Melirik Usaha Penangkaran Burung Kenari Warga Kanigoro

Di Posting Oleh madiuntoday

24 April 2021

Belajar Otodidak, Kini Raup Jutaan Rupiah Perbulannya

MADIUN – Kicau mania identik biasanya dengan laki-laki. Namun, tidak bagi Ria Wardaningtyas warga Jalan Suta Bakti Blok H 194 Kelurahan Kanigoro ini. Ibu rumah tangga ini sudah menangkarkan burung kenari sejak satu tahun terakhir. Bahkan, dari kecintaannya akan burung kenari ini sudah menghasilkan pundi-pundi rupiah hingga jutaan rupiah perbulannya.

Tangan Ria Wardaningtyas tampak cekatan kala memberi makan anakan burung di rumahnya. Maklum, memberi makan anak-anak burung Kenari menjadi kesibukannya selain sebagai ibu rumah tangga. Pekerjaan itu sudah dijalani Ria setahun terakhir. Alhasil, caranya merawat burung sudah seperti seorang ahli. Padahal semuanya dipelajari Ria secara otodidak.

‘’Memang suka dengan burung. Ya karena suami juga suka. Tapi awalnya hanya sebatas memelihara. Kalau menjadi penangkar baru setahun terakhir,’’ kata Ria saat dikunjungi tim madiuntoday, beberapa waktu lalu.

Saat ini, di kamar belakang rumahnya sudah penuh dengan kandang beserta burung kenari. Beberapa di antaranya sedang proses pengeraman. Ria setidaknya memiliki 40 kenari betina dan 10 pejantan. Salah satu, pejantannya juga tidak asal-asalan. Dia sengaja mendatangkan burung kenari jantan impor dari Turki jenis yorkshire. Harganya, Rp 5,7 juta. Burung itu sudah beberapa kali membuahi betina miliknya. Termasuk beberapa yang sedang proses pengeraman tersebut.

‘’Kalau pejantan yang dari impor ini baru saya beli sekitar empat bulan lalu. Sebenarnya sudah beberapa kali membuahi. Tetapi belum berhasil. Semoga yang ini nanti sukses,’’ harapnya.

Ya, urusan menangkar burung memang tidak mudah. Mati setelah menetas merupakan hal biasa baginya. Ada juga yang mati saat masih proses pengeraman. Telur-telur itu dipecahkan induknya sendiri. Biasanya karena si induk tengah stres. Kerugian karena itu tidak perlu ditanya lagi. Bahkan, selama delapan bulan pertama belum menghasilkan sama sekali. Ria mengaku baru bisa sedikit menikmati hasil penangkarannya sekitar empat bulan terakhir.

‘’Pada waktu awal-awal itu bisa dibilang untuk belajar. Istilahnya kita rugi materi. Tapi untung secara pengalaman,’’ jelasnya.

Penangkaran burung kenari miliknya memang secara otodidak. Semuanya berdasarkan pengalaman langsung. Sesekali dia bertanya pada teman sesama penangkar. Namun, tak jarang juga yang memberikan informasi palsu. Saat dipraktikkan, semua telurnya kosong alias tidak bisa menetas. Kesalahan demi kesalahan itu mulai terbayar saat ini. Dia termasuk penangkar produktif di Kota Madiun.

‘’Untuk anakan yang siap jual sementara hanya tinggal empat. Yang lainnya sudah laku terjual,’’ terangnya.

Anakan burung kenari hasil penangkarannya dijual dengan berbagai harga tergantung jenis, bentuk burung, dan lainnya. Mulai dari harga Rp 150 ribu hingga Rp 900 ribu. Bahkan, untuk anakan dari pejantan impornya bisa tembus Rp 1,5 juta. Jika diakumulasi perbulannya, Ria dapat meraup keuntungan hingga Rp 4 juta.

‘’Alhamdulillah, penghobi burung tetap eksis biarpun pandemi. Jadi tetap ada saja peminatnya,’’ pungkas Ria sembari menyebut menamai usahanya dengan Oza Canari Madiun. (dhevit/agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Don`t copy text!