Mengenal Sabun Danis dan Onyaser, Inovasi SDN 02 Klegen untuk Penilaian Adiwiyata Mandiri

Di Posting Oleh madiuntoday

25 Maret 2021

MADIUN – SDN 02 Klegen tengah bersiap menuju penilaian sekolah Adiwiyata Mandiri tahun ini. Berbagai persiapan dilakukan termasuk memunculkan inovasi. Terkait itu, terdapat sejumlah inovasi yang menarik, mudah dicoba, dan bermanfaat tentunya. Seperti sabun cuci tangan Danis (pandan dan jeruk nipis) serta obat nyamuk dari daun serai (Onyaser). Tak hanya mudah, bahan-bahannya juga tersedia di lingkungan sekitar kita. Namanya juga penilaian adiwiyata. Semua harus berkaitan dengan alam dan lingkungannya.

‘’Pada prinsipnya kami berupaya memanfaatkan apa yang ada di sekolah untuk diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat,’’ kata Wahyuni Takarini Sulistyowati, guru kelas 6 SDN 02 Klegen, Rabu (24/3).

Wahyuni memang terlibat dalam inovasi yang dimunculkan sekolahnya. Dia merupakan penggagas inovasi sabun cuci tangan Danis. Sesuai namanya, sabun ini beraroma pandan dan jeruk nipis. Pembuatannya juga cukup mudah. Namun, untuk inovasi ini juga membutuhkan texapon sebagai bahan pembersih. Bahan pembersih itu bisa didapatkan di toko kimia. Wahyuningsih menjelaskan proses pembuatannya bisa dimulai dengan melarutkan texapon dengan air.

‘’Satu kilo texapon ini dilarutkan dalam lima liter air. Namun, airnya jangan dimasukkan sekaligus. Sisakan setengah liter terakhir untuk dituangkan secara perlahan sambil diaduk,’’ jelasnya.

Dalam proses pengadukan itu juga ditambahkan garam sebagai pengental. Setidaknya membutuhkan 250 gram garam untuk komposisi di atas. Hasil akhirnya memang larutan kental layaknya cairan pencuci pada umumnya. Sementara itu, daun pandan dipotong kecil-kecil untuk kemudian diblender. Hasilnya lantas disaring untuk diambil airnya. Air pandan lantas ditambahkan ke campuran texapon, air, dan garam tersebut.

‘’Untuk banyaknya daun pandan menyesuaikan selera. Daun pandan juga sebagai pewarna. Semakin banyak, larutan semakin hijau. Begitu juga sebaliknya,’’ ungkapnya.

Terakhir, lanjut Wahyuni, ditambahkan perasan jeruk nipis. Komposisinya juga menyesuaikan selera. Saat proses pengadukan biasanya juga akan muncul busa. Hal tersebut karena bahan texapon yang digunakan. Karenanya, larutan perlu didiamkan minimal semalam. Setelah busa menghilang, larutan bisa dimasukkan dalam botol setelah dilakukan penyaringan terlebih dahulu. Larutan pun bisa digunakan.

‘’Untuk urusan cuci tangan sampai cuci piring dan lainnya di sini, kami menggunakan larutan ini. Menurut kami hasilnya tak kalah sama produk-produk di toko,’’ katanya.

Sedang, terkait obat nyamuk dari daun serai (Onyaser) lebih simpel lagi. Muginingsih, Guru penggagas inovasi itu menyebut pembuatan Onyaser hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Pun, prosesnya hanya melalui perebusan. Seperti diketahui, aroma daun serai memang dikenal tak disukai nyamuk. Nah, perebusan batang dan daun serai tersebut untuk memunculkan aromanya.

‘’Komposisinya juga sesuai selera. Pada prinsipnya, semakin banyak serai yang direbus, aromanya juga semakin kuat,’’ terangnya sembari menyebut proses perebusan berkisar lima sampai sepuluh menit.

Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan itu menyebut air hasil rebusan lantas didinginkan untuk kemudian dimasukkan dalam botol. Muginingsih menyarankan untuk memakai botol spray. Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan penggunaan. Cairan bisa disemprotkan pada bagian kulit untuk melindungi dari nyamuk. Cairan juga bisa disemprotkan pada ruang atau perabot di rumah untuk mengusir nyamuk.

‘’Alam sudah menyediakan segala sesuatunya. Semuanya punya manfaat masing-masing. Kami hanya mengubah manfaat itu agar lebih mudah digunakan,’’ pungkasnya. (jajak/agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Don`t copy text!