MADIUN – Peringatan Hari Jadi ke-100 Kota Madiun baru saja rampung digelar. Peringatan ditutup manis dengan pagelaran Wayang Kulit. Menariknya, pagelaran kesenian warisan nenek moyang itu menampilkan lima dalang lokal. Masih anak-anak dan remaja pula. Kelimanya menarik untuk diulas. Apalagi, mereka bukan dalang sembarangan. Pernah mengukir prestasi ditingkat provinsi dan nasional kendati masih muda.

Pagelaran wayang kulit dengan lakon Sirnaning Pedhut Ywastinopuro itu dibuka dengan penampilan Nabil Ekri Rasfadilah Erlambang. Pelajar kelas V SDN 01 Nambangan Kidul ini merupakan penyaji dalang sabet terbaik Festival Dalang Bocah tingkat Provinsi pertengahan April lalu. Bocah 11 tahun tersebut mengawali prestasi sebagai Harapan 1 Festival Dalang Bocah tingkat Kota Madiun 2015 silam. Kala itu, Nabil masih kelas I. Prestasinya meningkat tahun berikutnya. Nabil meraih juara II di 2016 dan Juara I di 2017. Capaian ini mengantarkan bocah yang tinggal di Desa Sambirejo, Jiwan, Kabupaten Madiun itu ke provinsi April lalu dan berhasil meraih dalang sabet. Anak pasangan Rudi Erlambang dan Eni Lestari itu juga lihai memainkan gendang. Dia pernah menjadi pengendang terbaik tingkat Kota Madiun di 2016 dan 2017 bersama tim karawitan Siswo Laras SDN 01 Nambangan Kidul.

Daifa Kamajaya menjadi penampil kedua. Pelajar kelas VIII SMPN 1 Madiun itu juga bukan dalang sembarangan. Dia merupakan penyaji terbaik Festival Dalang Bocah Nasional yang digelar Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) di TMII September 2017 lalu. Berbagai penghargaan lain juga pernah diraih remaja yang tinggal di Kelurahan Oro-oro Ombo, Kartoharjo itu. Mulai menjadi penampil terbaik di kota pecel, menyabet dalang mumpuni tingkat provinsi hingga penyaji terbaik tingkat nasional. Anak semata wayang pasangan Dewanto Triatmoko dan Keksi Ratnasari itu memang sudah memainkan wayang kulit sejak duduk dikelas tiga. Berbagai pagelaran wayang diikuti. Dia juga biasa memainkan wayang kulit setiap hari disela belajar di sekolah. Daifa memang mengkoleksi wayang kulit di rumah kendati tidak lengkap. Dia juga menambah wawasan dari video dari internet. Daifa belajar secara otodidak.

Sebaya dengan Daifa, terdapat Daffa Sakrisna. Pedalang satu ini juga masih duduk di bangku SMP. Dia merupakan siswa SMPN 4 Kota Madiun. Daffa masih memiliki hubungan keluarga dengan Nabil Ekri. Daffa kakak keponakan Nabil. Keluarga Daffa dan Nabil memang keluarga seniman. Daffa tentu lebih dulu berkecimpung di dunia pewayangan. Seperti Nabil, dia juga kerap meraih prestasi sejak masih SD. Dalang penyaji terbaik tingkat provinsi merupakan prestasi kali terakhir Daffa.

Baca juga:   Mengenal Dentista Queena, Ratu Matematika Asal Kota Madiun

Dua dalang terakhir merupakan senior, Nabil, Daifa, dan Daffa. Pertama ada nama Sakti Mahardika. Remaja yang bertempat tinggal di Jalan Borobudur Kelurahan Madiun Lor tersebut merupakan mahasiswa ISI Solo. Sama dengan Daffa, Sakti merupakan penyaji terbaik dalang remaja tingkat Jawa Timur.

Nama kedua dialah Aditya Krisna. Adit lebih senior lagi. Sebab, dia sudah menyelesaikan studi di ISI Solo tahun ini. Begitu juga dengan prestasinya. Remaja yang tinggal di Kelurahan Sogaten tersebut merupakan penyaji terbaik dalang muda tingkat nasional.

Sedang, 100 waranggono dan wiraswara merupakan pelajar dari SDN 05 Madiun Lor, SDN 01 Manisrejo, dan SDN 03 Madiun Lor. Untuk tingkat SMP terdiri dari SMPN 1 Madiun, SMPN 7 Madiun, SMPN 8 Madiun, dan SMPN 9 Madiun. Sedang, pelajar SMAN 1 Madiun, SMAN 2 Madiun, dan SMAN 3 Madiun merupakan perwakilan dari tingkat SMA. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan tidak mengkonsumsi narkoba, miras, dan rokok ilegal. Mulai rokok polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Dengan membayar cukai sesuai aturan berarti turut berkontribusi pada negara dan masyarakat.