MADIUN – Kompleks instansi pendidikan lawas di Kota Madiun tidak hanya pada sejumlah sekolah negeri. Ada juga sekolah katolik. Seperti sekolah TK, SD, dan SMP Katolik Santo Bernadus Kota Madiun yang sudah ada sejak era kolonial dulu. Kompleks bangunan yang terdiri dari ruang sekolah dan biara tersebut masih berdiri kokoh hingga sekarang. Pemerintah setempat berupaya menjadikan bangunan sebagai warisan cagar budaya tahun ini.

‘’Kompleks Santo Bernadus merupakan bagian dari sejarah panjang Kota Madiun. Ini layak menjadi bangunan cagar budaya,’’ kata Kepala Disbudparpora Kota Madiun Agus Purwowidagdo.

Keberadaan biara di Jalan Ahmad Yani 7 Kelurahan Pangongangan, Manguharjo tersebut bermula sekitar 1914 silam. Ketika itu seorang pastor yang bernama B.G. Schweitz SJ berkeliling dan membawa anak-anak telantar ke Madiun. Di sana mereka ditempatkan dekat pastoran dan diasuh oleh Ny. CH. Van Zwieten dan Ny. B.D’Haenens.

Pastor Schweitz lantas menceritakan kondisi anak-anak terlantar kepada Komunitas Suster Ordo St. Ursula (OSU) Cabang Malang dan Biara Pusat di Keuskupan Surabaya yang saat itu berada di Jalan Kepanjen. Harapannya, agar bersedia mengelola panti asuhan untuk mereka. Komunitas Ordo St. Ursula yang saat itu dipimpin Suster Mere Angele Fiecken lantas menyetujui tawaran tersebut.

‘’Perluasan karya Ursulin menjadi pertimbangan saat itu. Komunitas merasa pelayanan sudah waktunya meluas dari Kepanjen,’’ ujarnya sembari menyebut penelusuran sejarah melibatkan tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan.

Klik foto untuk memperbesar.

Komunitas Kepanjen lantas merelakan enam suster untuk pergi ke Madiun. Yakni, Mere Agnes Cohill OSU, Mere Edmunda Hafkenscheid OSU, Mere Suzanne Sanders OSU, Mere Josepha Wilberts OSU, Mere Paula Leefers OSU, dan Mere Bernarda Steenbruggen OSU. Suster-suster tersebut datang di Madiun 17 Juli 1914 dengan naik kereta api.

Mereka melakukan pembagian tugas keesokan harinya. Mere Edmunda mempersiapkan pembukaan Taman Kanak-Kanak (TKK), Mere Agnes dan Mere Suzanne Sanders akan mengurus anak-anak piatu, Mere Paula mengurus rumah tangga dan membantu panti asuhan, Mere Bernarda akan menjadi kepala dapur, dan Mere Josheps memberi pelajaran piano.

Rencana, kata Agus, tidak berjalan seperti yang diinginkan. Para suster berharap dapat membantu mencari nafkah dengan membuka les piano. Mereka memang mendapat sumbangan piano dari komunitas di Malang. Namun, murid les piano yang diharap tak kunjung ada. TKK baru bisa terwujud sebulan setelahnya. Pun, hanya dengan enam murid. Memasak menjadi sulit lantaran anglo dan tungku tidak memadai. Makanan yang disajikan selalu habis tanpa sisa. Uang semakin menipis dan harus banyak berhemat. Keadaan panti asuhan pun memprihatinkan. Para suster harus banyak berkorban untuk mempertahankan pengelolaan panti.

Baca juga:   Lima Barang yang Harus Ada Saat Imlek

Pastor Schweitz digantikan oleh Pastor H. Mulder SJ setahun kemudian atau 1915. Pada era kepemimpinan yang baru itu dilakukan renovasi panti asuhan. Pastor Mulder mengadakan lotre di kalangan orang Belanda untuk membantu pasti asuhan. Uang yang bisa dikumpulkan 60.00 gulden. Cukup untuk membangun ruang-ruang tidur besar dan beberapa ruang lain seperti untuk kamar mandi dan kamar ganti. Namun, jumlah itu tidak mencukupi untuk biaya operasional panti. Pernah panti ini diputuskan untuk ditutup dan memindahkan anak-anak ke Surabaya.

‘’Namun, Mgr. Luypen SJ yang saat itu menjabat uskup di Batavia tidak menyetujui,’’ ungkapnya.

Di tengah suasana penuh keprihatinan itu, para suster di Madiun ini tak pernah berputus asa. Mereka terus membuka berbagai jenjang pendidikan di Madiun. Mulai Froberschool (TKK), ELS, dan HIS. Harapannya, masyarakat Madiun mempercayakan pendidikan anak-anaknya di sekolah-sekolah yang dibentuk para suster Ursulin tersebut.

Perbaikan dan pembangunan sarana gedung tetap dilanjutkan kendati kesulitan masih merintangi. Sejak 1914 mereka telah membuka TKK bagi anak-anak yang berbahasa Belanda. Pada tahun 1922 mereka membuka TKK yang kedua. Kali ini khusus untuk anak asli Jawa. Jumlah anak asli Jawa segera bertambah sampai lebih dari 65 anak. Ini tak lepas dari jasa Mere Hildegard Borckmann OSU yang kembali ke Noordwijk, Belanda untuk mencari dana.

Sepulang dari Noordwijk sekitar 1924 Suster Hildegard mempimpin panti asuhan dan TKK di Madiun. Panti asuhan lantas diserahterimakan dari Yayasan Paroki kepada para suster Ursulin 6 Juli 1924. Pembangunan gedung sekolah dimulai 31 Juli 1924. Namun, peletakan batu pertamanya secara resmi dilakukan oleh Mgr. AP van Velsen SJ pada 20 September 1924.

Pada perkembangan selanjutnya, komunitas membuka Europeesche Lagere School (ELS) atau sekolah dasar berbahasa Belanda dan Hollands Inlandsche School (HIS) sekolah dasar berbahasa Jawa pada 1 Juli 1925. Kedua sekolah itu mampu menampung 150 murid. Pada tahun itu pula, tepatnya pada 10 Juli 1925 Mgr. AP van Velsen SJ kembali datang ke Madiun untuk memberkati gedung sekolah baru bertingkat dua dengan panjang sekitar 200 meter itu.

‘’Gedung itulah yang hingga kini masih bertahan dan digunakan sebagai asrama, biara, SD dan SMP Santo Bernardus,’’ pungkasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan tidak mengkonsumsi narkoba, miras, dan rokok ilegal. Mulai rokok polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Dengan membayar cukai sesuai aturan berarti turut berkontribusi padanegara dan masyarakat.