Persaudaraan pencak silat yang satu ini sudah memiliki keanggotan hingga luar negeri. (wshendro - madiuntoday)

MADIUN – Pencak silat di Kota Madiun bagaikan simbol yang terus melekat. Belasan perguruan tumbuh dan berkembang di kota pecel ini. Beberapa di antaranya memiliki basis massa yang besar. Terutama yang berdasar pencak Setia Hati. Salah satunya, Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo. Berpusat di jalan Doho 123 Kelurahan Winongo Kota Madiun, persaudaraan pencak silat yang satu ini sudah memiliki keanggotan hingga luar negeri. Di antaranya, Perancis dan Belanda.

Menganut ajaran SH, Persaudaraan yang biasa disebut PSHW tersebut menjelma menjadi organisasi olah fisik dan kerohanian yang cukup berpengaruh di Kota Madiun. Memiliki keanggotan hingga 1,7 juta jiwa dan terus tumbuh. PSHW merupakan organisasi yang cukup aktif sampai saat ini. Rutin menggelar Suran Agung dan Hala Bihalal setiap tahunnya. Kedua kegiatan sakral itu selalu diikuti ribuan anggota.

‘’Ajaran Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo merupakan ilmu mengolah raga dan batin untuk mencapai keluhuran budi guna mendapatkan kesempurnaan hidup, bahagia, dan sejahtera lahir batin di dunia dan akhirat,’’ kata Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo R Agus Wijono Santosa.

Ajarannya mengedepankan jalan kepada Tuhan. Salah satunya, memerangi hawa nafsu melalui olah fisik dan batin. Pencak PSHW, kata dia, bukan untuk grubyak-grubyuk, pamer kebolehan, maupun menyakiti sesama. Namun, lebih kepada metode menemukan kesempurnaan hidup melalui jalan Tuhan. Tak heran, muncul istilah amar ma’ruf nahi mungkar yang berarti mengajak dan menganjurkan hal-hal baik serta mencegah hal-hal buruk bagi masyarakat.

‘’Ini melekat dalam diri setiap warga. Tercantum dalam sumpah janji persaudaraan. Berat sanksinya kalau melanggar,’’ tegasnya.

Begitu sakralnya sumpah janji ini hingga ditempatkan pada awal masuk menjadi anggota. Setiap calon anggota yang ingin bergabung wajib mengucap sumpah saat kecer atau pengesahan. Anggota diberikan kerohanian setelahnya. Proses pemberian biasanya dimulai pukul 22.00 hingga menjelang subuh. Kerohanian ini penting untuk membuka batin dan hati anggota. Memberikan gambaran tujuan dan maksud ilmu Setia Hati. Yakni, menuju kesempurnaan hidup melalui jalan Tuhan. Terdapat sepuluh sumpah pada awal masuk ini.

‘’Kerohanian ini sebagai dasar berpijak agar anggota tidak salah jalan. Rohani anggota harus ditata terlebih dahulu sebelum mendapatkan ilmu pencak silat. Makanya diberikan diawal. Ini sesuai dengan tujuan Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo yang mencari keselamatan dunia-akhirat,’’ jelas pria 56 tahun itu.

Ilmu pencak diberikan setelahnya. Terdapat 43 jurus, 13 pukulan dobel, 13 tendangan dobel, dan 19 pasangan lengkap. Latihan dapat ditempuh paling cepat satu tahun. Bisa juga lebih. Ini tergantung kemampuan masing-masing warga. Setelah dirasa siap, warga dapat naik ke tingkat II jika lulus ujian. Materi ujian juga tidak mudah. Mulai hafalan jurus dan sambung atau tanding dengan seperguruan. Ada beberapa jenis sambung yang harus dilewati. Mulai sambung tangan kosong dengan empat saudara sekaligus hingga sambung senjata. Ada tiga senjata yang digunakan. Yakni, sambung belati, sambung pedang dengan pedang, dan sambung kunto (tongkat pendek berujung lancip).

‘’Warga juga harus lulus uji kerohanian. Dibuktikan dengan tingkah laku terhadap orang tua, saudara seperguruan, dan dengan masyarakat. Uji kerohanian ini harus dibuktikan orang lain yang dipilih sebagai saksi. Jadi bukan dari yang bersangkutan,’’ ujarnya sembari menyebut calon warga yang hendak melaksanakan kenaikan tingkat wajib mengajak minimal satu orang sebagai saksi dan dapat bertanggung jawab atas kesaksian tersebut.

