Fasilitasi Peningkatan Pembauran Kebangsaan, Wali Kota: Kota Madiun Harus Jadi Contoh Kerukunan



MADIUN – Kota Madiun kota yang majemuk. Kota dengan luas 33 kilometer persegi ini setidaknya dihuni lebih dari 20 suku dan etnis. Biarpun begitu, Kota Madiun tetap aman, nyaman, dan kondusif. Hal itu tak terlepas dari sikap toleransi masyarakat yang tinggi. Selain itu, tentu saja peran Pemerintah Kota Madiun yang selalu memberikan perhatian dan pemahaman kepada masyarakat. 


‘’Masyarakat Kota Madiun itu hebat. Biarpun banyak suku dan etnis, masyarakatnya tetap bisa rukun, saling menghormati dan menghargai,’’ kata Wali Kota Madiun, Maidi saat membuka Fasilitasi Peningkatan Pembauran Kebangsaan Kota Madiun di gedung Diklat, Kamis (8/9).


Pertemuan dengan tema penguatan pembauran kebangsaan dalam merajut persatuan dan kesatuan di Kota Pendekar itu diikuti perwakilan sejumlah suku dan etnis yang bertempat tinggal di Kota Madiun. Wali Kota Maidi berharap toleransi yang sudah terjalin baik itu untuk selalu ditingkatkan. Kota Madiun, lanjutnya, harus menjadi percontohan daerah lain. Baik secara sikap, tingkah laku, ucapan, maupun terkait kerukunan dan toleransi. 


‘’Kota ini harus menarik biar orang datang. Masyarakat harus bisa memberikan suasana yang menyenangkan agar mereka kerasan,’’ ungkapnya. 


Kehadiran wisatawan tersebut penting untuk peningkatan perekonomian Kota Madiun. Sebab, Kota Madiun tidak banyak memiliki sumber daya alam. Karenanya mengandalkan jasa dan perdagangan. Kedua sektor tersebut akan optimal jika banyak pengunjung yang datang. Wali kota berharap keberagaman penduduk Kota Madiun bukan jalan menuju perpecahan. Sebaliknya, perbedaan merupakan potensi aset luar biasa. 


‘’Perbedaan jangan jadi penyebab kehancuran. Tetapi dari perbedaan ini malah bisa saling menguatkan karena saling mengisi kekurangan,’’ jelasnya. 


Wali kota tak lupa meminta saran dan masukan. Hal itu penting untuk kemajuan kota ke depan. Apalagi, saran dan masukan dari suku dan etnis pendatang. Kota Madiun setidaknya dihuni dari suku Jawa, Minangkabau, Flores, Bali, Ambon, Nias, Palembang, Madura, Sunda, Karo, Makassar, Ternate, Dayak, Palu, Timor, Papua, Batak, Toba, Mentawai, dan Toraja. Selain itu, Kota Madiun juga dihuni etnis Arab dan Tionghoa. (ws hendro/agi/diskominfo)




// Initialise Carousel const mainCarousel = new Carousel(document.querySelector("#mainCarousel"), { Dots: false, }); // Thumbnails const thumbCarousel = new Carousel(document.querySelector("#thumbCarousel"), { Sync: { target: mainCarousel, friction: 0, }, Dots: false, Navigation: false, center: true, slidesPerPage: 1, infinite: false, }); // Customize Fancybox Fancybox.bind('[data-fancybox="gallery"]', { Carousel: { on: { change: (that) => { mainCarousel.slideTo(mainCarousel.findPageForSlide(that.page), { friction: 0, }); }, }, }, });