Pegadaian Madiun Targetkan ‘Ngutangi’ Warga Sampai Rp89 M

Di Posting Oleh madiuntoday

29 Januari 2018

MADIUN – Pegadaian Cabang Madiun memasang target untuk bisa menyalurkan kredit melalui produk konvensional berupa gadai barang dan kredit fidusia sebesar Rp89,634 miliar pada tahun 2018 ini. Jumlah ini naik signifikan dari pencapaian penyaluran kredit pada 2017 lalu.

“Kita bisa ‘ngutangi’ warga sampai berapapun sebenarnya. Tapi patokan kita sampai akhir tahun nanti ya itu, sebesar Rp 89 miliar. Itu artinya naik sekitar 17 persen dari capaian 2017 kita yang mencapai Rp75,97 miliar. Kita cukup optimistis karena kita melihat ada pertumbuhan di kinerja keuangan,” ungkap Pimpinan Cabang Pegadaian Madiun Purwanto, Senin (29/1/2018).

Purwanto cukup yakin realisasi di 2017 masih bisa berlangsung di 2018 ini. Sebab, saat ini gadai masih sangat diminati oleh warga Madiun dan sekitarnya untuk mendapatkan kredit. Pegadaian, lanjut Purwanto, masih dianggap sebagai salah satu solusi mendapatkan modal dengan cara mudah dan murah serta fleksibel.

Selain itu, ada pula tren kenaikan harga emas secara internasional. Harga emas yang tinggi dipastikan membuat kinerja keuangan di Pegadaian meningkat secara signifikan. Sebab harga emas yang tinggi akan membuat penyaluran kredit meningkat karena nilai gadai juga naik.

Pada 2017 lalu, target Pegadaian Madiun adalah Rp84,23 miliar. Namun kinerja Pegadaian Cabang Madiun ini terhambat oleh kebijakan Standar Taksiran Logam (STL) yang spread-nya terlalu tebar dengan harga pasar. “Capaian kita hanya 90,23 persen karena hanya Rp75,97 persen,” kata Pruwanto.

Emas perhiasan masih menjadi barang gadai favorit nasabah di Pegadaian. Purwanto mengatakan, 90 persen barang gadai berupa emas perhiasan. Sedangkan sekitar 4 persen berbentuk alat elektronik seperti pesawat televisi, radio, laptop dan sejenisnya. Yang paling sedikit jumlahnya adalah kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.

“Ada juga traktor, tapi itu jarang kita temui,” ungkapnya,” ujar Purwanto.

Memang guys, Pegadaian bisa memecahkan masala tanpa masalah, terutama untuk persoalan keuangan. Selaon persoalan keuangan, kita juga selslui butuh solusi atas adanya dampak atas peredaran barang kena cukai, seperti etil alkohol, minuman mengandung etil alkohol dan rokok yang sudah jelas. Ternyata pemerintah sudah memberikan salah satu solusinya. Salah satunya adalah pengembalian sebagian dana cukai ke pemerintah daerah. Namanya, DBH CHT atau adalah Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau.

DBH CHT merupakan dana yang bersifat khusus dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan ke Pemerintah Daerah (Pemerintah provinsi ataupun Pemerintah Kabupaten/Kota) yang merupakan penghasil cukai hasil tembakau dan/atau penghasil tembakau.

Penggunaan DBH CHT diatur dengan ketentuan yang tertera dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 28/PMK.07/2016. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah tentang Prinsip Penggunaan. Paling sedikit 50 persen untuk mendanai program/kegiatan seperti peningkatan kualitas bahan baku; pembinaan industri; pembinaan lingkungan sosial; sosialisasi ketentuan di bidang cukai; dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal. Sedangkan paling banyak 50 persen untuk mendanai program/kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah.

Karena cukai kembali ke kita untuk hal yang positif, maka jangan membeli rokok ilegal. Rokok ilegal adalah rokok tanpa pita cukai, dipasangi pita cukai palsu atau berpita cukai yang bukan peruntukannya. Mari menjadi pembeli bijak dengan menolak rokok ilegal.
(dey/diskominfo)

Artikel Terkait

Gowes Empat Kelurahan, Wali Kota Senam Bersama Lansia

Gowes Empat Kelurahan, Wali Kota Senam Bersama Lansia

MADIUN - Agenda Wali Kota Madiun Maidi untuk menghadiri Senam Lansia terus berlanjut. Seperti pada kegiatan orang nomor satu di Kota Pendekar itu pada Sabtu (21/5). Diawali dengan gowes dari kediamannya di Jalan Merpati, wali kota menuju empat lapak UMKM kelurahan...