Setelah dinyatakan lulus, warga harus mengikuti kecer tingkat II. Ujian kenaikan tingkat ini dilaksanakan pada bulan muharram atau bulan suro. Biasanya sebelum pelaksanaan Suran Agung. Warga kembali mengambil sumpah. Kali ini ada tiga butir sumpah. Ini melengkapi sepuluh sumpah saat tingkat I. Artinya, semakin tinggi tingkatan, semakin banyak batasan-batasan yang harus dilaksanakan.

‘’Semakin tinggi ilmunya, warga Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo harus semakin baik. Terutama dalam budi pekerti,’’ ungkapnya sembari menyebut warga tingkat II berhak menyandang gelar Al Amin (AA) yang berarti orang yang jujur.

Menjadi warga tingkat II bukan berarti selesai. Terdapat 36 jurus yang harus dikuasi setelahnya. Ini merupakan jurus keramat bagi PSHW. Hanya boleh diberikan saat sudah menjadi tingkat II. Selain itu, terdapat ilmu pernafasan dan penggunaan senjata kerambik. Ini dapat ditempuh beberapa bulan hingga lintas tahun. Tergantung kemampuan masing-masing warga. Pengesahan atau kecer kembali dilakukan untuk naik ketingkat III. Warga juga kembali diambil sumpah. Terdapat tiga butir sumpah. Seperti sebelumnya, ini melengkapi 13 sumpah sebelumnya.

‘’Ilmu Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo tidak ada habisnya. Setelah menjadi warga tingkat III dan bergelar Al Amin II warga harus semakin baik dalam tingkah laku, perbuatan, amalan, dan ibadahnya. Seperti ajaran menuju jalan Tuhan yang tidak pernah ada habisnya,’’ tutur bapak dua anak ini.

Baca juga:   Gabungkan Silat dengan Bela Diri Polisi

Sejarah Perguruan

Hadirnya Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo tak terlepas dari kisah Ki Ngabehi Surodiwirjo, pencipta pencak silat Setia Hati. Ki Ngabehi Surodiwirjo memiliki nama kecil Mas Muhammad Masdan yang lahir pada 1869. Ayahnya bernama Ki Ngabehi Suro Wiharjo, seorang mantra cacar di Lamongan. Keluarga ini masih keturunan Bupati Gresik kala itu. Juga masih memiliki trah Prabu Brawijawa, raja terakhir Majapahit.

Ki Ngabehi Surodiwirjo atau biasa disebut Eyang Suro menyelesaikan sekolah rakyat (SR) pada 1884. Saat itu berusia 14 tahun. Dia lantas turut pamannya yang bernama Ki Ngabehi Suro Wiprogo, seorang wedono (koordinator camat) di Wonokromo Surabaya dan sempat pindah ke daerah Sidayu Gresik. Ki Ngabehi Suro Wiprogo merupakan seorang ahli kebatinan. Eyang Suro banyak belajar ilmu kebatinan dari pamannya itu.

Eyang Suro lantas bekerja magang sebagai juru tulis di kantor kontrolir milik pemerintah kolonial Belanda setahun kemudian. Kantor ini berada di Jombang. Eyang Suro merupakan seorang yang cinta budaya. Terutama silat. Dia biasa belajar ilmu silat sepulang kerja. Eyang Suro juga belajar ilmu agama di Pondok Tebu Ireng.

‘’Pada tahun 1885, Eyang Suro pindah ke Bandung mengikuti atasannya. Di sana beliau juga belajar silat dari pendekar-pendekar di Jawa Barat,’’ ujar Agus sembari menyebut Eyang Suro mendapat berbagai ilmu pencak silat seperti priangan, cimande, cikolong, ciampe, dan sumedengan.

Tuntutan pekerjaan membuat Eyang Suro harus pindah ke Jakarta setahun kemudian. Waktu itu masih disebut Batavia. Semangat belajar ilmu silat tak pernah kendur. Setahun di Batavia, Eyang Suro mendapat ilmu silat betawen, monyetan, kwitang, dan jurus toya (tongkat). Eyang Suro bersama atasannya sempat pindah ke daerah Bengkulu selama enam bulan lantas pindah ke Padang. Agus menyebut Eyang Suro mendapat dua orang guru selama di Padang. Yakni, Datuk Rajo Batuah dan I Gusti Nyoman Ide Gempol.

