Satu Dasawarsa Jaga Tradisi, Ribuan Ketupat Buatan Totok Ludes Dalam Sehari

Di Posting Oleh madiuntoday

6 Mei 2022

MADIUN – Kepulan asap membumbung dari tungku di rumah Totok Priyanto. Dengan cekatan pria berusia 40 tahun itu mengangkat ketupat yang telah matang isinya. Oleh Totok, ketupat yang sudah matang itu lantas ditempatkan di satu wadah. “Dari malam takbir sudah banyak pembeli,” ujar warga Jalan Tapas Sari, Manisrejo, itu.

Bagi yang awam, ketupat merupakan hidangan khas sejumlah negara di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Bahan dasarnya beras dan dibungkus anyaman daun kelapa muda atau janur. Ketupat umum disajikan mulai perayaan Lebaran sampai tujuh hari berikutnya.

Totok memproduksi ketupat mulai 2009. Sebiji ketupat dihargai Rp 2 ribu. Selain ketupat, Totok juga memproduksi lontong, lepet, serta masakan yang biasa disantap bersama ketupat seperti lodeh atau opor. Sebenarnya di Jalan Tapas Sari, pengusaha ketupat tak hanya Totok seorang. “Penjualan pasti naik setiap Lebaran,” terangnya.

Siapa sangka, dalam sehari Totok mampu memproduksi hingga dua ribu ketupat. Kata Totok, dia konsisten memproduksi ketupat untuk menjaga tradisi, sekaligus memanfaatkan momentum untuk mendulang cuan. “Pembeli dari warga sekitar. Tapi ada juga yang dari luar kota,” tuturnya.

Lebih lanjut, Totok mengatakan bahwa produksi di dapurnya tak berhenti sejak malam takbir sampai H+7 Lebaran. Padahal, waktu pembuatan ketupat tidaklah sebentar. Setiap hari, dia butuh waktu tujuh jam. Itu karena proses pembakarannya masih menggunakan kayu. “Tantangannya selama Lebaran jarang pernah tidur, karena satu minggu sampai H+7 masak terus,” ujarnya.
(Nanda/kus/madiuntoday)

Artikel Terkait