Anak-anak dibekali cara mematikan api menggunkan kain goni. (wshendro - madiuntoday)

MADIUN – Musim kemarau kali ini cukup panjang. Bukan hanya masalah kekeringan, kebakaran juga kerap terjadi. Begitu juga di Kota Madiun. Kebakaran di kota pecel cukup tinggi tahun ini. Sudah 47 kali kejadian sejak Januari lalu. Kewaspadaan tentu perlu ditingkatkan. Sosialisasi dilakukan. Tujuannya, agar masyarakat juga dapat memberikan tindakan awal saat kebakaran terjadi.

‘’Pelatihan kami berikan tidak hanya kepada masyarakat. Tapi juga kalangan pelajar. Ini penting karena kebakaran dapat terjadi dimana dan kapan saja,’’ kata Kasi Damkar Satpol PP Kota Madiun Anang Dwi Sulistyanto saat memberikan pelatihan penanganan kebakaran bagi pelajar di Garasi Damkar Kota Madiun, Jumat (14/9/2018).

Berbagai materi diberikan. Mulai unsur terjadinya api hingga jenis-jenis barang sekitar yang dapat dijadikan alat pemadam. Biasanya disebut alat pemadam api tradisional (APAT). Mulai kain goni, pasir, dan lainnya. Terbentuknya api juga karena tiga unsur. Yakni, adanya panas, adanya udara atau oksigen, dan adanya bahan bakar. Bahan bakar tidak selalu dari minyak. Bisa kayu, kertas, dan bahan lain yang mudah terbakar. Salah satu unsur dihilangkan, api padam.

‘’Anak-anak kami bekali cara mematikan api menggunkan kain goni. Ketika kain diletakkan api padam karena kain menghilangkan unsur oksigen,’’ ujarnya.

Kabid Penegakan Perundang-undangan Satpol PP Kota Madiun Agus Wuryanto menyebut pelajar memang menjadi sasaran sosialisasi. Tempat pelaksanaan sengaja di garasi Damkar. Pihaknya sekaligus ingin mengenalkan peralatan pemadam kebakaran yang dimiliki Pemkot Madiun. Termasuk mobil damkar Bronto Skyline seharga Rp 28 miliar. Bukan hanya soal pemadaman api, pelajar dari perwakilan 28 SMP sederajat itu juga mendapat materi terkait kedisiplinan.

Baca juga:   Rekom Provinsi Turun, 19 Bangunan Siap Berstatus Cagar Budaya

‘’Anak-anak usia mereka ini juga rawan melanggar kedisiplinan. Entah itu bolos sekolah, berkelahi, atau lainnya. Kami ingin membantu pihak sekolah dalam hal pendidikan kedisiplinan,’’ ungkapnya sembari menyebut Satpol PP Masuk Sekolah (SMS) nama program kegiatannya.

Agus tak membantah masih ada temuan pelajar yang kedapatan bolos. Sejauh ini tercatat tujuh anak dari tingkat SMP di tahun ini. Namun, jumlah menurun jika dibanding tahun lalu yang mencapai angka belasan. Pihaknya ingin memberikan pemahaman tentang arti kedisiplinan. Harapannya, anak-anak tidak hanya disiplin. Namun, juga siswa penegak perda.

‘’Kalau mereka paham aturan, harapannya dapat mengingatkan teman atau lingkungan sekitar kalau ditemukan adanya pelanggaran. Kesadaraan taat aturan memang butuh peran bersama,’’ pungkasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dan jauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.