MADIUN – Bicara soal prestasi, kemampuan putra daerah Kota Madiun sebenarnya cukup membanggakan lho. Banyak di antaranya yang berhasil menunjukkan eksistensi. Bahkan di luar kandang pun mereka mampu bersaing dengan pelajar dari daerah lain juga.

Salah satunya seperti Genoveva Alicia Karisa Sheilla Maya. 23 Mei lalu, gadis kelahiran 2 Januari 1998 ini menjadi lulusan terbaik Fakultas Hukum pada wisuda periode III Universitas Gadjah Mada 2018. Geno, sapaan akrabnya, berhasil meraih IPK 3,96.

Kepada MadiunToday, Geno menyampaikan bahwa sebenarnya dia tidak pernah memasang target untuk mendapatkan IPK tertinggi. Meski demikian, dia tetap berusaha maksimal dalam belajar. ‘’Sayang sekali kalau saya sudah kuliah jauh-jauh ke Jogja hanya untuk bolos, tidur di kelas, tidak belajar, dan membuat tugas asal-asalan,’’ tuturnya.

Pada masa awal kuliah, Geno mengaku minder dengan teman-temannya yang merupakan lulusan terbaik dari daerahnya masing-masing. Seperti, Bali, Batam, dan Jakarta. Karena itulah, dia terus memacu semangat untuk belajar dengan rajin.

Bagi alumnus SMAN 2 Madiun ini, persaingan di Fakultas Hukum sangat ketat. Setiap angkatan terdiri atas 450 orang. Jika tidak belajar dengan maksimal, tentu tidak dapat bersaing dengan 449 orang lainnya. Otomatis, dalam meraih pekerjaan yang diingingkan pun akan sulit.

Selain itu, Geno juga ingin ilmunya dapat bermanfaat bagi orang lain. Prinsipnya, jangan sampai menjadi orang yang mudah diperdaya oleh orang lain. Untuk itu, dia harus berusaha dan belajar dengan keras agar menjadi orang yang berilmu dan dapat menolong orang lain.

Salah satu kunci sukses yang diterapkan putri pasangan Eko Budi Setiawan dan Yohana Sekar Arum ini adalah selalu mencatat materi yang disampaikan dosen dengan detail. Ketika akan ujian, dia membuka kembali catatannya. Juga, menambah pengetahuan dengan membaca referensi lain. ‘’Karena yang terpenting di Fakultas Hukum itu satu. Membaca sedetail mungkin semua bahan yang ada,’’ ungkapnya.

Meski demikian, kehidupan kampus Geno tak melulu diisi dengan belajar. Dia juga aktif dalam berbagai kegiatan dan lomba. Misalnya, mengikuti lomba peradilan semu di internal kampus dan lomba menulis karya ilmiah tingkat nasional.

Geno juga tergabung dalam KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) FH UGM dan pernah menjabat sebagai humas di KMK. Selain itu, dia pun menjabat sebagai kepala bidang administrasi dan keuangan FPPH PALAPA (Forum penelitian dan penulisan hukum PALAPA) yang berfokus pada diskusi dan kajian hukum.

Baca juga:   Jaga Pakan dan Kenali Karakter

Sementara itu di luar kampus, Geno aktif sebagai relawan di Rifka Annisa Women’s Crisis Center. Yakni, sebuah LSM yang memberikan konseling hukum pada korban-korban kekerasan terhadap perempuan yang berbasis gender. Dia juga menjadi relawan di Project Child, sebuah NGO yang bergerak di bidang pendidikan, untuk mengajarkan anak-anak SD mengenai literasi di dunia internet (internet literacy).

‘’Di awal-awal kuliah saya juga pernah bergabung dalam tim manajemen GMCO (gadjah mada chamber orchestra) namun tidak lama karena kesulitan membagi waktu dengan kegiatan MCC waktu itu dan juga di DEMA (Dewan Mahasiswa FH UGM) di divisi aksi dan propaganda,’’ paparnya.

Menjadi relawan di Rifka Annisa Women’s Crisis Center merupakan pengalaman berkesan bagi gadis 20 tahun ini. Kegiatan itu dia jalani pada semester 5 hingga lulus. Geno diberikan tanggung jawab sebagai konselor hukum. Karena itu, dia bertemu banyak sekali klien yang mengalami kekerasan terhadap perempuan berbasis gender. Seperti, korban pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan lain-lain. Kemudian, membantu mereka untuk menyelesaikan masalahnya.

‘’Bertanggung jawab atas permasalahan hukum bagi para korban ini tidaklah mudah. Sebab, saya juga harus berhadapan dengan permasalahan psikologis mereka karena memang setiap korban pasti mengalami trauma yang mendalam,’’ ujarnya.

Geno sempat dibuat terperanjat saat mendengarkan kisah para kliennya itu. Rupanya, cerita yang sering dia lihat di layar kaca benar-benar terjadi di dunia nyata. Dari situ, dia menemukan passion terhadap isu-isu yang akan dia perhatikan lebih lanjut ke depannya.

Sembari mempersiapkan studi master, kini Geno menjalani pekerjaan sebagai asisten peneliti di LSM lembaga riset di Jakarta. Rencananya, dia akan melanjutkan S2 ke luar negeri. ‘’Harapannya, bisa belajar mendalam di bidang hukum dan gender lalu kembali ke Indonesia untuk menerapkan ilmu saya,’’ imbuh perempuan yang bercita-cita menjadi dosen merangkap advokat dan peneliti handal ini. (irs/madiuntoday)

Dari kisah Geno di atas, kita bisa belajar bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Karena itu, terus belajar dan berusaha untuk mencapai cita-cita. Dan, jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan dengan tidak mengkonsumsi narkoba, miras, dan rokok ilegal. Mulai rokok polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Dengan membayar cukai sesuai aturan berarti turut berkontribusi pada negara dan masyarakat.