Menjaga Tradisi Kupatan di Tengah Pandemi Korona

Di Posting Oleh madiuntoday

28 Mei 2020

MADIUN – Tradisi lebaran ketupat atau yang biasa dikenal oleh warga Kota Madiun dengan sebutan Kupatan, biasanya dirayakan sepekan pasca Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan ini juga dikenal sebagai hari raya kecil.

Ketupat merupakan makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan selongsong anyaman daun kelapa yang masih muda (janur). Masyarakat biasanya membuat sendiri anyaman tersebut, lalu diisi dengan beras yang telah direndam air. Selanjutnya ketupat tersebut direbus berjam-jam sampai matang.

Makan ketupat biasanya disajikan dengan lauk opor ayam, sambal goreng, rendang, atau sayur labu siam. Ditambah taburan bubuk kacang dan kerupuk udang semakin menggugah selera.

Kini, tak perlu bersusah payah untuk membuat ketupat di rumah. Banyak pedagang pasar yang menjualnya dalam keadaan matang. Bahkan, penjual sayur keliling juga membawanya untuk mempermudah pembeli mendapatkannya.

Kebanyakan warga Kota Madiun pun memperingati Kupatan dengan makan sajian ketupat bersama keluarga. Atau, sebagai suguhan ketika ada tamu datang ke rumah untuk bersilaturahmi. Selama sepekan penuh, selalu tersedia ketupat di rumah-rumah warga yang merayakannya.

Tradisi Kupatan pertama kali dikenalkan oleh Sunan Kalijaga. Ketupat atau kupat berasal dari singkatan ngaku lepat, atau mengakui kesalahan. Pada Hari Raya Idul Fitri, umat muslim saling mengakui kesalahannya masing-masing. Serta, saling memberikan maaf terhadap sesama. Karena itu, sajian ketupat dipilih untuk menemani kegiatan silaturahmi.

Bungkus ketupat terbuat dari janur kuning merupakan lambang penolak bala. Sedangkan, bentuk segi empat menyiratkan prinsip dari kiblat papat lima pancer. Artinya, ke manapun manusia pergi, pasti akan kembali kepada Allah.

Kiblat papat lima pancer juga menggambarkan empat macam nafsu dunia. Yakni, nafsu emosional, nafsu untuk memuaskan rasa lapar, nafsu dalam memiliki sesuatu yang indah, dan nafsu memaksakan diri. Keempatnya telah berhasil ditaklukkan selama Ramadhan.

Sedangkan, anyaman ketupat menyiratkan kesalahan-kesalahan manusia. Warna putihnya melambangkan kesucian yang telah diraih karena saling bermaafan. Sementara itu, beras melambangkan kemakmuran di Hari Raya Idul Fitri.

Meski di tengah pandemi Covid-19 ini banyak daerah yang membatalkan kegiatan tradisi Kupatan, namun tak menyurutkan semangat warga dalam merayakannya. Namun, dengan cara yang berbeda. Tak ada pesta atau makan bersama tetangga secara besar-besaran. Misalnya, dengan makan ketupat di masjid dengan jumlah massa yang minimal. Atau, hanya di rumah masing-masing warga.

Meski demikian, perayaan yang jauh dari kata meriah ini tak akan melunturkan filosofi dari tradisi Kupatan. Karena, pada intinya saling bermaafan dan berupaya menjadi insan yang lebih baik merupakan hal yang terpenting. (WS Hendro/irs/madiuntoday)

Artikel Terkait

Don`t copy text!