Biar Tradisional Teknik Penyajian Kopi Tubruk Punya Banyak Kelebihan, di Markas Kopi Teknik Ini Jadi Andalan




MADIUN – Ada beragam cara dalam penyajian kopi. Salah satunya, dengan teknik tubruk. Yakni, dengan cara menuangkan air panas ke dalam serbuk kopi. Sekilas cara tersebut cukup mudah dan simpel. Namun, penyajian secara tubruk nyatanya menjadi andalan sejumlah ahli dalam menikmati kopi. Salah satunya, Samekto Gumelar owner Markas Kopi Madiun.

‘’Penyajian dengan cara tubruk ini bisa dibilang cara tradisional. Tetapi menurut saya, melalui teknik tubruk ini malah bisa mengeluarkan semua rasa di kopi,’’ kata Samekto, Rabu (5/6).

Tak heran, teknik tubruk banyak digunakan untuk proses cupping kopi atau proses mengetahui aroma dan citra rasa kopi. Termasuk dirinya. Samekto juga biasa menggunakan teknik tubruk untuk mengetahui cita rasa kopi olahannya. Ya, warga di Jalan Condro Manis 47 itu memang memproduksi bubuk kopi hasil olahannya sendiri.

‘’Kalau cupping pakai teknik tubruk ini menurut saya tidak bisa dibohongi. Jadi kalau ada rasa-rasa yang mengganggu itu kita bisa tahu. Ini penting sebelum produk kita jual keluar,’’ ungkapnya.

Namun, cara pengajiannya juga harus tepat. Samekto menyebut teknik tubruk tidak sekedar memasukkan air panas ke dalam bubuk kopi dalam gelas. Air yang digunakan sebaiknya bersuhu 90 derajat. Bukan benar-benar mendidih. Itu malah bisa merusak kopi. Menuangkan airnya juga tidak langsung memenuhi gelas. Tuangan pertama hanya sebatas membasahi bubuk kopinya kemudian ditunggu sampai 30 detik. Itu untuk mengeluarkan gas-gas yang mungkin tercampur di dalam bubuk kopi. Setelahnya, baru ditambahkan air lagi sesuai selera.

‘’Ada yang bilang, kalau airnya tidak mendidih malah menjadikan perut kembung. Itu kalau kopi pabrikan dalam kemasan yang sudah banyak campuran bahan kimianya. Kalau kopi asli tidak membuat perut kembung biarpun airnya belum mendidih,’’ terangnya.

Namun, diakuinya setiap penyaji memiliki cara dan ciri khas tersendiri. Karenanya, teknik penyajian tubruk satu penyaji dengan lainnya bisa berbeda. Kopi yang disajikan pun juga tak akan sama. ‘’Di dunia perkopian memang tidak ada yang benar dan salah. Ini tergantung dari selera dan cara masing-masing,’’ ungkapnya.

Samekto memang cukup paham dunia perkopian. Maklum, dia sudah berkecimpung dalam usaha kopi sejak 2012 silam. Tak hanya menjadi pemilik, dia sekaligus sebagai baristanya. Tak ayal, Samekto cukup memahami berbagai cara penyajian kopi. Kini dia juga merambah produksi bubuk kopi. Namanya pun sama, Markas Kopi. Seluk beluk usaha kopi milik Samekto juga akan diulas dalam tayangan video di akun Youtube Pemerintah Kota Madiun. (rams/agi/madiuntoday)