‘’Dari Datuk Rajo Batuah, Eyang Suro mendapat berbagai ilmu. Di antaranya, fort de kock, sterlak, lintau, alang, alang lawas, sirante, minangkabau, dan bungusan dari teluk bayau,’’ jelasnya.

Sedang dari I Gusti Nyoman Ide Gempol, Eyang Suro mendapat ilmu kerohanian. Salah satunya, wirid tujuh malam. I Gusti Nyoman Ide Gempol merupakan soerang punggawa besar dari Bali yang diasingkan pemerintah kolonial Belanda ke Padang. Dia memiliki nama lain Raja Kenanga Mangga Tengah. Kendati orang Bali, I Gusti Nyoman Ide Gempol cukup mengerti tentang Islam. Eyang Suro banyak mendapat ilmu di Padang. Sebab, sempat menetap sekitar sepuluh tahun dan menikah dengan orang Padang namun kandas.

‘’Nama Kenanga pada Raja Kenanga Mangga Tengah ini disebut sebagai simbol akan adanya perguruan besar di Winongo Kota Madiun,’’ ungkapnya.

Perjalanan Eyang Suro berlanjut ke Aceh pada 1898. Agus menyebut saat itu Eyang Suro sudah tidak lagi bekerja sebagai juru tulis. Di negeri Serambi Mekah itu, Eyang Suro mendapat ilmu binjai dan kucingan dari Tengku Ahmad Mulya Iskandar. Eyang akhirnya kembali ke Batavia dan bekerja sebagai masinis pada 1900. Tiga tahun kemudian peristiwa bersejarah lahir. Tepatnya, pada Jumat Legi, 10 Muharram 1903, Eyang Suro mendirikan perkumpulan di Tambak Gringsing Surabaya. Kala itu, bernama Sedulur Tunggal Kecer dengan permainan pencaknya bernama Joyo Gendilo Cipto Mulyo.

‘’Eyang Suro kemudian bekerja di bengkel kereta API dan berpindah ke Madiun pada 1914. Beliau lantas menikah dengan orang Madiun dan bertempat tinggal di Winongo karena dekat dengan tempat bekerja,’’ ujarnya sembari menyebut nama Sedulur Tunggal Kecer lantas diubah menjadi Persaudaraan Setia Hati pada 1917.

Pada Jumat Legi bulan Selo 1944, Eyang Suro wafat. Eyang Suro meninggalkan tiga pesan. Pertama, agar saudara SH bersatu hati. Kedua, minta dimakamkan di Kelurahan Winongo, dan Minta dibacakan Surat Al-Fatihah dan Al-Qadar. Persaudaraan Setia Hati lantas diteruskan saudara persaudaraan secara turun-temurun hingga sekarang. Sebab, lima keturunan Eyang Suro sudah meninggal pada waktu masih anak-anak.

Persaudaraan Setia Hati terus ada setelahnya. Namun, sempat mengalami kemunduran pada 1965. Padahal, kondisi Kota Madiun sedang genting akibat adanya aksi pemberontakan PKI. Perintah Men.Hankam turun pada 15 Oktober 1965. Surat itu dibawa langsung petugas Hankam dengan dikawal Mayor TNI AD Ismadi ke rumah Jalan Wirabumi 3 yang tak lain kediaman HRM Djimat Hendro Soewarno, salah seorang saudara SH yang cukup berpengaruh pada waktu itu.

Salah satu perintahnya berbunyi, agar cepat bergerak mengkoordinir para pemuda untuk membantu pemerintah dalam menyelamatkan negara dan bangsa. Persaudaraan Setia Hati lantas diaktifkan kembali. Lantaranya melibatkan saudara-saudara muda, nama Tunas Muda ditambahkan pada nama persaudaraan. Sedang, kata Winongo diambil dari nama kelurahan tempat berdiri Persaudaraan Setia Hati. Tak heran, organisasi itu kini bernama Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo.

‘’Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo terus berkembang sampai saat ini dengan semangat dan tujuan yang sama. Mencari keluhuran budi guna mendapatkan kesempurnaan hidup dunia-akhirat melalui jalan Tuhan,’’ pungkas anak ketiga HRM Djimat Hendro Soewarno ini.

Artikel ini diolah dari wawancara langsung Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo R Agus Wijono Santosa pada Rabu 10 Oktober 2018. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Selalu patuhi aturan dan jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018