Kisah Samekto Gumelar Kenalkan Ragam Kopi Hingga Menjadi Coffee Roaster Pertama di Kota Madiun

Di Posting Oleh madiuntoday

18 Februari 2021

MADIUN – Dunia perkopian Indonesia tengah menunjukkan grafik peningkatan yang cukup signifikan. Tidak hanya coffee shop, jumlah konsumen kopi juga semakin banyak setiap harinya. Tak terkecuali di Kota Madiun.

Tidak menyediakan kopi kemasan seperti yang dijual di pasaran, coffee shop biasanya menyajikan minuman berwarna hitam pekat itu dari olahan khusus. Tentu saja, dari biji kopi pilihan yang berkualitas dan memiliki tekstur serta rasa yang unik.

Nah, dibalik nikmatnya kopi pada coffee shop ini ada seorang coffee roaster yang bertugas meracik biji kopi dari bahan mentah hingga siap dihidangkan. Samekto Gumelar, salah satunya. Seorang coffee roaster pertama di Kota Madiun.

Bergelut dalam dunia perkopian sejak 2012, Samekto merupakan salah satu orang yang berjasa mengenalkan kopi di Kota Pendekar. Setelah memutuskan resign dari salah satu bank, dia membuka coffee shop yang saat itu masih sangat jarang ada di Kota Madiun. Diapun aktif mengedukasi masyarakat tentang berbagai jenis dan rasa kopi.

‘’Sebelum membuka kedai kopi, saya belajar ke teman yang sudah lebih dulu punya coffee shop di Jogja. Satu bulan belajar, lalu saya coba buka di Madiun,’’ kenangnya.

Sekitar lima tahun berjalan, Samekto memutuskan untuk menutup kedai kopinya. Lantas, dirinya beralih menjadi seorang coffee roaster. Di rumahnya di Jalan Condromanis 47 itulah dia meracik biji kopi pilihan. Ada Arabika dan Robusta yang menjadi andalannya. Samekto bersama komunitas kopinya juga masih aktif mendampingi petani kopi di wilayah eks-Karesidenan Madiun.

Saat ini, bapak dua anak ini telah menjadi pemasok kopi di hampir seluruh coffee shop di Kota Madiun. Selain itu, sebagian di antaranya juga dikirim ke Jakarta dan Riau. Ada pula yang dijual secara online. Per 200 gram dibanderol dengan harga Rp 65 ribu untuk Arabika dan Rp 30 ribu untuk Robusta.

Melihat semakin menjamurnya kedai kopi di Kota Madiun, Samekto turut berbangga. Itu artinya masyarakat semakin paham dengan jenis-jenis dan kualitas kopi. Bahkan, saat ini kopi dihargai dengan harga yang wajar. Sehingga, mampu membantu petani kopi untuk bertahan dan meningkatkan produksinya.

‘’Dulu harga kopi saya Rp 5 ribu saja perlu waktu 2 tahun untuk mengedukasi masyarakat. Sekarang, harga kopi Rp 20 ribu sudah biasa. Bahkan, ke kedai kopi sudah menjadi lifestyle dan digandrungi anak muda,’’ ungkapnya.

Meski bangga dengan banyaknya kedai kopi bermunculan, Samekto berharap semuanya dapat bersaing secara sehat. Serta, saling mendukung satu sama lain. Sehingga, bisa tumbuh lebih besar lagi secara bersama-sama dan meningkatkan perekonomian seluruh orang yang terlibat dalam dunia perkopian. Baik pemilik coffee shop, roaster, maupun petani.

‘’Pebisnis lokal harus bekerja sama. Sehingga, kelangsungan kedai kopi lokal ini bisa bertahan lama dan dapat bersaing dengan pebisnis kopi skala besar bahkan internasional,’’ tandasnya. (WS Hendro/irs/madiuntoday)

Artikel Terkait

Vaksin Saat Puasa, Pedagang Akui Tak Ada Keluhan dan Biasa Saja

Vaksin Saat Puasa, Pedagang Akui Tak Ada Keluhan dan Biasa Saja

MADIUN – Vaksinasi dengan sasaran pedagang pasar tradisional dimulai, Jumat (16/4). Kendati berlangsung bersamaan dengan puasa Ramadan, pelaksanaan relatif berjalan lancar. Sejumlah pedagang mengaku tidak ada banyak merasakan keluhan kendati juga tengah berpuasa....

Don`t copy text!