Berbekal Pelatihan Keterampilan, Grandis Zhafarina Sukses Berbisnis Abon Lele

Di Posting Oleh madiuntoday

10 Desember 2018

MADIUN – Memiliki kemampuan yang mumpuni saja tidak cukup membuahkan hasil tanpa ada niat dan usaha untuk mulai berkarya. Hal ini disadari betul oleh Grandis Zhafarina. Bermodal keahlian yang dipelajarinya dari pelatihan di Dinas Perdagangan Kota Madiun, perempuan 24 tahun itupun membuka peluang bisnis sendiri.

Ya, perjuangan wirausaha Grandis bermula sekitar satu tahun lalu. Kala itu, warga Jalan Seram itu mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan membuat abon lele di Dinas Perdagangan Kota Madiun. Tentu saja, kesempatan itu dimanfaatkannya dengan baik. Dia berupaya menyerap ilmu dari pelatihan selama sehari itu.

‘’Memang sebelumnya kepikiran untuk membuat olahan dari bahan dasar lele,’’ ungkapnya. Hal itu dikarenakan sang suami, Agista Akbar, memiliki kolam lele. Insting berbisnis Grandis pun muncul dengan menjadikan lele sebagai olahan yang bernilai jual lebih tinggi.

Selesai mengikuti pelatihan, Grandis memulai eksperimen. Setelah ujicoba beberapa kali, akhirnya ibu 1 anak ini mendapatkan resep yang paling cocok. Kemudian, diapun mulai menjual hasil olahannya itu.

Abon lele yang diberi label Madina itu dikemas dalam wadah 100 gram. Per toples dibanderol dengan harga Rp 25 ribu. Proses penjualan dilakukan dari mulut ke mulut dan melalui media sosial. Seperti Facebook, Instagram, hingga Twitter.

Dalam menjual produknya, Grandis membuat tiga varian rasa. Yakni, manis, pedas, dan gurih. Untuk menghilangkan bau amis lele, perempuan asli Madiun ini punya cara tersendiri. Yaitu, dengan memperbanyak bumbu rempah-rempah pada masakan tersebut.

Menurut Grandis, tak ada kendala berarti selama pembuatan abon lele. Hanya proses mem-fillet ikan saja yang membutuhkan waktu lebih lama. Selain itu, proses penggorengan juga harus benar tingkat panasnya. Supaya tidak gosong dan kering.

Dengan proses memasak yang benar, produk buatan perempuan kelahiran 8 Januari 1993 ini mampu awet hingga 4 bulan tanpa bahan pengawet. Karena itu, cocok dijadikan oleh-oleh dan cocok dikonsumsi mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Atau, bisa juga dijadikan bekal saat bepergian jauh. Sesuai namanya, abon lele Madina juga sering dijadikan bekal orang-orang yang pergi beribadah haji dan umroh. ‘’Memang nama ini dipilih harapannya supaya mudah diingat sama orang-orang yang mau pergi haji atau umroh,’’ imbuhnya.

Hingga saat ini, penjualan abon lele Madina sudah sampai ke berbagai daerah di Indonesia. Mulai Surabaya, Malang, Jakarta, hingga mengikuti pameran ke Makassar.

Ke depan, Grandis berharap agar produknya bisa semakin dikenal masyarakat. Selain itu, bisa menyerap tenaga kerja di wilayah sekitar tempat tinggalnya. ‘’Saat ini masih dibantu saudara. Harapannya, ke depan bisa membuka peluang kerja bagi orang lain,’’ tandasnya. (Dhevit/irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakcukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018

Artikel Terkait

Tidak Ada Kasus Konfirmasi, 12 Sembuh Hari Ini

Tidak Ada Kasus Konfirmasi, 12 Sembuh Hari Ini

MADIUN - Kasus sembuh mulai mengemuka. Setidaknya ada 12 sembuh hari ini, Jumat (28/1). Sementara itu, tidak ada penambahan kasus hari ini. Kasus aktif saat ini tinggal 24 kasus. Kesembuhan hari ini datang dari kasus nomor 7293, 7286, 7281, 7280, 7291, 7292, 7298,...

Don`t copy text!