Urai Sampah Pasar, Budidaya Magot Jadi Solusi Ramah Lingkungan
MADIUN – Upaya mengurai persoalan sampah terus dilakukan dengan cara yang semakin inovatif. Salah satunya melalui budidaya magot yang kini mulai dikembangkan sebagai solusi pengelolaan sampah organik sekaligus penggerak ekonomi.
Budidaya magot sejatinya bukan hal baru. Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Rakyat, Puguh Supardianto, mengungkapkan bahwa upaya tersebut sudah pernah dicoba sejak 2022. Namun, saat itu hasilnya belum optimal.
“Kita sudah pernah mencoba di 2022, tapi belum berhasil. Kemudian kami diajak Pak Wali Kota studi ke Bandung melihat pengolahan sampah di sana. Ada komitmen kuat pemerintah menuju zero waste. Dari situ, di 2025 kami mulai kembali membangkitkan budidaya magot di Pasar Besar Madiun ini,” terang Puguh, Senin (19/1).
Program ini dijalankan secara swadaya bersama petugas kebersihan yang tergabung dalam program Projasih. Budidaya magot dipilih setelah melalui proses analisis dan pembelajaran karena dinilai paling efektif mengurai sampah organik, sekaligus memiliki nilai ekonomi.
“Magot mampu mengurai sampah organik dengan cepat dan hasilnya bisa dimanfaatkan, misalnya untuk pakan ternak dan ikan,” ujarnya.
Proses budidaya dimulai dari pembelian bibit magot. Para petugas kemudian belajar membesarkan magot dari fase bayi hingga menjadi pupa, lalu berkembang menjadi serangga, lalat, dan kembali bertelur. Siklus ini terus berulang. Dengan perawatan dan pemberian pakan rutin, dalam waktu satu hingga dua bulan magot sudah bisa dimanfaatkan.
Hasilnya, magot digunakan untuk mendukung dua kolam lele yang ada di pasar. Program ini dikerjakan oleh petugas Projasih di sela-sela jam kerja mereka. Dari sampah yang sebelumnya tak bernilai, kini mampu menghasilkan rupiah.
Saat ini, pengelola juga tengah belajar membuat pelet campuran berbahan magot, sayur, dedak, atau katul, khususnya ketika terjadi overload sampah. “Harapannya, sampah di pasar bisa langsung dimanfaatkan dan diselesaikan di pasar,” jelas Puguh.
Manfaat magot tidak berhenti di situ. Selain bisa dijual dalam kondisi segar maupun kering, sisa pakan magot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Selongsong pupa pun bisa diolah menjadi pupuk. Seluruh bagian memiliki nilai guna.
Ke depan, pengelolaan sampah ini diharapkan bisa diterapkan di seluruh pasar. Dari total 17 pasar rakyat, akan dibentuk satuan tugas di masing-masing pasar untuk menangani sampah organik berbasis potensi ekonomi.
“Target kami, sampah organik pasar tidak lagi menjadi masalah. Tapi memang perlu proses belajar,” pungkasnya.
(dspp/kus/madiuntoday)