Pencak Silat Jadi Ikon Wisata

Di Posting Oleh madiuntoday

29 Januari 2018

MADIUN – Pencak silat selalu menarik untuk diulas. Sebab, pencak silat sudah seperti bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan Kota Madiun. Bak dua sisi mata uang yang saling terkait. Saling mengisi dan melengkapi. Tak heran, sebutan Madiun Kampung Pesilat mengemuka.

Namun, pencak silat seharusnya tidak hanya dipandang dari satu sisi semata. Pencak silat bukan hanya sekedar bela diri dan olahraga. Namun, juga seni yang dapat dinikmati. Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Madiun Moerdjoko Hadi Widjojo menaruh harapan besar terkait perkembangan pencak silat ke depan.

‘’Pencak silat aset yang luar biasa. Harusnya bisa menjadi ikon wisata,’’ kata Moerdjoko.

Potensi cukup terbuka lebar. Sebab, pencak silat di Kota Madiun cukup memiliki nama besar. Anggota sejumlah perguruan yang ada sudah tersebar nyaris ke semua daerah di tanah air. Bahkan, hingga keluar negeri. Belum lagi perkembangan belakangan ini. Moerdjoko menyebut kesan menyeramkan saat perayaan Suro semakin terkikis kini. Sebab, perayaan sudah tidak seperti dulu. Perayaan sudah tidak diwarnai keributan antar anggota perguruan.

‘’Kejadian keributan antar perguruan semakin ditekan. Bahkan, tercatat zero accident di tiga tahun terakhir,’’ ungkapnya.

Pelaksanaan perayaan datangnya tahun baru Islam atau yang biasa disebut bulan Suro terbukti aman dan nyaman. Tradisi dua perguruan silat terbesar saat bulan suro, yakni Persaudaraan Setia Hati Terate dengan kegiatan suroan dan Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo dengan kegiatan suran agung terbukti tanpa kejadian keributan. Aura mencekam saat bulan suro semakin terkikis. Bulan suro saatnya menjadi puncak event budaya di Kota Madiun. Mulai kirab budaya, pentas seni pencak silat dari semua perguruan. Moerdjoko bermimpi pentas dapat dilakukan sebulan penuh.

‘’Pencak silat jangan hanya dilihat dari satu sisi. Harus juga bisa menjadi seni yang dapat dinikmati,’’ harapnya.

Capaian ini tak terlepas dari peran sejumlah tokoh di perguruan pencak silat, masyarakat, hingga kepolisian yang membentuk Paguyupan Pencak Silat, 3 Oktober 2013 lalu. Pembentukan disaksikan Kapolda Jawa Timur dan Menteri Pemuda dan Olahraga kala itu. Sebelas perguruan yang ada di Kota Madiun sepakat berpartisipasi menciptakan situasi kemanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Yakni Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo, Persaudaraan Setia Hati Terate, Persaudaraan Setia Hati Tuhu Tekad, IKS Kera Sakti, Ki Ageng Pandan Alas, Tapak Suci, Pro Patria, Persinas ASAD, Merpati Putih, Pagar Nusa dan Cempaka Putih. Kesebalas perguruan silat di madiun tersebut bersatu padu, bersama sama untuk merawat warisan budaya dan ciri khas Bangsa Indonesia yang sudah diakui dunia.

Namun, kondusifitas di wilayah Madiun menjadi salah satu barometer penting. Selain itu, pengembangan seni bela diri warisan leluhur menjadi kewajiban bersama untuk tetap ada hingga kapanpun juga. Tak heran, pertemuan petinggi perguruan rutin dilakukan setiap bulan. Bahkan, pertemuan sudah terjalin hingga tingkat kecamatan, kelurahan dan desa. Tujuannya sama, demi menjaga kamtibmas.

‘’Setiap ada persoalan langsung diselesaikan dalam pertemuan. Sudah tidak zamannya lagi main mengedepankan ego. Sebaliknya, saatnya saling menghargai dan menghormati,’’ ungkapnya sembari menyebut perbedaan merupakan keanekaragaman.

Unsur pencak silat menjadi ikon wisata juga terpenuhi dari sejarah yang kuat. Pencak silat Kota Madiun, kata dia, sudah ada sejak era kerajaan dulu. Mayoritas masyarakat sudah belajar olah kanuragan kala itu. Selain untuk berjaga diri, juga untuk mengabdi kepada kerajaan. Namun, pencak silat dengan nama perguruan baru ada mulai abad 19 di Kota Madiun. Pencak silat Setia Hati (SH) yang didirikan Ki Ngabeni Surodiwirjo disebut perguruan kali pertama di Kota Madiun. Nama-nama perguruan lain bermunculan setelahnya.

‘’Pencak silat bukan hanya warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Tetapi makna, sifat serta ajarannya harus benar-benar tertanaman dalam perilaku sehari-hari,’’ ungkapnya sembari menyebut pencak silat SH memiliki ciri persaudaraan yang kuat.

Itu ya guys, sudah saatnya Pencak Silat Kota Madiun dikenal dari sudut pandang lain. Kesan negatif pencak silat di Kota Madiun harus semakin dihilangkan. Sebaliknya, sudut pandang pencak silat sebagai seni-budaya yang memunculkan keindahan wajib terus digelorakan. Pencak silat harus dapat dinikmati seperti kesenian lain. Sebut saja kesenian Reyog Ponorogo atau tari Kecak di Bali. Pencak silat juga harus memberikan manfaat positif bagi masyarakat.

Stop kekerasan dan selalu patuhi aturan. Patuhi juga aturan cukai. Ada tiga barang yang wajib cukai di tanah air. Yakni, hasil tembakau, etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Pastikan menggunakan pita cukai asli saat memperjualbelikan ketiga barang tersebut. Salah-salah, pidana mengancam. So, jadi pembeli yang bijak ya. (hendro, agi/diskominfo).

 

Artikel Terkait

Gowes Empat Kelurahan, Wali Kota Senam Bersama Lansia

Gowes Empat Kelurahan, Wali Kota Senam Bersama Lansia

MADIUN - Agenda Wali Kota Madiun Maidi untuk menghadiri Senam Lansia terus berlanjut. Seperti pada kegiatan orang nomor satu di Kota Pendekar itu pada Sabtu (21/5). Diawali dengan gowes dari kediamannya di Jalan Merpati, wali kota menuju empat lapak UMKM kelurahan...