Jangan Asal Sebar Informasi, Teliti Dulu Sebelum Berbagi




MADIUN – Sebaran hoax enam kali lebih cepat daripada informasi yang benar. Sementara, dibutuhkan waktu sekitar 4-6 jam untuk mengecek fakta informasi. Ditambah lagi, panjangnya penjelasan fakta membuat orang semakin malas membaca. Akibatnya, korban hoax terus bertambah.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Relawan Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Surabaya Raya, Dr. Fitria Widiyani Roosinda saat menjadi narasumber pelatihan Metode Prebunking untuk Penginderaan Hoaks di Bakorwil I Madiun, Kamis (29/2).

‘’Bahkan, tak jarang orang yang berusaha mengingatkan penyebar hoax justru dimusuhi dan berujung pasrah saat mengetahui hoax banyak tersebar,’’ ujarnya.

Karenanya, diperlukan upaya-upaya prefentif untuk menghindarkan diri dari pengaruh berita hoax. Serta, mencegah informasi palsu itu beredar lebih luas. Adapun sejumlah tips yang dapat dilakukan antara lain:

1. Hati-hati dengan judul provokatif
Judul yang sensasional dan cenderung provokatif bisa menjadi salah satu indikasi berita hoax. Untuk itu, cari referensi sumber berita lain atau situs resmi dan bandingkan isinya.

2. Cermati alamat situs
Menurut catatan Dewan Pers, terdapat sekitar 43 ribu situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, tak sampai 300 portal yang terverifikasi sebagai situs resmi. Artinya, ada puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu dan mesti diwaspadai.

3. Periksa fakta
Perhatikan sumber berita berasal. Pastikan informasi berasal dari institusi resmi. Saat ini terdapat situs yang memudahkan masyarakat untuk mengecek berita fakta atau hoax. Salah satunya, s.id/cekhoaks. ‘’Melalui situs ini, masyarakat tidak hanya bisa memantau berita hoax, tapi juga melaporkannya ke Mafindo dan Kominfo,’’ jelas Fitria.

4. Cek keaslian foto
Di era digital seperti saat ini, tidak hanya konten berupa teks yang dapat dimanipulasi. Tetapi juga foto dan video. Manfaatkan drag and drop kolom pencarian Google Images. Mesin pencari akan menampilkan gambar serupa dari internet sehingga dapat dibandingkan.

5. Gunakan akun media sosial dengan bijak
Hoax tidak hanya sekadar berita palsu. Tapi juga, berisi misinformasi dan disinformasi. Seperti, satire/parodi, konten yang menyesatkan, konten tiruan, konten palsu, koneksi yang salah, konteks yang salah, dan konten yang dimanipulasi. Maka, dalam bermedia sosial pastikan untuk periksa profil akun pengguna, jumlah pengikut, dan interaksi sebelum mempercayai informasi yang mereka bagikan. (Rams/irs/madiuntoday)