MADIUN – Mengisi Kemerdekaan RI dapat melalui beragam cara. Salah satunya, mengabdi kepada nusa bangsa dan negara. Seperti yang dilakukan Anggi, Maharani, dan Wahyu ini. Tiga aparat keamanan ini tidak hanya mengabdi. Namun, juga mengharumkan nama bangsa di mata dunia. Anggi dan Maharani merupakan pasukan perdamaian di Lebanon. Sedang, Wahyu sempat bertugas di Sudan.

‘’Selama di sana kami lebih kepada misi sosial. Pendekatan kepada masyarakat dengan berbagai kegiatan sosial,’’ kata Sertu Saya Anggi Octaviana Sari saat bertemu tim madiuntoday beberapa waktu lalu.

Bersama Peltu Susanti Maharani, keduanya bertugas di negara orang selama setahun. Mereka mulai bertugas 2011 silam. Anggi dan Maharani kini bertugas di Detasemen Polisi Militer (Denpom) V/1 Madiun. Keduanya cukup spesial. Sebab, tidak banyak prajuit perempuan tanah air yang berkesempatan bertugas menjadi Satgas Perdamaian PBB. Terdapat 1.120 anggota yang berangkat. Namun, hanya delapan di antaranya yang perempuan termasuk Anggi dan Maharani.

‘’Kami perwakilan dari angkatan darat (AD). Ada empat perempuan dari AD termasuk kami,’’ sambung Maharani.

Karena perempuan, keduanya lebih banyak terlibat pada misi sosial. Bersentuhan langsung dengan masyarakat Lebanon. Mulai kegiatan bantuan sosial, cek kesehatan, membantu pembangunan gedung sekolah hingga sarana olahraga. Di antaranya, lapangan voli atau futsal. Tak heran, keduanya banyak bersentuhan dengan anak-anak di sana. Menghibur anak-anak menjadi hal biasa. Apalagi, banyak anak-anak yang secara tidak langsung menjadi korban perang.

‘’Untuk tugas yang bersentuhan dengan titik konflik sudah ada kompi tersendiri. Tetapi yang namanya berada di negara konflik kewaspadaan tetap harus utama,’’ terang Anggi.

Kendati begitu, Anggi dan Maharani kerap turut dalam patroli wilayah, mengawal pergerakan komandan di luar markas, hingga jaga gerbang. Keduanya menyebut beruntung tinggal di negara aman seperti Indonesia. Tenang dalam menjalani kehidupan. Segala akses mudah. Ada jaminan perlindungan. Kondisi ini berbalik di negara konflik. Nyaris tidak dapat menikmati hak kehidupan dengan seutuhnya.

Baca juga:   Pemkot Madiun Dukung Program Penyusunan Disagregasi PMTB 2018

‘’Bayangkan kalau harus diselimuti kekhawatiran dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Masyarakat juga yang akan dirugikan,’’ ujar keduanya sembari menyebut menjaga keutuhan penting dilakukan.

Hal senaga diungkapkan Brigadir Polisi Wahyu Hartanto. Bergabung dengan pasukan Garuda Bhayangkara II FPU (Formed Police Units) 9 Indonesia, Wahyu merasakan benar suasana di negara konflik. Warga Kelurahan Rejomulyo ini bertugas di Sudan selama satu tahun bersama 140 anggota lain.

Mereka menjaga perdamaian di sebuah wilayah dengan tingkat konflik yang cukup tinggi. Tepatnya di El-Fashr, Darfur, sekitar 1.000 KM dari ibukota Sudan, Khortum. Sebuah wilayah yang sejak 2003 lalu dilanda perang antar mereka sendiri. Sebuah kondisi yang tidak mereka inginkan.
Tantangan bukan hanya menjaga perdamaian. Tetapi juga kondisi wilayah yang jauh berbeda dengan tanah air. Sudan merupakan daerah daratan yang sangat luas. Terdapat pegunungan dan sungai-sungai lanjutan Nil. Cuaca menjadi gemblengan pertama dalam bertugas.

Suhu udara Sudan cukup ekstrem. Mencapai sekitar 3 derajat celcius pada musim dingin dan akan naik sampai 50 derajat celcius pada siang hari di musim panas. Terik. Sebuah kondisi yang membuat sebagian besar pasukan mengalami mimisan di hari-hari pertama mengarungi daerah yang kering bergurun-gurun. Belum lagi konflik yang telah berumur 14 tahun itu memang membuat perikehidupan di Darfur buruk. Ratusan ribu warga mengungsi. Mereka hidup dalam kondisi serba kekurangan. Kekurangan sarana pendidikan, makanan, tempat tinggal yang layak dan tentu saja kekurangan air bersih.

‘’Tak jarang kami harus membagikan jatah hidup kepada warga yang kami lewati saat berpatroli,’’ ungkapnya.

Air dan roti menjadi hal yang begitu berharga bagi mereka. Barangkali lebih berharga dari emas dan permata. Bahkan harga diri sekalipun. Air, sesuatu yang sering kita boroskan di Indonesia.

‘’Beruntung dapat hidup di negara aman seperti Indonesia. Ini tugas kita bersama untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan,’’ pungkasnya. (dok/agi/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dan jauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.