Super Blood Blue Moon Juga Akan Terlihat dari Madiun

Di Posting Oleh madiuntoday

29 Januari 2018

MADIUN – Bersiaplah untuk menjadi saksi keindahan alam ciptaan-Nya. Pada Rabu (31/1/2018) mendatang, akan terjadi fenomena alam yang hanya akan terjadi setiap 150 tahun sekali. Kejadian langka ini adalah Super Blood Blue Moon, atau gerhana bulan besar yang tampak kemerahan.

Direktur Ekskutif Watoe Dhakon Observatory Fakultas Syariah IAIN Ponorogo Ahmad Junaidi mengatakan, gerhana bulan yang terjadi pada Rabu malam besok adalah salah satu gerhana paling istimewa. Junaidi menyebut, ada dua fenomena yang terjadi saat gerhana bulan tersebut.

Yang pertama adalah fenomena ‘Supermoon’. Supermoon adalah sebuah istilah untuk menyebut bulan purnama di mana bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi atau sekitar 360.000 km. Dalam bahasa astronomi disebut titik perigee. Hal ini terjadi karena jalur lintasan bulan mengelilingi bumi tidak bulat sempurna, melainkan agak lonjong, sehingga ada saat di mana bulan berada pada posisi paling dekat dengan bumi (perigee), dan ada saat di mana bulan berada pada posisi paling jauh dengan bumi (apogee).

“Ketika bulan pada fase purnama dan berada pada titik perigee inilah yang disebut dengan Supermoon. Disebut super karena diameter bulan akan nampak lebih besar dari biasanya, yang dalam dalam skala sudut diameter tampaknya sekitar 0 derajat 33 menit 09 detik,” terang Junaidi kepada madiuntoday.

Bersamaan dengan supermoon akan terjadi ‘Bluemoon’. Peristiwa ini bukan berarti warna dari bulan menjadi biru. Warna bulan akan tetap seperti biasanya yakni abu-abu pucat kekuningan.

Bluemoon merupakan sebutan dari fase purnama kedua yang terjadi terjadi dalam satu bulan kalender masehi. Dalam bulan ini, purnama pernah terjadi pada tanggal 2 Januari, dan akan terjadi pernama kembali pada tanggal 31 Januari mendatang. Jadi dalam bulan Januari tahun 2018 ini ada dua purnama, dan kebetulan keduanya terjadi pada titik perigee, yang dalam istilah astronomi disebut Supermoon.

Saat gerhana bulan nanti, bumi menghalangi bulan dari matahari. Sinar matahari yang mestinya menyinari bulan terhalang oleh bumi, sehingga saat gerhana bulan mencapai totalitasnya, bulan akan nampak gelap.

Namun di sisi lain, atmosfir bumi bisa membiaskan cahaya merah dari matahari, sehingga saat totalitas gerhana bulan bukan sama sekali tidak terlihat namun tetap terlihat kemerahan yang dalam istilah astronomi sering disebut dengan Bloodmoon.

“Sebuah peristiwa yang betul-betul luar biasa dan langka, di mana Bloodmoon (gerhana bulan total) terjadi pada saat Bluemoon dan Supermoon. Sehingga peristiwa gerhana bulan total ini bisa disebut dengan Super-blood-blue-moon,” jelas Junaidi.

Junaidi menambahkan, dilihat dari durasinya, peristiwa gerhana ini tergolong sangat panjang, sehingga kesempatan untuk melihat, mengabadikan dan melaksanakan ibadah sunnah shalat khusuf sangat luas. Secara hisab, fase-fase peristiwa gerhana tersebut adalah sebagai berikut:

Awal Gerhana Penumbra : 17:51:15 WIB.
Awal Gerhana Bulan Sebagian : 18:48:27 WIB.
Awal Gerhana Bulan Total : 19:51:47 WIB.
Puncak Gerhana Bulan Total : 20:29:49 WIB.
Akhir Gerhana Bulan Total : 22:11:11 WIB.
Akhir Gerhana Penumbra : 23:08:27 WIB.

Fenomena lain yang tidak kalah menariknya adalah bahwa peristiwa gerhana bulan total nanti bisa diamati dari seluruh wilayah Indonesia. Jalur totalitas gerhana bulan memang berbeda dengan jalur totalitas gerhana matahari. Diameter jalur wilayah gelap (totalitas) gerhana matahari hanya sekitar 265 kilometer sedangkan jalur totalitas gerhana bulan sangat luas, lebih separuh wilayah bumi.

“Namun demikian kita patut beryukur, sebab kita termasuk dalam jalur totalitas. Berharap saja saat super blood blue moon tidak mendung apalagi hujan sehingga di Madiun dan sekitarnya bisa melihat fenomena ini dengan jelas. Akan lebih jelas bila dilihat dengan observatorium seperti di tempat kami (IAIN Ponorogo),” ungkap Junaidi sambil menyatakan observatorium di Ponorogo adalah satu-satunya di Jawa Timur.

Guys, jangan lewatkan ya fenomena ini. Selain untuk menyaksikan keindahan alam, juga bentuk bersyukur kepada Tuhan YME. Selain itu, rasa syukur juga bisa ditunjukkan dengan turut memberantas peredaran barang kena cukai, seperti etil alkohol, minuman mengandung etil alkohol dan rokok yang sudah jelas. Ternyata pemerintah sudah memberikan salah satu solusinya. Salah satunya adalah pengembalian sebagian dana cukai ke pemerintah daerah. Namanya, DBH CHT atau adalah Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau.

DBH CHT merupakan dana yang bersifat khusus dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan ke Pemerintah Daerah (Pemerintah provinsi ataupun Pemerintah Kabupaten/Kota) yang merupakan penghasil cukai hasil tembakau dan/atau penghasil tembakau.

Penggunaan DBH CHT diatur dengan ketentuan yang tertera dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 28/PMK.07/2016. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah tentang Prinsip Penggunaan. Paling sedikit 50 persen untuk mendanai program/kegiatan seperti peningkatan kualitas bahan baku; pembinaan industri; pembinaan lingkungan sosial; sosialisasi ketentuan di bidang cukai; dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal. Sedangkan paling banyak 50 persen untuk mendanai program/kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah.

Karena cukai kembali ke kita untuk hal yang positif, maka jangan membeli rokok ilegal. Rokok ilegal adalah rokok tanpa pita cukai, dipasangi pita cukai palsu atau berpita cukai yang bukan peruntukannya. Mari menjadi pembeli bijak dengan menolak rokok ilegal.
(dey/diskominfo)

Artikel Terkait

Gowes Empat Kelurahan, Wali Kota Senam Bersama Lansia

Gowes Empat Kelurahan, Wali Kota Senam Bersama Lansia

MADIUN - Agenda Wali Kota Madiun Maidi untuk menghadiri Senam Lansia terus berlanjut. Seperti pada kegiatan orang nomor satu di Kota Pendekar itu pada Sabtu (21/5). Diawali dengan gowes dari kediamannya di Jalan Merpati, wali kota menuju empat lapak UMKM kelurahan...