidak lepas koran dibuhi lem. Dia biasa menggunakan lem kayu. Gulungan koran tersebut lantas disusun menjadi karya yang diinginkan.

‘’Prinsipnya pada lem. Harus sering-sering diberi lem agar rangkaian tidak lepas,’’ ungkap perempuan 42 tahun itu.

Sukesiana tidak pernah melihat gambar sebagai contoh terlebih dahulu ketika menganyam gulungan koran tersebut. Rangkaian mengalir begitu saja hingga membentuk barang yang diinginkan. Seperti saat membuat toples. Rangkaian melingkar dengan diameter semakin melebar pada bagian atasnya. Tak perlu waktu lama. Toples pun jadi.

‘’Pewarnaan menjadi langkah terakhir. Biasanya menggunakan plitur atau pernis,’’ terang ibu tiga anak tersebut.

Baca juga:   Wisata Belanja Bunga di Kota Madiun

Kendati cukup sepele, berbagai barang hasil karya Sukesiana cukup laris manis di pasaran. Dia mematok harga Rp 15 ribu hingga Rp 150 ribu. Harga tergantung besaran dan tingkat kesulitan. Kreasi made in Sukesiana tidak hanya terjual di Kota Madiun. Namun, sudah merambah kesejumlah daerah sejak dijual online.

‘’Prinsipnya harus telaten dan terus berfikir sesuatu yang baru. Sekalipun itu dimulai dari barang bekas,’’ terangnya sembari menyebut dari sepuluh kilo koran bekas dapat menjadi 40 barang kerajinan beraneka jenis.

Cerita daur ulang barang bekas itu dimulai sejak Sukesiana mengikuti pelatihan yang digelar Disnaker setempat 2014 silam. Dia mulai iseng membuat sesuatu dari barang tak terpakai di rumahnya. Barang hanya untuk pajangan di rumah pada awalnya. Keisengan berlanjut setelah sejumlah barang itu malah diminati tetangga kiri-kanannya.

 

‘’Kebetulan ibu saya dulu juga sering membuat sesuatu dari barang bekas di rumah. Mungkin sekarang menurun ke saya,’’ ungkap istri Muhtar Sodik tersebut. (ws hendro/agi/diskominfo).

Selalu jaga kesehatan dengan tidak mengkonsumsi narkoba, miras, dan rokok ilegal. Mulai rokok polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Dengan membayar cukai sesuai aturan berarti turut berkontribusi pada negara dan masyarakat.