Mereka di Garis Terdepan

Di Posting Oleh madiuntoday

13 Juli 2021

Pernah 15 Pemakaman Beruntun, Sempat Tak Pulang Dua Hari Semalam

MADIUN – Kasus konfirmasi di Kota Madiun cukup tinggi belakangan ini. Tak heran, para petugas di garda terdepan juga makin berat. Salah satunya, petugas pemulasaran jenazah dengan protokol kesehatan. Maklum, tingginya kasus konfirmasi juga dibarengi dengan meningkatnya angka kematian. Apalagi, petugas pemulasaran jenazah dengan protokol kesehatan juga memakamkan jenazah yang masih berstatus suspek. Tak heran, jumlah yang dimakamkan bisa mencapai belasan dalam sehari. Seperti apa?

Adzan Maghrib bergema pertanda petang telah tiba. Sementara itu, sejumlah petugas pemulasaran sibuk memakai alat pelindung diri di area makam Kelurahan Kelun. Ya, petang itu memang tengah ada pemakaman dengan protokol kesehatan. Wajah lelah begitu terlihat pada mereka. Maklum, hari itu tugas mereka cukup berat. Pemakaman di Kelurahan Kelun merupakan yang ke sembilan di hari itu. Namun, itu bukan yang terakhir. Masih tersisa satu pemakaman lagi di Kelurahan Tawangrejo. Alhasil, sudah dapat dipastikan mereka bakal pulang malam.

‘’Hari ini ada sepuluh pemakaman. Ini yang ke sembilan. Ini lumayan banyak, tetapi kami pernah sampai 15 pemakaman secara beruntun,’’ kata Atong Suhandoko, Koordinator Tim Pemulasaran Jenazah dengan Protokol Kesehatan Kota Madiun.

Canda gurau sesekali mengemuka untuk membunuh lelah. Beberapa di antaranya ada yang memilih bersandar santai di salah satu batu nisan makam. Jenazah memang belum datang. Atong mengaku dia dan timnya bahkan pernah beristirahat di atas nisan saat menunggu jenazah. Maklum, hari sudah kelewat larut dan matapun sudah menggelayut. Kerja mereka memang tidak bisa diremehkan. Mereka sudah melakukan pemakaman sejak dari pagi dan belum selesai biarpun sudah mendekati waktu subuh hari berikutnya.

‘’Sudah mau pulang, ada kabar lagi kalau ada pemakaman. Akhirnya lanjut lagi di hari itu sampai malam,’’ terangnya.

Itu baru soal waktu. Belum kendala teknis dan alam. Atong menyebut pemakaman menjadi lebih berat saat turun hujan. Bukan hanya medan yang licin tapi juga air yang sudah masuk dalam liang lahat. Tak heran, mereka berpacu dengan waktu. Saat air terlalu banyak, harus dikeluarkan dulu. Peti jenazah akhirnya masuk. Tugas sepertinya segera beres. Namun, dugaan Atong dkk salah. Nisan di samping liat lahat malah longsor. Itu memang membantu penimbunan liang. Tetapi nisan yang turut longsor harus dikembalikan pada posisinya. Pun, itu tidak mudah. Selain berat, area yang berlumpur dan becek menjadi kendala tersendiri.

‘’Kami harus melakukan itu dengan memakai baju hazmat. Pasti gerah dan keringat seperti diperas,’’ jelas relawan BPBD Kota Madiun tersebut.

Karenanya, Atong berpesan kepada masyarakat untuk selalu disiplin protokol kesehatan. Sebab, Covid-19 ada dan berbahaya. Sudah ratusan yang meninggal. Pandemi, lanjutnya, sudah berjalan setahun lebih. Namun, tugasnya bersama teman-teman di tim pemulasaran jenazah dengan protokol kesehatan tidak malah semakin berkurang. Tetapi malah semakin berat belakangan ini.
‘’Kalau masyarakat disiplin protokol kesehatan, penularan semakin ditekan. Artinya, yang sakit juga sedikit dan yang meninggal karena Covid-19 semakin berkurang. Masyarakat disiplin, secara tidak langsung meringankan tugas kami,’’ pungkasnya. (farid/iko/agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Serahkan BRS, Kepala BPS: IPM Kota Madiun Naik 0,42 Poin

Serahkan BRS, Kepala BPS: IPM Kota Madiun Naik 0,42 Poin

MADIUN – Indek Pembangunan Manusia (IPM) Kota Madiun masih cukup tinggi di Jawa Timur. IPM Kota Pendekar masih bertengger di tiga teratas. Pun, tercatat ada peningkatan 0,42 poin. IPM di angka 81,25 saat ini. Sementara IPM 2020 di angka 80,83. Hasil penghitungan...

Don`t copy text!