Pengajar Muda dari Madiun Berbagi Pengalaman Mengabdi di Ujung Indonesia

Dyah Ayu Kusumaningrum berbakti di tanah Papua.

MADIUN – Mutu pendidikan yang belum merata di wilayah Indonesia mendorong dua putra daerah Madiun ini untuk membuktikannya. Melalui program Indonesia Mengajar (IM), mereka terjun langsung ke pelosok nusantara memberikan ilmu yang mereka miliki untuk anak-anak negeri.

Kedua putra daerah itu adalah Dyah Ayu Kusumaningrum dan Indah Kusuma Wardani. Meski waktu keberangkatannya berbeda, pengalaman berkesan itu tak akan pernah terlupa sepanjang masa.

Dyah Ayu Kusumaningrum atau yang akrab disapa Budy mendapatkan kesempatan mengajar di SD YPK Pniel Sambrawai, Yapen Utara, Papua Barat. Kegiatan itu dijalaninya sejak Mei 2017 – Mei 2018. ‘’Budy itu singkatan dari Bu Dyah. Anak-anak (murid, red) yang menamainya,’’ tutur lulusan terbaik dengan predikat cumlaude Silvikultur, Institut Pertanian Bogor itu.

Dyah Ayu Kusumaningrum bersama murid-murid di samping sekolah.

Bagi Budy, mengajar di Papua memang salah satu impiannya. Sejak kuliah, dia sudah tertarik untuk mengikuti program IM. Namun, program itu hanya bisa diikuti oleh para sarjana. Karenanya, Budy langsung mendaftar setelah lulus kuliah.

Para calon pengajar muda IM tidak dapat memilih lokasi penempatan. Meski demikian, Budy cukup beruntung karena berhasil mendapatkan lokasi yang diidam-idamkan sejak dulu.

Keinginan mengajar di Papua berangkat dari pemikirannya tentang provinsi terluas di Indonesia itu. Menurutnya, Papua merupakan salah satu keunikan yang dimiliki Indonesia. Selama ini, wajah pendidikan Indonesia pun kebanyakan adalah orang-orang Timur. ‘’Saya ingin membuktikan yang kata orang di sana infrastruktur masih kurang dan pendidikannya juga kurang,’’ ungkapnya.

Di Yapen, perempuan kelahiran Madiun 31 Juli 1992 itu mengajar kelas I-VI. Sistem mengajar dilakukan secara bergantian atau kelas rangkap. Total ada 98 murid di sana. Namun, yang aktif hanya sekitar 60 siswa saja.

Dari pengalaman itu, Budy menyimpulkan bahwa anak-anak Papua sebenarnya pintar. Hanya sarana prasarana serta ketersediaan guru yang kurang membuat mereka sulit mendapatkan pendidikan yang layak. ‘’Mereka cepat menangkap pelajaran dan kreatif,’’ ucapnya.

Tak hanya mengajar, para Pengajar Muda juga dituntut untuk dapat berbaur dengan lingkungan sekitar. Mereka juga mengikuti kegiatan yang sehari-hari dilakukan oleh masyarakat tempat tinggalnya. Seperti berkebun hingga perayaan adat.

Menjadi satu-satunya muslim di wilayah Yapen, tak membuat Budy menemukan kesulitan untuk melaksanakan ibadah. Penduduk Papua sangat terbuka dengan orang baru. Mereka juga mudah memahami perbedaan. Bahkan ketika shalat pun, para murid sangat pengertian dengan tidak berisik di dekatnya.

Baca juga:   Obet Ayomi, Menjaga Perbatasan di Tanah Kelahiran

Meski demikian, pengalaman kurang menyenangkan pernah dirasakannya. Seperti, tidak ada sinyal komunikasi mengakibatkan sulit menghubungi keluarga di rumah. Juga, pergaulan di Papua yang cukup terbuka sehingga harus lebih hati-hati menjaga diri.

Hal sedikit berbeda dirasakan oleh Indah. Sebagai PM angkatan ke-XI, perempuan kelahiran Madiun 2 Oktober 1991 itu mengajar selama periode 2016-2017 di SD 9 Cot Girek, Aceh Utara.

Berbeda dengan Papua, masyarakat Aceh cukup tertutup dengan pendatang baru. Namun, mereka akan sangat terbuka setelah kenal. ‘’Awalnya memang sulit untuk pendekatan. Tapi setelah kenal ya seperti filosofi pintu rumah masyarakat Aceh. Kalau sudah terbuka, mereka akan memberikan apa saja,’’ ungkap alumnus SMAN 2 Madiun itu.

Menurut Indah, pernyataan bahwa mutu pendidikan di Indonesia belum merata itu ada benarnya. Mengajar di ujung nusantara membuatnya seperti kembali ke zaman dulu. Di mana, fasilitas pendidikan dan tingkatannya masih terbatas. ‘’Tapi anak-anak di sana semangat untuk belajar,’’ ujarnya.

Kini, pengalaman itu telah menjadi cerita yang paling berkesan untuk dikenang. Mendapat kesempatan mengajar di salah satu wilayah terluar Indonesia justru tak membuat mereka kapok. Bahkan, keduanya semakin perhatian dengan isu-isu pendidikan. ‘’Inginnya tetap berkecimpung di dunia pendidikan saat bekerja nanti,’’ tandasnya. (irs/madiuntoday)

Nah, bagaimana tanggapan sahabat MadiunToday dengan kisah Budy dan Indah tadi? Apakah kalian terinspirasi dan berminat untuk bergabung di program Indonesia Mengajar? Kalau iya, ini adalah saat yang tepat. Karena, IM sedang membuka lowongan bagi para sarjana untuk mengabdi di bidang pendidikan. Segera kunjungi laman website IM untuk mendaftar.

Selain itu, jangan lupa untuk menjaga kesehatan dengan tidak mengkonsumsi narkoba, miras, dan rokok ilegal. Mulai rokok polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Dengan membayar cukai sesuai aturan berarti turut berkontribusi pada negara dan masyarakat.