Skrining HIV Warga Binaan, Dinkes Cek VCT di Lembaga Pemasyarakatan

Di Posting Oleh madiuntoday

9 Juni 2021

MADIUN – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) merupakan salah satu populasi kunci standar pelayanan minimal program HIV. Karenanya, WBP wajib dilakukan testing HIV minimal sekali dalam setahun. Petugas Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Kota Madiun kembali turun gunung melakukan VCT mobile tersebut di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Madiun, Rabu (9/6). Ribuan WBP dalam Lapas tersebut akan dilakukan voluntary counselling and testing (VCT) secara bertahap.

‘’Untuk bulan ini kami jadwalkan dua hari. Yang pertama Senin kemarin dan hari ini. Dari target 1.800 WBP sudah kami lakukan VCT sebanyak 393 dengan yang Senin kemarin,’’ kata Kepala Seksi Pengelolaan Pelayanan Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Kota Madiun Tri Wahyuning Novitasari.

Vita menyebut dari hasil pemeriksaan sementara terdapat satu WBP yang tercatat reaktif. WBP tersebut akan dilakukan diagnosis lanjutan. Pihaknya akan memberikan akses pelayanan obat antiretroviral (ARV) kepada yang bersangkutan jika diketahui positif HIV. Petugasnya juga melakukan skrining penyakit tidak menular dalam pemeriksaan tersebut. Harapannya, kondisi kesehatan WBP dapat diketahui lebih dini.

‘’Kita selalu berkoordinasi dengan pihak Lapas terkait kondisi dan temuan penyakit WBP agar segera mendapatkan pelayanan lebih lanjut,’’ ungkapnya.

Kepala Lapas Kelas 1 Madiun Asep Sutandar menyambut positif upaya Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Kota Madiun tersebut. Hal itu semakin melengkapi pelayanan kesehatan yang setiap hari dilakukan petugasnya. Asep mengaku petugas kesehatan klinik Lapas Kelas 1 Madiun juga secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan warga binaannya dengan mendatangi dari satu sel ke sel yang lain. Namun, tentu hanya pemeriksaan kesehatan awal. Nah, pemeriksaan HIV dari Dinkes tersebut tentu semakin melengkapi pelayanan kepada warga binaannya.

‘’Dengan semakin dini kita ketahui, semakin cepat pula penanganan yang bisa kita lakukan,’’ jelas Asep.

Dia menyebut sejauh ini sudah terdapat delapan warga binaan yang diketahui positif HIV dan lima lainnya terjangkit TBC. Asep menyebut terdapat perhatian khusus bagi mereka. Yakni, dengan menempatkan di sel klinik tetapi dengan tidak mengucilkan. Selain itu juga memberikan edukasi terkait hal-hal yang dapat menjadi media penularan. Seperti tidak bertukar sendok untuk TBC atau tidak bergantian menggunakan alat pencukur jenggot untuk penderita HIV. Tentu juga obat-obatan yang dibutuhkan.

‘’Prinsipnya mereka ini mendapatkan perhatian khusus tetapi tidak dikucilkan. Kita juga memberikan pemahaman bagi yang lain agar tidak mengucilkan tetapi juga tidak sampai tertular,’’ pungkasnya. (dhevit/agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Don`t copy text!