Mugi merupakan Kepala SDN 02 Mojorejo Madiun. Dia terpilih bersama Agung Priyono –Kasek SDN 04 Madiun Lor- menjadi duta pemerintah di daerah 3T.

MADIUN – Kualitas pendidikan harus merata. Harapannya, output yang dihasilkan juga sama. Berbagai upaya dilakukan pemerintah agar kualitas pendidikan merata. Salah satunya, melalui pertukaran kepala sekolah (kasek) ke daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Sri Mugi Lestari dan Agung Priyono mendapatkan kesempatan itu baru-baru ini. Dua kasek dari Kota Madiun ini berkesempatan mengajar dua sekolah 3T di Desa/Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo baru-baru ini.

‘’Disana kami tidak hanya mengajar tapi juga banyak hal yang dapat dipelajari. Salah satunya, semangat bertahan dengan segala kekurangan,’’ kata Sri Mugi Lestari.

Mugi merupakan Kepala SDN 02 Mojorejo Madiun. Dia terpilih bersama Agung Priyono –Kasek SDN 04 Madiun Lor- menjadi duta pemerintah di daerah 3T. Keduanya mengajar sejak 3 sampai 9 Agustus lalu. Kendati cukup singkat, berbagai pengalaman didapat. Mugi mengajar di dua sekolah. Yakni, SDN 20 dan 21 Wonosari. Jangan berharap kondisi sekolah sama di Kota Madiun. Jangankan fasilitas, akses menuju sekolah saja memprihatinkan.

‘’Jalan disana dalam kondisi rusak parah dan naik-turun. Banyak batu besar di tengah jalan. Saya tidak berani kalau diminta mengendarai motor,’’ ujarnya.

Klik untuk memperbesar foto.

Padahal, jarak tempatnya menginap dengan sekolah mencapai 17 kilometer. Beruntung pemerintah memfasilitasi kendaraan roda empat untuk akses transportasi. Sampai di sekolah perasaan miris kembali teriris. Hanya ada tiga kelas untuk enam jenjang. Artinya, anak-anak harus berbagai ruang dengan kelas lain. Ruang tidak disekat. Anak-anak antar kelas dalam satu ruang itu hanya saling membelakangi.

Baca juga:   Akses Cilacap-Banyuwangi Lebih Mudah dengan KA Wijayakusuma

‘’Jadi ada dua KBM (kegiatan belajar-mengajar) sekaligus dalam satu ruang. Bisa dibayangkan, bagaimana anak-anak di sana harus berbagi konsenterasi,’’ imbuhnya sembari menyebut bangunan masih beralas plester.

Belum lagi kondisi sarana dan prasarana. Jangan berharap terdapat alat peraga edukatif (APE). Bangku dan kursi saja banyak yang rusak. Tentu ini berpengaruh pada kualitas murid di sana. Mugi menyebut banyak anak didik di kelas tiga yang belum lancar membaca. Masih harus dieja. Semangat belajar anak-anak di sana juga rendah. Kebanyakan selesai sampau SD.

‘’Mindset orang tua juga mempengaruhi. Banyak orang tua yang memang tidak berharap anaknya melanjutkan setelah SD. Ini jadi pekerjaan rumah bersama,’’ terangnya.

Dia mengaku tidak hanya mengajar anak-anak. Tapi juga memberikan pengarahan bagi tenaga pendidik. Beberapa program di sekolahnya dikenalkan. Salah satunya, pendidikan karakter melalui dongeng pagi hari (Dopari). Beberapa guru mulai menerapkan. Namun, tentu butuh proses. Apalagi, mereka tidak biasa mendongeng.

‘’Beruntung dapat bersekolah dengan fasilitas lengkap seperti di Kota Madiun. Mereka yang juga saudara se-tanah air namun tidak mendapatkan pendidikan yang sama,’’ pungkasnya. (dok/agi/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan tidak mengkonsumsi narkoba, miras, dan rokok ilegal. Mulai rokok polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Dengan membayar cukai sesuai aturan berarti turut berkontribusi pada negara dan masyarakat.